
Aku hanya duduk di kursi yang biasanya diduduki Sumadi ketika dia sedang mengerjakan tugasnya.
Saat ini aku nggak tau harus apa, aku pun sedang malas untuk melihat hasil editan Sumadi. Yang aku pikirkan adalah kenapa ibu Tina seperti itu….
Handycam sedang dalam proses charging yang mungkin memerlukan waktu dua atau bisa saja tiga jam lamanya.
Dan dalam waktu dua atau tiga jam ini aku harus tinggal di kamar hotel, aku nggak bisa meninggalkan hotel dengan satu satunya alat yang penuh dengan dokumentasi kami dirumah itu ada disini.
Padahal yang lebih dan paling penting adalah aku harus ke rumah sakit untuk membawakan pakaian dan perlengkapan milik Sumadi.
Atau gini ajalah… lebih baik aku ke rumah sakit saja, aku bawa semua peralatan termasuk charger dari semua alat yang kami gunakan selama ini.
Kupersiapkan semuanya pakaian dan semua perlengkapan Sumadi, kucabut charger handycam dan aku taruh di tas yang satunya.
Dua buah tas sudah aku siapkan, satu berisi alat perang, dan satunya berisi pakaian Sumadi. Semua sudah beres dan siap untuk ke rumah sakit.
Uughh udara di dalam kamar ini pengap dan panas……lebih baik kunyalakan AC kamar yang dari tadi masih dalam keadaan mati…
Akhirnya kamar ini sejuk juga…sialan hembusan udara dingin yang berasal dari AC seakan akan menyuruhku untuk duduk di atas tempat tidur.
Pagi menjelang siang ini tidak ada yang aku lakukan disini, aku hanya berusaha untuk berpikir apa saja yang kami lakukan sehingga kami mungkin mendapat masalah dari dua anak bu Tina yang aneh itu.
Huuaammmm… ngantuk tiba-tiba menyerang, setelah tadi berpanas panas di jalan…sekarang rasanya enak dan ngantuk dengan AC yang menyala…
Kayaknya nggak ada salahnya kalau aku istirahat sejenak, bukankah Sumadi sudah ada yang urusin di rumah sakit itu.
Kubaringkan tubuhku di tempat tidur sambil merunut apa saja yang sudah kami lakukan dan apa hubunganya dengan dua anak kembar serta dengan mbak Hera dan gek Ayu.
Aakh saat ini aku belum melihat hubungan antara tujuan kami disini dengan anak kembar yang aneh dan dua mbak mbak yang akan membantu kami.
Ada lagi tentang pak Wayan, yang ghaib itu… disini semua terjadi dengan sendirinya dan menimpa kami… tapi coba aku hubung-hubungkan dulu.
Tapi dua anak kembar dan ibunya, serta informasi dari pak supir taksi itu membuat rasa penasaran……..
*****
Lho….
Kenapa aku sedang duduk di kursi teras kamar? Bukankah tadi aku sedang tiduran di dalam kamar?
Aku berusaha berdiri, tapi kakiku mendadak seperti lumpuh, aku tidak bisa menggerakan tubuhku, tubuhku seperti terpaku di kursi teras.
Keadaan di sekitar sini gelap… kutoleh ke kiri di kursi sebelah ternyata ada sosok yang sedang duduk dan memandang ke parkiran mobil
Pak Wayan….
“Tidak usah takut” kata sosok yang ada di sebelahku sambil tersenyum dan tetap melihat ke arah parkiran mobil
__ADS_1
Pak Wayan seperti sebelumnya, dia berbahasa daerah sini, tetapi anehnya aku paham dengan yang dia katakan, dan pastinya aku nanti akan menjawab dengan bahasa daerah sini juga.
“Pak Wayan, kenapa saya ada teras hotel?”
“Iya, kamu sedang duduk bersama saya. Setelah kamu dan temanmu saya selamatkan dari amukan dan serangan wong samar yang ada di dasar jurang sungai”
“kalian aman dan selamat… tapi lihatlah. Tolehlah ke dalam apa yang sedang terjadi dengan temanmu”
Pak Wayan tetap memandang ke parkiran mobil, dia bicara tidak melihat ke arahku sama sekali.
Aku coba menggerakan tubuhku untuk melihat ke arah dalam kamar, untuk saat ini aku nggak tau sedang dalam keadaan bagaimana, kubiarkan saja aku mengikuti alur yang sedang dimainkan alam semesta untukku.
Untungnya hanya untuk menoleh saja ternyata tubuhku masih bisa digerakan….
Kutoleh ke dalam kamar, ternyata astaga….
Di dalam kamar ada dua anak kembar…..
Eh bukan dua tapi ada tiga sosok di dalam kamar, yang dua memang anak kembar yang aku tau sebagai Gusta dan Gustin, sedangkan yang satu adalah sosok tinggi besar!
Mereka bertiga membelakangi aku, sehingga aku tidak bisa melihat apa yang mereka lakukan di dalam kamar di sebelah tempat tidur Sumadi.
Mereka sedang melakukan sesuatu dengan Sumadi yang terbaring di tempat tidur!
Aku berusaha teriak untuk memperingatkan dan membangunkan Sumadi, tetapi mulutku terkunci rapat, dan sama sekali tidak bisa mengeluarkan suara!
Aku berusaha bergerak masuk ke dalam, tapi tubuhku sama sekali tidak bisa digerakan. Aku bagaikan patung di kursi teras yang menonton temanku yang mungkin sedang disiksa oleh tiga sosok itu.
Aku tidak menjawab apa yang dikatakan pak Wayan, batinku berteriak keras melihat tiga sosok yang entah sedang melakukan apa terhadap temanku Sumadi.
“Saya sudah menyelamatkan kalian dari rumah itu, dan ternyata kalian disini juga punya masalah dengan mereka yang ada di dalam kamar itu… mereka kuat dan berbahaya. Kalian salah apabila bermain api dengan mereka” kata pak Wayan
“Mereka dari Jawa, dan sangat berbahaya…”
“Saya tidak tau apa yang mereka lakukan disini. Tiga sosok itu bukan manusia, dan saat ini mereka tertarik dengan kamu dan temanmu itu”
“Saya bisa saja bantu kalian untuk menghindari dari tiga sosok dari Jawa yang sangat berbahaya itu, tetapi kalian juga harus bantu saya”
“Apa yang harus saya bantu pak Wayan!”
“Ikuti kata hatimu, ikuti pola yang ada disini, nanti kalian akan tau sendiri, saya akan katakan melalui batinmu. Yang penting sekarang kamu sudah setuju untuk membantu saya”
“Ya saya setuju untuk membantu pak”
Waduh kenapa aku terjerumus dalam masalah disini, kenapa pula dengan Gusta dan Gustin, dan apa yang mereka maui dari aku dan Sumadi?
Aku menoleh lagi ke belakang….
__ADS_1
Apakah semua ini ada hubunganya dengan lolokcicing…..
Ketika aku toleh ke kiri, ternyata pak Wayan sudah tidak ada… aku sendirian di teras hotel dengan rasa katuk eh kantuk yang luar biasa….
*****
TOK…TOK…TOK….
“PAK PAINOOOO PERMISI PAAAAK!!!”
TOK..TOK..TOK….
“PAK PAINOOOOO BANGUN PAAAAK!”
Telingaku seperti mendengar suara ketukan pintu dan panggilan yang memanggil namaku…
Kubuka mataku perlahan….
Aku menatap langit-langit kamar hotel…
Aku ada di tempat tidur kamar hotel, AC hotel nyala…
“PAK PAINOOOO… PERMISI PAAAAK!”
Eh itu seperti suara Hera….yang memanggil aku adalah mbak Hera… kenapa dia ada disini?
Aku masih di tempat tidur, aku bingung dengan yang barusan aku alami.
Tadi ketemu pak Wayan di teras hotel… dan dia bicara.. Ah sudahlah, nanti saja aku pikir lagi…
“Iya mbak Hera, sebentar mbaak”
Aku bangun dan duduk di pinggir tempat tidur, kutoleh ke tempat tidur Sumadi, disana ada dua tas ransel yang sudah siap..
Astaga… aku kan harus ada di rumah sakit!
Aku ketiduran… kulihat jam tanganku, ternyata sekarang sudah pukul empat sore.
Lama sekali aku tidur, padahal perasaan tadi hanya tidur beberapa menit saja!
“Iya mbak Hera, sebentar, saya keluar kamar” teriakku dari dalam kamar
Aku masih duduk di pinggir tempat tidur dan bingung apa yang akan aku lakukan, otakku sepertinya hang, otakku sepertinya malas untuk berpikir.
Aku berjalan menuju ke pintu kamar. Kubuka pintu kamar dengan perasaan bingung, kenapa ada mbak Hera disini.
“Pak Paino ini gimana sih, keadaan pak Sumadi sedang gawat pak…!”
__ADS_1
“Dari tadi pihak rumah sakit berusaha menelpon ponsel bapak, tapi tidak bapak angkat!” kata mbak Hera dengan nada agak marah
“Kemudian rumah sakit menelpon saya, karena nomor ponsel saya mereka catat sebagai yang mengantar kalian berdua tadi pagi pak!”