Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 63. BANTU SAYA UNTUK MASALAH RUMAH INI


__ADS_3

“Berarti sekarang kami akan makan di ruang makan yang letaknya ada di belakang ya pak Wayan… dan ada di sisi sungai?”


“Iya, kalian nikmati sarapan sambil melihat yang ada di luar itu. Pemandanganya sangat indah dari sana”


Aku masuk ke dalam rumah belakang setra, tapi yang sekarang kami masuki ini kayaknya versi ghaibnya. Tapi biarlah nggak aku tanyakan lagi bagaimana prosesnya kok bisa seperti ini, mungkin nanti pak Wayan akan menjelaskan lebih rinci lagi.


Kami ada di ruang makan yang gabung dengan ruang keluarga…


“Masyaallah….!”


Di sofa itu ada dua ekor ular yang sedang menggulung tubuhnya, mereka sepertinya sedang tidur, dua ekor ular dengan mahkota itu tidak peduli dengan kehadiranku dan Sumadi.


“Tenang saja, mereka tidak akan melukai kalian lagi, mereka tidak buas kalau kalian sopan… ayo kita sarapan” kata pak Wayan kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sekeliling meja makan


“Ayo makan dulu, pak Sumadi makan yang banyak agar bagian dalamnya lekas sembuh.. Setelah makan saya akan ajak kalian ke bawah”


“Eh pak dua ular itu yang kemarin menyerang kami berdua?”


“Iya, karena saya dan penghuni disini belum tau apa yang akan kalian lakukan disini, kami pikir kalian ini sama saja dengan orang yang biasanya kesini untuk cari ilmu atau mengusir kami”


“Ayo selesaikan makanannya, lalu kita ke bawah, karena waktu kalian disini sudah terlalu lama”


“Kapan-kapan saja kalian mampir ke rumah saya saja, jangan yang ini, tapi rumah saya yang ada di depan sana itu”


Selesai sarapan pak Wayan membangunkan dua ekor ular yang tadi sedang tidur melungker…. Kemudian dia membisikan sesuatu kepada dua ular itu.


“Ayo kita ke bawah, tapi biarkan ular itu jalan duluan ke bawah, kalian dan saya ikut di belakangnya saja”


“Mereka peliharaan leluhur saya secara turun temurun, umur mereka sudah tidak terhitung. Mereka setia dengan keturunan leluhur saya”


“Ruangan yang ada di seberang ruang keluarga ini dulu adalah kamar…  Di kamar ini dulu sering terjadi pemerkosaan, dan pernah ada juga pembunuhan disini”


“Saya tidak tau kenapa ruangan ini dulu dijadikan tempat kotor, dan sayangnya ketika terjadi pembunuhan, tidak diadakan upacara pembersihan atau pengambilan roh yang ada disini”


“Yang terjadi kemudian adalah pemilik rumah ini membuat ruang bawah tanah yang tembus ke sungai”


“Untuk bapak Sumadi dan bapak Paino ketahui, sungai yang ada disamping rumah ini dulunya bekas tempat pembuangan mayat korban perang”

__ADS_1


“Yah pokoknya tempat itu penuh dengan wong samar… ayo kita turun ke bawah agar kalian tau apa yang ada disana”


Tangga ini aku masih ingat. Tangga yang landai dan sama sekali tidak membuat orang yang turun dan naik ketakutan..


Dan saat ini tangga ini memang seperti itu keadaanya, bukan tangga yang hampir tegak lurus keadaanya. Nanti akan aku tanyakan ke pak Wayan, sebenarnya tangga ini bagaimana bentuknya.


Kami sudah ada di ruangan yang indah dengan karpet tebal dan barang yang terlihat mewah.


“Mereka membuat ruangan ini…. Ruangan yang bersebelahan dengan dasar sungai yang tadi sudah saya katakan tadi. Penuh dengan wong samar. Tetapi kenapa sekarang kok tidak ada wong samarnya?” kata pak Wayan sambil tersenyum


“Jadi begini…” lanjut pak Wayan


“Dulu ruangan ini sangat angker, karena sebagian dari penghuni sungai itu suka ada disini, suka bermain disini, suka dengan segala sesuatu yang ada disini”


“Tempat ini jadi mengerikan, dan sering orang yang datang ke sini kesurupan, dan selalu menyakiti dirinya sendiri”


“Saya tidak tau bagaimana, tiba-tiba datang dukun dari jawa ke sini… ketika itu saya merasa ada yang tidak beres, kenapa harus mendatangkan orang pintar dari jawa, kenapa tidak dari sini saja”


“Eh bukan…..bukan mendatangkan orang dari jawa, tapi mendatangkan orang asal Jawa yang sudah lama tinggal di pulau ini”


“Kemudian dibangunlah ruangan yang persis sama dengan yang ada disini, hanya saja di ruangan itu dipasang semacam pagar dan perangkap untuk wong samar yang ada di sungai”


“Saya tidak tau alasan yang jelas, tetapi semenjak ada ruangan itu, ruangan yang ini dan yang disebelah sana tidak pernah dijamah oleh penghuni dasar sungai”


“Tetapi jangan salah sangka, ruangan ini merupakan tempat untuk mencari korban… dan rata rata korban nyawa yang ada disini akan hilang dan tidak akan ditemukan jasadnya”


“Siapa yang mencari korban nyawa itu pak” tanya Sumadi


“Dukun yang mereka bawa, yang orang jawa itu, dia memang memberikan bantuan bagi pemilik rumah ini, tetapi dia selalu minta korban nyawa. Dan itu yang terjadi dengan kalian berdua”


“Saya selamatkan kalian melalui lubang yang ada dibawah tanah itu…”


“Lubang itu tempat untuk membuang jasad dari nyawa yang diambil, kemudian di dasar sungai itu jasad yang sudah dibuang akan disembunyikan wong samar, dan akan mereka nikmati hingga habis”


“Raga kasar kalian waktu itu turun ke sana dan kalian dilindungi oleh dua ular saya hingga kalian ada di dekat pengisian minyak itu”


“Sebenarnya rumah dibawah ini tidak hanya ada dua ruangan saja, tetapi masih ada beberapa ruangan yang berupa kamar-kamar”

__ADS_1


“Kalian bisa kesana asalkan pada siang hari saja… karena siang hari ruangan yang di sebelah itu kosong, wong samar sembunyi di celah tebing sungai sambil menunggu bangkai binatang atau sesekali abu jenazah sisa ngaben yang dibuang ke sungai itu”


“Tapi apa sebelumnya juga seperti ini pak, maksud saya ruangan ini yang ada di sebelah itu tidak bisa dipakai untuk menginap?” tanya Sumadi


“Tentu bisa dipakai untuk menginap, tapi pemilik rumah ini tidak memberitahu bahwa ruangan ini sebenarnya jebakan wong samar agar tidak mengganggu penyewa rumah ini”


“Tetapi tetap saja setiap tiga kali tamu asing yang menginap disini, selanjutnya satu tamu akan hilang begitu saja”


“Sekarang ada yang akan saya bicarakan dengan kalian berdua… ayo kita naik ke atas saja, kita bicara di ruang tengah agar santai”


Kami kembali ke ruang tengah bersama dua ular peliharaan pak Wayan… ruang tengan yang gabung dengan tempat makan ini sudah bersih dari sisa makanan.


“Eh jangan disini, lebih baik ke bale saja.. Kita keluar dari rumah ini dan menuju ke tempat yang sebelumnya kalian bertemu dengan saya”


*****


“Jadi begini, pemilik rumah itu ingin menghancurkan tempat tinggal saya, karena dianggapnya tempat tinggal saya ini menyebabkan rumah sewa itu tidak laku dengan berbagai alasan lah”


“Kemudian pemilik rumah ini akan membangun rumah yang lebih besar disini, padahal disini merupakan tempat leluhur saya turun temurun berada, di merajan itu sudah ratusan keturunan yang ada disana”


“Kalau pun pemilik rumah ini tidak bisa menghancurkan rumah saya, dia tetap akan membangun vila atau apalah disini yang sangat mengganggu kami yang tinggal disini”


“Pak Sumadi dan pak Paino tau kan bagaimana kelakuan wisatawan asing dengan budaya mereka yang dari luar itu”


“Sebenarnya saya bisa usir mereka, saya bisa kerjasama dengan wong samar yang ada di dasar sungai. Tapi pasti akan terjadi peperangan. Intinya saya hidup disini hanya menjaga merajan leluhur ini tetap pada tempatnya saja”


“Kami sebagai wong samar juga ingin hidup tenang, sama seperti kalian juga”


“Sekarang kalian pulanglah, karena ada yang ingin bertemu kalian….kapan -kapan kalian datang ke sini lagi”


Aku tiba-tiba ngantuk yang amat sangat…


*****


“Selamat pagi.. Waktunya pemeriksaan pak Sumadi…” dua orang suster sudah ada di sebelah Sumadi


Aku tentu saja kaget dengan kejadian yang tiba-tiba ini… aku duduk di pinggir tempat tidur sambil melihat Sumadi yang akan diperiksa tekanan darahnya.

__ADS_1


Huuff ternyata aku tadi itu bermimpi… tapi mimpi itu rasanya aneh, perutku rasanya kenyang sekali”


__ADS_2