Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 61. SUMADI SEMBUH?


__ADS_3

“Mbak Hera… itu Sumadi udah bisa ketawa dan udah bisa duduk di ranjang pasien?”


“Iya pak Paino, tadi dokter yang mengoperasi pak Sumadi datang untuk visite lagi, dia heran dengan perkembangan pak Sumadi yang begitu pesat”


“Di gimana keadaanmu?”


“Yang penting udah nggak sesak nafas lagi No, tinggal di bagian ini masih sakit” Sumadi menunjuk ke bagian yang masih diperban


“Eh mbak Hera dan gek Ayu, terima kasih sudah nunggu Sumadi, eh ayo saya antar ke parkiran kalau mau pulang”


“Di tunggu sik ya, aku mau antar mbak-mbak ini ke parkiran motor”


Ada apa dengan Sumadi, bagaimana dia bisa sembuh secepat ini apakah ada campur tangan pak Wayan?. Aku yakin memang ada campur tangan dari pak Wayan.


“Mbak Hera.. gimana itu Sumadi kok tiba-tiba bisa duduk dan ketawa gitu?”


“Hera nggak bisa ngomong pak Paino, dari tadi pekak (kakek) itu selalu ada di sebelah pak Sumadi, Hera dan Gek Ayu cuma diam dan pura-pura nggak liat saja pak”


“Kayaknya pekak tadi itu lagi ngobatin pak Sumadi ya Hera?” kata gek Ayu


“Hera nggak liat gek, sengaja Hera nggak mau lihat, dari pada ada apa-apa dengan kita”


“Tadi dokter yang operasi pak Sumadi sampai kaget, dia sampai lihat kami berdua. Tapi kami diam saja pak, anggaplah kita tidak tau apa-apa tentang pak Sumadi” kata gek Ayu


“Ya sudah gek Ayu dan mbak Hera… eh terima kasih banyak atas bantuannya… oh iya, tadi saya tidak ketemu sama ibu dari dua anak yang mengerikan itu.”


“Warungnya nggak buka.. Jadi kami makan di tempat lain”


Hera dan gek Ayu mendengarkan ceritaku dengan serius, hingga sampai pada cerita dua anak yang tiba-tiba ada di dalam mobil ketika aku dan pak Putu ada di spbu, kedua perempuan itu menyipitkan matanya.


“Setelah ini bapak mandi bersih ya, mandi besar kalau istilah orang islam pak” kata gek Ayu


“Pakaian yang bapak pakai ini jangan dipakai dan jangan ditaruh di dalam kamarnya pak Sumadi”


“Lho tadi kan saya sudah masuk ke kamar Sumadi gek ?”


“Nggak papa pak, tadi kan cuma sebentar pak, nanti setelah ini jangan pakai pakaian ini, dan mandi besar ya pak….”


“Pokoknya masuk kamar langsung mandi pak. Jangan dekat dengan pak Sumadi sebelum bapak mandi besar ya pak” kata gek Ayu


“ Sekujur tubuh pak Paino banyak lendirnya. Baunya sangat busuk…kayaknya itu lendir dari mayat yang sudah membusuk” tambah Hera


“Besok pagi kami kesini, Hera bawakan nasi bungkus buat sarapan pak Paino”


“Ok mbak, terima kasih banyak ya….”


Aku kembali ke kamar setelah kedua perempuan itu pulang ke rumahnya, terus terang aku merasa terbantukan dengan kehadiran mbak Hera dan gek Ayu.


Kulihat Sumadi berbaring di ranjang Pasien. Lampu yang ada di atas Sumadi tidak nyala. Perasaan tadi lampu yang diatas Sumadi itu nyala ketika ada mbak Hera dan gek Ayu.


Atau mungkin tadi ada suster yang masuk untuk memeriksa kondisi Sumadi, kemudian mematikan lampu yang diatas ranjang Sumadi


“Di, gimana keadaanmu…?”

__ADS_1


“Sudah jauh lebih baik No….. eh aku ngantuk No, tak tidur dulu ya” jawab Sumadi, tapi dengan suara pelan dan lemah


“Iya tidur sana Di, aku juga mau mandi, di luar sana meskipun malam rasanya panas dan gerah. Badan lengket sekali rasanya”


“Jelas lengket No, wong banyak lendirnya hehehe” jawab Sumadi dengan suara keras


Ha... !!!


Bagaimana Sumadi tau apa yang ada di tubuhku, kenapa omongan Sumadi sama dengan yang diomongkan mbak Hera dan gek Ayu…


Kenapa suara Sumadi begitu keras…


“Di… barusan kamu ngomong apa?”


“Di…. tadi katamu ada lendir, lendir apa Di?”


“Di…. Sumadiiiii”


Tidak ada jawaban, sialan dia sudah tidur, tapi tadi dia kan jawab omonganku….


Aku tidak mendekati Sumadi karena aku ingat kata-kata gek Ayu tadi, jadi aku  langsung masuk kamar mandi setelah sebelumnya kuambil pakaian yang ada di tas ranselku..


Setelah mandi pakaian yang tadi aku gunakan, kubungkus dengan tas plastik kemudian kubuang di tong sampai depan kamar.


Kuhampiri Sumadi yang masih tidur, suara ngorok kadang terdengar, kelihatannya dia tidur dengan nyenyak.


Malam ini aku harus laporan ke lolokcicing tentang keadaan Sumadi, aku katakan saja bahwa masih perlu waktu untuk pemulihan Sumadi.


Tapi rasanya malas sekali untuk melaporkan ke lolokcicing, setelah tadi mandi rasanya aku semakin ngantuk saja.


Kulihat jam tangan, waktu sudah menunjukan pukul 22.15 malam. Suasana di sini sepi, hanya ada suara pelan hembusan indoor Ac yang ada di ujung, aku menjadi sangat ngantuk.


*****


Samar-samar aku mendengar suara ketikan di keyboard laptop….


Dalam keadaan setengah sadar kubuka mataku…..


Tapi rasanya ngantuk sekali, hanya saja aku paksakan untuk membuka mata separuh saja karena aku penasaran dengan suara ketikan keyboard laptop.


“Lho Di, kamu ngapain…?”


“Bikin laporan untuk lolokcicing No. udah kamu tidur saja No, aku nggak papa kok”


“Ya shudah Di”


kulanjutkan tidurku…..kupejamkan mataku…


“Permisi… “


Aku dengar orang sedang masuk setelah pintu kamar terbuka, suara langkah kaki dua orang masuk ke dalam kamar.


Dalam keadaan setengah sadar aku terbangun dan duduk di sisi tempat tidur… rasanya masih ngantuk sekali.

__ADS_1


“Permisi pak, mau pemeriksaan rutin” kata suster yang mendekati Sumadi


“Iya suster….huuaaaammh”


“Eh pak pak Paino, tolong bangunkan pak Sumadi dulu, kami mau periksa tekanan darah dan ganti kantong infus sekalian mau suntik obat penghilang rasa sakit”


“Eh dari tadi bukannya Sumadi sudah bangun sus… dari barusan dia sempat bikin laporan di laptopnya”


“Tidak pak Paino… pak Sumadi sedang tidur pulas, ini saya sedang bangunkan tapi beliau belum bangun juga pak”


Rasa kantuk yang tadi menyerang sekarang hilang sama sekali!


Bukannya tadi Sumadi sempat bikin laporan dengan mengetik di laptop bututnya itu!


“Eh iya sus, sebentar saya bangunkan Sumadi sus”


Berapa kali aku goyangkan lengan dan kupanggil nama Sumadi tapi dia masih saja ngorok dengan tenangnya… tapi setelah aku panggil dengan agak keras, dia baru buka matanya.


“Eh apa Noooo, aku ngantuk sekali”


“Heh.. ini ada suster mau periksa kamu, ayo bangun sek rek”


“Oh…..iya sus maaf, saya ngantuk sekali soalnya”


“Aduuuuh, tapi saya tidak bisa duduk sus.. Rasanya sakit sekali”


“Jangan dipaksa untuk duduk dulu pak… nanti setelah dua hari baru latihan duduk” jawab suster yang sedang memegang tangan Sumadi


Aku minggir dan agak menjauh ketika dua suster itu sedang memeriksa tekanan darah Sumadi, mengganti kantong infus dan menyuntikkan obat penghilang rasa sakit melalui jarum infus yang ada di tangan Sumadi.


Tidak ada tiga menit kedua suster itu menyelesaikan pekerjaanya dan pamit keluar kamar…


Suster itu berpesan agar jangan duduk atau mengejan dulu. Kalau mau buang air besar harus pelan-pelan jalan ke kamar mandinya


Sumadi masih tiduran di ranjang pasien sambil meraba perban yang ada di bagian rusuk kirinya.


“Gimana Di, masih sakit?”


“Iya No, buat duduk rasanya masih sakit, tapi nanti ketika obat penghilang rasa sakit ini masuk, rasanya enak, dan ngantuk No”


“Di, dari tadi kamu tidur apa gimana?”


“Hah pertanyaanmu gak nggenah No, aku dari tadi ya tidur lah, ngantuk sekali No”


“Oh gitu ya Di, ya wis lah…. Lanjut tidur Di… aku mau bikin kopi dulu”


Tidak ada sahutan dari Sumadi, ternyata dia melanjutkan tidurnya lagi.


Aneh sekali, kalau dari tadi Sumadi tidur, lalu siapa yang tadi sedang mengetik di laptopnya Sumadi. Eh coba aku lihat laptop Sumadi sih…


Aku duduk di tempat tidur dan memperhatikan ranjang pasien tempat Sumadi sedang ngorok dengan meja dimana Laptop Sumadi berada..


Nggak masuk akal kalau Sumadi turun dari tempat tidur kemudian mengambil laptop yang letaknya ada di seberang tempat tidurnya. Kemudian mengetik dan mengembalikan lagi laptop itu di meja seberang ranjangnya.

__ADS_1


Kata Sumadi untuk duduk saja di masih kesakitan, apalagi turun dari ranjang dan mengambil laptop yang jaraknya sekitar dua meter dari tempat tidurnya.


__ADS_2