
“Eh tapi kalau kalian mau antar saya ke sana ayo dah, saya agak pusing ini bli”
Aku tiba-tiba pusing, aku rasa ini semua adalah jebakan, tapi apa dan siapa yang menjebak. Aku jelas tidak mungkin kembali ke tengah hutan, karena pasti mereka sudah tidak ada disana.
Tapi aku tidak mau berprasangka buruk dulu, aku tidak tau siapa yang tadi ada di dalam tubuh Gustin….
“Mari kami antar bapak ke sana….” kata pemuda yang dari tadi aku ajak bicara
“Eh malam-malam gini lewat hutan, apa kalian tidak takut dengan rangda dan celuluk?”
“Hahaha mana ada gituan disini pak, Rangda dan Celuluk tidak ada disini, penduduk desa seberang dan disini sudah biasa jalan malam hari lewat hutan itu”
“Cerita rangda dan celuluk itu hanya mitos pak, mungkin pada jaman dulu ada yang seperti itu, dan kalau pun ada, mereka tidak suka menampakan diri kepada sembarang orang”
“Oh lalau komang sentanu yang katanya ngeleak itu bagaimana bli?”
“Kalau ngelak dimanapun pasti ada pak, disini, di desa sana, pasti ada yang ngeleak”
Aku semakin bingung…jalan setapak yang sebelumnya sangat menakutkan ini ternyata biasa saja, kedua pemuda ini dengan santainya berjalan tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Setelah sekitar lima belas menit jalan seharusnya di sebelah kiri ada sebuah bangunan puri, setahuku hanya sekitar sepuluh menit jalan saja, tapi ini kayaknya sudah lebih dari lima belas menit, dan belum terlihat bangunan sama sekali.
Jauh di depanku ada bayangan orang jalan dengan membawa obor, siapa dia…
“Itu ada orang yang bawa obor, itu kakek saya yang datang dari desa seberang menjual hasil kebunnya pak” tunjuk salah satu pemuda
__ADS_1
Semakin dekat dan ternyata benar, yang berpapasan dengan kami adalah manusia, tiwas tadi aku berburuk sangka yang datang itu mahluk jadi jadian.
“Ketut, Made… kalian mau kemana, dan siapa dia?” sapa orang tua yang jalan sambil membawa pikulan kosong
“Kami mau antar bapak ini ke puri sana pekak”
“Ya sudah, hati-hati , nanti langsung pulang, jangan main ke desa sebelah, sudah larut malam ini”
“Baik Pekak….yuk kita lanjut pak” ajak pemuda yang entah bernama Ketut atau Made itu
“Itu benar kakek kalian, berani juga dia jalan di tengah hutan malam-malam gini”
“Kami sudah biasa pak, tidak ada apa-apa disini, di sini aman, penduduknya juga berkecukupan dari usaha berkebun”
“Eh Ketut dan Made. purinya apa masih jauh?”
Kenapa semua jadi aneh, desa dan hutan ini sangat aman, tidak ada hal yang ditakutkan, kemudian letak puri itu bukan sebelah kiri, ternyata agak jauh dari yang aku pernah datangi, dan letaknya ada di sebelah kanan.
Keris, ya keris pemberian pak Wayan masih ada di pinggangku, dan sama sekali tidak bergetar seperti sebelumnya.
“Itu disana itu puri Jik Darma pak, tapi malam-malam gini mana bisa bapak masuk ke sana, menurut saya besok pagi saja bapak ke sana, untuk malam ini bapak bisa menunggu di warung kami yang tadi itu pak"
“Eh kita ke sana dulu saja bli, saya mau lihat dulu siapa tau ada orang yang jaga disana”
“Ayo dah pak, tapi setahu saya di puri itu tidak ada yang jaga”
__ADS_1
Kami semakin dekat dengan puri Ajik Darma…
Dan ini adalah puri yang berbeda! Bukan puri yang pernah aku masuki sebelumnya. Yang ini jauh berbeda dengan tembok memutarnya yang tidak seberapa tinggi, tidak seperti benteng.
Aku semakin bingung, apa yang terjadi dengan diriku dan bagaimana dengan Sumadi, bu TIna, Gustin, dan mungkin juga Hera dan Ayu, kemana mereka semua.
“Saya pusing bli, lebih baik saya tunggu di warung hingga pagi hari saja”
*****
“Bapak bisa istirahat disini, ini warung keluarga saya, kalau pagi hingga malam digunakan untuk berjualan makanan ringan, rujak, dan tipat, di dalam warung itu ada tempat untuk istirahat, bapak tidur di dalam saja. Besok pagi saya akan ke sini dan bangunkan bapak”
“Bailah bli, terima kasih banyak atas bantuannya”
Dua remaja itu sudah pergi, sekarang tinggal aku sendirian disini.
Suasana disini beda dengan sebelumnya, tidak menakutkan, malah bisa dibilang nyaman,dan membuat aku ngantuk juga lama-lama.
Dimana Sumadi teman baikku, dia ada dimana, apakah dia masih di tengah hutan sana, atau apa perlu aku pergi ke tengah hutan untuk mencari sahabatku dan yang lainnya.
Keris ini, keris ini katanya adalah suami dan istri, seharusnya aku dan Sumadi berdekatan, bukan seperti ini.
Ah sudahlah, aku sudah tidak bisa berpikir lagi, otakku rasanya buntu stag meneng diem. Otakku capek untuk berpikir. Lebih baik kubiarkan dulu semuanya, semoga besok pagi semua menjadi normal.
*****
__ADS_1
Semalam aku nggak bisa tidur, dari balik dinding bambu ini aku bisa lihat keadaan di luar sudah pagi. Lebih baik aku duduk di depan saja sambil menunggu entah Made atau Ketut yang akan datang.
Ternyata masih sepi, hanya ada satu dua orang yang membawa pikulan menuju ke arah hutan, apa sebaiknya pagi ini aku jalan ke puri Jik Darma dulu, aku penasaran dengan siapa itu Jik Darma yang sebenarnya.