
Ruangan mewah bawah tanah ini memang aneh, disini tidak ada ventilasi kecuali ada kisi-kisi AC yang mirip dengan kisi-kisi di kamar hotel bintang lima yang menggunakan AC central, bukan AC split.
Kulihat dan kuperhatikan kisi-kisi yang letaknya ada di atas plafon pojokan meja makan…
“Itu dari sana Di, coba perhatian angin sejuk yang keluar dari sana” aku dan Sumadi menuju ke arah meja makan dan mendongak ke kisi-kisi yang ada di atas kami.
“Iya No, udara sejuk dan bau tanaman itu keluar dari kisi-kisi itu, eh coba kamu dengarkan suara berdengung itu No, kayaknya dari belakang tembok ini”
“Ah iya No… ada semacam mesin yang sedang dalam keadaan nyala di belakang tembok ini”
“Koyoke itu mesin yang menyedot udara dari luar dan dialirkan ke sini Di, selain sebagai oksigen untuk ruangan bawah tanah ini, udara itu juga sebagai pengharum natural ruangan Di”
Kudekatkan mulutku ke alat perekam, dan mulai mengomentari keadaan di ruang bawah tanah ini.
“Selamat sore, menurut jam yang saya lihat, sekarang saat ini pukul 15.15. Kami ada di dekat meja makan, dimana kami sedang memperhatikan dan menganalisa udara sejuk yang keluar dari kisi-kisi AC yang ada di atas plafon dekat meja makan”
“Udara yang mengalir dari kisi-kisi itu selain sangat sejuk juga mengalirkan aroma pohon dan tumbuh-tumbuhan yang serasa ada di hutan basah”
Sungguh rasanya nikmat dan menenangkan, karena saya bisa merasakan udara sejuk yang keluar dari kisi-kisi itu ditambah dengan bau tanaman dan bau kayu hutan”
“Selain itu di balik tembok ini ada suara berdengung, seperti sebuah mesin yang sedang aktif”
“Menurut analisa saya dan Sumadi, itu adalah mesin yang menyedot udara dari luar dan dialirkan ke dalam ruangan ini”
“Mesin yang juga mengalirkan oksigen ke dalam ruang bawah tanah ini”
“Tapi benar-benar luar biasa. Saya bisa merasakan udara dan suasana hutan basah dan tanah yang basah juga, apalagi dengan keadaan ruangan bawah tanah yang seperti ini, karpet yang tebal, plafon kayu dan dinding putih relief batu”
“Rasanya kami berdua tidak ingin pergi dari ruangan ini”
“Perasaan takut, dan mengerikan tentang rumah ini berangsur angsur hilang setelah kami menikmati keadaan ruang bawah tanah”
“Apa yang ada di otak saya adalah ingin sesegera mungkin duduk di sofa dan menikmati barang sejenak ruangan yang sangat sangat comfortable”
“Eh No…. coba kami ijin kepada penghuni sini, aku kok kepingin duduk di sofa itu sambil menikmati ruangan bawah tanah ini” kata Sumadi tiba-tiba
__ADS_1
“Jangan Di, kamu nggak ingat kejadian kemarin malam, aku ijin duduk di sofa atas itu, kemudian kita mengalami kejadian yang mengerikan”
“Iya sih… benar juga kamu No, tapi apa dari lubuk hatimu, kamu nggak ada rasa kepingin duduk di sofa itu, apalagi kan sekarang belum malam hari, di luar kan masih ada matahari No hehehe”
“Yo jelas kepingin Di… sebelum kita lanjut ke ruangan yang ada pintunya ini, aku kepingin menikmati disini barang sejenak lah”
Aku sebenarnya juga ingin duduk disini, tapi aku kok ragu, kalau kejadian seperti kemarin malam. Tapi ini kan masih sore hari, siapa tau nggak akan terjadi apa-apa dengan kami.
Tapi benar apa yang dikatakan Sumadi, sekarang kan masih sore hari, masak iya sih sore gini ada yang akan mengganggu kami berdua.
“Eh kita minta ijin untuk merasakan kenyamanan ruangan ini barang lima sampai sepuluh menit saja gimana DI?”
“Nah itu yang aku dari tadi inginkan No…..”
Aku akan minta ijin penghuni ghaib disini dulu, aku hanya ingin duduk dan merasakan jadi orang kaya sejenak, sepertinya gak ada masalah kalau hanya sebentar ada disini
“Permisi untuk para penghuni ghaib di ruangan ini, khususnya penghuni ghaib yang sedang berada di sofa ini. Saya minta ijin untuk duduk dan menikmati ruangan yang luar biasa ini”
“Saya ijin untuk duduk mungkin hanya sekitar lima menit saja, karena saya bukan orang kaya yang bisa menyewa rumah seperti ini, maka ada baiknya di kesempatan ini kami berdua menikmati duduk disini hanya lima menit saja”
“Dan apabila kalian penghuni ghaib disini yang tidak menyukai keinginan kami, hendaklah kalian beri tanda dengan suara atau apapun yang menandakan bahwa kalian tidak suka apabila kami duduk di sofa ini”
Aku tunggu hingga lima menit, tidak ada tanda atau sesuatu yang menyatakan penolakan, keadaan sunyi sepi dan hanya ada suara berdengung dari mesin yang ada di balik tembok dekat meja makan
Aku sebenarnya masih ragu untuk menikmati ruangan ini, tetapi sepertinya ada sesuatu yang menghipnotis aku agar kami berdua duduk dan menikmati suasana disini.
Dan anehnya otak dan tubuhku sama sekali tidak menolak untuk menikmati, bahkan perasaan dan otakku berkata ‘nikmati dan rasakan’
Perasaanku dan otakku seolah mengatakan keadaan disini aman, tidak akan ada yang mengganggu atau menyakiti aku dan Sumadi.
Dan aku yakin apa yang Sumadi rasakan itu sama dengan yang aku rasakan.
“Sudah lima menit, dan tidak ada suara apapun yang menyatakan penolakan kepada kami yang ingin merasakan duduk di sofa ini”
“Bagaimana Di?”
__ADS_1
“Go ahead No, nikmati untuk sementara, agar kamu bisa menggambarkan bagaimana rasanya duduk disini dengan keadaan ruangan yang mewah ini”
“OK, sudah lima menit, dan tidak ada tanda penolakan, sekarang saya dan teman saya Sumadi akan duduk di sofa ini dan menikmati kenyamanan yang diberikan ruangan bawah tanah ini…. Permisi”
Aku dan Sumadi yang tadinya ada di dekat meja makan, sekarang bergerak mendekati sofa yang seolah memanggil kami berdua untuk duduk dan nikmati kenyamanannya.
Pertama yang aku lakukan adalah mengelus kulit sofa yang kelihatan mahal itu.
“Saya menyentuh kulit bagian punggung sofa sebelum saya duduk di sofa ini”
“Kulit sofa ini begitu halus, empuk dan dingin. Bahan sofa ini bukan bahan kulit kelas dua atau kw atau imitasi, tapi benar-benar dari kulit yang dingin, lembut, dan halus”
“Saya bukan orang yang mahir menilai bahan baku sesuatu, tetapi kulit sofa ini berbeda dengan sofa yang pernah saya tau, bahan kulit ini mungkin sekelas dengan bahan kulit sofa yang ada di hotel bintang lima”
“Jadi meskipun saya ini hanya orang biasa yang tidak paham dengan perkulitan, tapi saya bisa merasakan perbedaan yang signifikan dari bahan baku yang murah dengan yang mahal”
Setelah meraba, memegang dan kadang sedikit mencubit sandaran sofa, kini aku akan mulai duduk di sofa ini. Yang sebelumnya posisiku ada di belakang sofa, sekarang aku dan Sumadi bergerak ke depan sofa.
“Sekarang saya akan duduk di sofa ini, permisi.. Untuk kedua kalinya saya minta ijin kepada penunggu disini untuk duduk…”
BLEEESSHHHH…..
“Luar biasa…. Ketika saya menaruh phantat saya di permukaan sofa ini.. Rasanya ada udara dari dalam sofa yang keluar secara perlahan lahan”
“Tetapi hanya sejenak, mungkin udara yang keluar dari bawah sofa ini sesuai dengan berat badan saya, karena sekarang tubuh saya sudah ditopang oleh busa dan kulit sofa yang sangat halus dan lembut”
Yang sangat mengherankan, aku sama sekali tidak merasakan adanya gangguan disini, bahkan aku merasa seolah ada di hotel berbintang lima yang nyaman dan aman.
Otakku tenang, dan rasa ketakutan serta perasaan khawatir akan sesuatu yang akan mengganggu sudah sirna… yang ada sekarang hanya perasaan ingin beristirahat sambil menikmati Sofa..
Entah apa yang aku sedang pikirkan, rasanya aku sudah lupa aku ada dimana, begitu pula dengan Sumadi, dia sudah lupa dengan tugasnya, handycam yang dia bawa sudah dia taruh disampingnya.
Sekarang yang kami sibukan itu bagaimana duduk dengan sesantai dan senyaman mungkin..
“Rasanya nikmat dan rasanya aku enggan untuk pergi dari sini….”
__ADS_1