Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 31. KASIHAN SUMADI


__ADS_3

“Aaaarrghh ….” aku menatap langit-langit kamar, Sumadi ada di sebelahku dengan wajah khawatir..


“Kamu mimpi apalagi No?”


“Eh nggak…. Nggak Di….”


“A…  aku mimpi seperti biasanya, mimpi serem tentang rumah itu lagi” sengaja aku tidak bicara tentang mimpiku yang sebenarnya


“Jam berapa ini Di?”


“Sudah setengah dua belas siang… sebentar lagi kedua anak kembar itu pasti akan datang ke sini. Mereka kan akan kirim makan siang untuk kita”


“Eh iya Di… sekarang penglihatanku sudah pulih, aku akan mandi dulu”


Nggak tau saat ini perasaanku sangat tidak menentu, aku selalu memikirkan apa yang tadi Gusta katakan tentang Sumadi, selain itu juga tentang mimpiku, dua kali mimpi tentang Sumadi yang mati.


Apakah aku harus minta bantuan Gusta, apakah dia mampu menyelamatkan Sumadi apabila apa yang ada di mimpiku itu benar terjadi.


Aku seakan bisa menebak yang saat ini ada di pikiran Sumadi… pasti tentang perkataan anak kembar itu, meskipun tubuhku hancur-hancuran, tetapi aku masih hidup, sedangkan Sumadi dikatakan sudah mati beberapa jam lalu.


Siang ini setelah mandi tidak ada pembicaraan dengan Sumadi, dia sibuk dengan laptopnya, sedangkan aku dengan sosial mediaku.


Nggak tau …saat ini aku sedang malas untuk melihat hasil tangkapan video yang kami dapat.


Pun Sumadi tidak mengajak aku untuk melihat apa yang sedang dia edit, nggak tau rasanya aku dan Sumadi ada yang berbeda.


Ketika aku sedang santai…kemudian ada ketukan pintu kamar, dan pasti itu adalah Gusta dan Gustin.


“Buka saja pintunya mas Gusta” teriak Sumadi dari meja kamar. Bukan hal yang seperti dia lakukan sebelum sebelumnya, dia tidak membukakan pintu kamar, dan dia tidak menyuruhku juga.


“Permisi pak, saya dan adik saya mau antar makan siang” kata Gusta setelah membuka pintu kamar


“Masuk mas…. Dik Gustin, ayo masuk dulu, saya kepingin ngobrol dengan kalian berdua”


“Di, kamu masih sibuk?”


“Ngobrol aja No, tanggung ini masih ada yang aku kerjakan”

__ADS_1


“Yo wis Di”


“Nah mas Gusta dan dek Gustin. Begini, kami ini kan belum selesai dengan proyek eksplorasi yang kami kerjakan, mungkin masih kurang tujuh puluh persen lagi”


“Sedangkan kalian tau kan keadaan saya dan pak Sumadi. Dan merujuk pada apa yang mas Gusta dan dek Gustin pagi tadi lihat, apakah kami mampu menyelesaikan pekerjaan kami?”


“Hanya perkiraan kalian saja, berdasarkan apa yang kami alami sebelumnya”


“Begini pak Paino….. Pertama saya dan adek saya belum tau tempat pak Paino dan pak Sumadi melakukan penelitian untuk buku bapak-bapak”


“Yang kedua, dari yang kami lihat dengan mata batin kami, tubuh tak kasat mata pak Paino ini sudah berantakan, dan bahkan pak Sumadi seperti yang saya katakan tadi pagi”


“Yang tadi pagi ikut dengan pak Paino, yang ada di dalam mata pak Paino itu hanya kecil saja, dia  tidak punya rumah atau daerah kekuasaan disana”


“Makanya dia ikut pak Paino, dan tinggal di mata pak Paino, karena bagi dia mata pak Paino itu lezat rasanya”


“Apalagi di depan rumah ada setra, dan di belakang ada sungai… dua hal itu sudah klop pak, dan yang pasti akan banyak yang mampir atau tinggal di rumah itu”


“Setra sebenarnya tempat suci, tetapi karena disana kadang ada saja orang yang ngilmu atau njajal ilmu, maka setra menjadi tempat yang menakutkan pak”


“Sungai… di sini sungai itu kata ibu dan bapak saya sangat jauh berbeda baik bentuk fisik maupun isinya. Isi dalam artian isi mahluk tak kasat mata yang mendiami di sebagian sungai itu”


Kemudian mungkin juga di rumah itu juga ada sesuatu yang kalian belum tau, sesuatu yang mungkin menakutkan dan mengerikan pak”


“Dilihat dari beberapa hal yang saya sebutkan tadi, bapak bisa simpulkan apa yang ada di rumah itu pak”


“Atau mungkin bapak bisa ajak saya dan adik saya ke sana apabila tidak keberatan pak” kata Gusta


“Enggak ah mas… Gustin gak mau ikut, dan mas juga nggak usah ikut bapak-bapak ini” kata adiknya tiba-tiba


“Dek… nggak boleh gitu” tegur kakaknya dengan rasa sayang


“Iya dek Gustin, kami tidak mau merepotkan kalian kok, saya hanya minta pendapat kalian tentang apa yang kami alami saja kok dek Gustin”


“Ya sudah mas Gusta dan dek Gustin, nanti kalau saya butuh pertanyaan, saya akan telepon atau sms atau Wa kalian berdua”


“Sekarang kalau mau pulang silahkan, oh iya ini uang pembayaran untuk makan siangnya” aku kasih mereka uang untuk makan siang yang mereka bawa.

__ADS_1


Sumadi…. dari tadi Sumadi tidak tertarik dengan pembicaraan ku bersama kedua anak kembar, dia lebih tertarik dengan yang ada di laptopnya saja.


Aku tau adik perempuan si Gusta itu tau tentang kami, tetapi dia sangat tertutup dan sangat menguasai kakaknya. Nanti aku akan Wa Gusta, aku kepingin tau apa yang sedang terjadi dengan  Sumadi.


“Di gimana, apa yang kita dapatkan dari semalam?”


“Hssh, banyak sekali No, aku tidak bisa edit, karena semua dari awal sampai akhir banyak hal yang menarik.. Coba kamu lihat sini, kamu lihat saja sendiri”


Kulihat apa yang ada di laptop Sumadi…


“Perhatikan ketika kamu suruh aku untuk shoot keadaan tempat tidur, dan semua yang ada di kamar utama No”


Video berjalan pelan, mulai ketika kami ada di SPBU pukul sembilan malam, hingga kami berjalan di sisi setrai, tidak ada yang aneh sama sekali.


Tetapi masih banyak orbs yang tertangkap kamera, tetapi hanya sebatas orbs saja, bukan sesuatu yang mengerikan. Kemudian video menayangkan keadaan di ruang tamu, tetap sama tidak ada apapun…


“Sebentar lagi perhatikan yang ada di kamar itu No”


Video sedang menayangkan ketika aku sedang membuka pintu kamar, semua nampak normal, karena pada saat itu aku sedang menyalakan senter….tetapi tidak lama aku matikan senterku


“ASTAGA!... apa itu yang menghalangi lensa handycam Di?”


“Yah mulai disini kamu akan melihat sesuatu yang terus ada dan berkepanjangan No”


“Lihat yang ada di lensa kamera itu No”


Sumadi berkata kepadaku dengan nada suara yang kayak sedang sedih, atau murung atau apalah, pokoknya cara bicaranya tidak seperti Sumadi yang biasanya… tapi nanti sajalah aku bahasnya.


Pertama yang aku lihat adalah keadaan tempat tidur yang seperti ada semacam bentuk yang samar…tetapi tiba-tiba semua menjadi hitam, lensa kamera seperti dihalangi sesuatu.


Sesuatu yang hitam… lensa kamera seperti tertutup oleh sesuatu yang hitam, bukan hitam karena keadaan di sekeliling gelap, tetapi ada yang sengaja menutup lensa kamera.


Tetapi sesuatu yang ada di lensa kamera itu tidak lama… sekitar sepuluh detik kemudian, sesuatu yang hitam itu bergerak. Bergerak dan kemudian memudar.


Tidak hanya memudar, setelah itu sesuatu yang hitam itu bergerak cepat kekiri dan kekanan… dan kemudian menghilang


Ketika sesuatu yang hitam itu menghilang, kemudian handycam itu menyorot ke arah meja rias yang ada disana.

__ADS_1


“Perhatikan sebelum ada sesuatu yang tadi hitam itu No, sesuai dengan suaramu…. kamu suruh aku shoot tempat tidur kan, nah sesuatu yang hitam menghalangi lensa itu ketika aku sedang shoot tempat tidur!”


“Kita akan lihat apa yang menutup lensa handycam yang aku bawa itu No….”


__ADS_2