
Sekilas aku bisa lihat Sumadi sedang tidur, dia menutup matanya, hanya kadang -kadang dia membuka mata ketika suster itu memeriksa tekanan darahnya.
Setelah selesai dengan pemeriksaan tekanan darah, suster kemudian mengganti perban Sumadi, tetapi tiba-tiba dua suster itu terkejut…
“Pak Paino, coba kesini sebentar pak,” kata suster yang satu
“Ini pak, luka pak Sumadi bagaimana bisa sembuh total tanpa ada bekasnya sama sekali… apa yang terjadi disini pak?”
“Waduh saya tidak tau sus, saya tadi kan sedang tidur ketika suster datang kesini, bahkan tadi malam kan juga ada suster yang datang untuk memeriksa Sumadi”
“Iya pak, akan kami bicarakan dengan dokter dulu tentang perkembangan pak Sumadi…”
“Bukanya pagi ini dokter masih ada di rumahnya sus?”
“Akan kami call pak, rumah dokter tidak jauh dari sini kok pak” jawab suster yang satunya
Kedua suster itu keluar dari ruangan, aku dekati Sumadi yang masih berbaring dan memejamkan mata…
Kuperhatikan dengan seksama temanku yang menderita ini…
“Hehehe kamu mau apa No?,” kata Sumadi tiba-tiba sambil membuka matanya
“Jangkrek Di!... bikin kaget aja cok!...”
“Kamu tadi pura-pura tidur ta?”
“Iya No, aku udah sehat kok…. Lukaku sudah sembuh total ini”
“Kamu kok bisa tau lukamu sudah sembuh total Di?”
“Lha tadi kan kita ada di rumah pak Wayan, dia bilang kan aku sudah sembuh, mosok kamu lupa No?”
“T..tadi itu bukan mimpi Di?”
“Nggaklah No, tadi kita ada di rumah pak Wayan beneran”
“Sekarang aku jauh lebih baik daripada sebelumnya No”
“Rusukku sudah tidak sakit lagi, aku sudah balik seperti sebelum dibuat sakit sama dua anak kembar dan satu sosok tinggi besar itu,” kata Sumadi yang masih dalam keadaan berbaring
__ADS_1
“Arrgh bantu aku duduk No, dari tadi tidur terus rasanya kaku badan ini”
“Lebih baik jangan dulu Di, sebentar lagi suster itu datang sama dokter… kamu tidur dulu aja, nanti setelah mereka pergi baru kamu duduk hehehe”
Ternyata aku tadi tidak bermimpi, ternyata aku dan Sumadi memang ada di rumah pak Wayan, dan sedang mendengarkan apa yang pak Wayan omongkan.
Sekarang tinggal aku dan Sumadi yang harus membicarakan apa yang pak Wayan minta tadi.
“Gimana No. tadi yang dibicarakan pak Wayan?”
“Aku juga bingung Di, apakah benar rumah itu milik dari lolokcicing, dan apakah lolokcicing menyuruh kita kesana untuk sebuah tujuan?”
“Kamu ingat kan kata petugas SPBU itu Di, rumah dan SPBU adalah milik keluarga besar dari Anak Agung siapa gitu”
“Anak Agung Gede Surya Pertama kalau nggak salah No”
“Nah iya itu… terus apa yang akan kita lakukan Di?”
“kita ada disini gratis Di, bahkan kamu bisa ada di ruangan VIP ini juga dia yang bayarin?”
“Ha!... yang bener No, aku kira kamu yang bayar biaya rumah sakitku”
“Sorenya ada kabar dari mbak Hera dan gek Ayu kalau biaya rumah sakit pak Sumadi ada yang menanggung… lha itu siapa kalau bukan lolokcicing Di?”
“Sedangkan sekarang kamu bisa sembuh juga dari usaha pak Wayan… kita lolos dari serbuan setan yang ada di dasar sungai itu juga atas usaha pak Wayan yang mengerahkan dua ular raksasa bermahkota itu kan Di?”
“Iya juga No, posisi kita dilema ini No, aku bingung kita harus apa”
“Menurutku sih mudah Di, kita cari informasi tentang rumah kosong itu dulu, rumah kosong itu milik siapa… apa benar milik keluarga dari Gungde?”
“Tapi sulit Di, posisiku ketika kamu sedang sakit ini sedang diawasi oleh dua anak setan itu”
“Sik Di, dengerin ceritaku selama kamu sedang dalam keadaan sakit…”
Kuceritakan semua yang aku alami kepada Sumadi, Sumadi harus tau tentang keluarga bu Tina dan Suaminya itu. Karena sampai sekarang pun dua anak mengerikan itu masih mengamati aku.
“Hmm itu kayaknya bukan anak kembar yang jualan di dekat Hotel No”
“Perkiraanku dua anak kembar yang selalu mengamati kamu itu tubuh tak kasat mata yang sudah sedemikian tinggi ilmunya, sehingga bisa menjadi nyata seperti manusia”
__ADS_1
“Eh jangan-jangan dukun yang dimaksud pak Wayan itu dua anak kembar itu No?”
“Tidak mungkin Di, kalau dua anak itu yang menjadi dukun atas rumah itu, pasti pak Wayan akan bilang… ‘dukunnya adalah yang melukai Sumadi’.. Pasti pak Wayan bilang gitu Di”
“Tetapi tadi pagi pak Wayan kan tidak bicara apa-apa tentang siapa dukunnya itu Di, dia hanya bilang dukun itu orang jawa yang tinggal di sini”
“Iya… bener juga No”
“No. coba kamu suruh mbak Hera dan gek Ayu untuk dekati bu Tina. mungkin kalau yang dekati perempuan lebih enak, nah kita fokus ke rumah itu lagi, kita cari siapa pemilik rumah itu… bagi tugas gitu No”
“Hmm masuk akal Di, selama ini kan mbak Hera dan gek Ayu nungguin kamu kalau aku keluar, tapi masalahnya dua perempuan itu nggak bisa kalau tidak malam hari, karena mereka kan sibuk kerja Di”
“Ajak bicara dulu aja mereka berdua No.. pasti mereka akan paham kok”
“Paling sebentar lagi mereka kesini Di, biasanya mau kerja atau pulang kerja mereka berdua ke sini”
Hehehe panjang umur ternyata dua perempuan itu, baru saja aku dan Sumadi ngerasani, dua perempuan itu sudah muncul.
“Pagi pak Paino.. Gimana keadaan pak Sumadi?” tanya Hera
“Mbak Hera dan gek Ayu nggak akan percaya yang terjadi dengan Sumadi mbak… dia sudah sembuh”
Kuceritakan ketika aku dan Sumadi seperti sedang bermimpi ada di rumah pak Wayan… hingga kemudian pagi tadi ada dua suster yang kaget melihat luka Sumadi yang sudah sembuh.
“Hmm semakin menarik pak Paino.. Kasus bapak semakin rumit, karena bapak ini tidak tau siapa yang sedang dilawan, eh sekarang apa yang bisa kami berdua bantu pak?”
“Jangan mbak, kalian kan sibuk kerja”
“Kan besok jumat tanggal merah pak heheh, jadi ada tiga hari kami bisa bantu bapak”
“Waduuh besok Jumat ya mbak, eh dimana ada masjid sekitar sini mbak… saya kok kadang dengar suara adzan di sekitar sini”
“Di polda kan ada masjid pak, banyak orang pada jumatan disana juga pak” jawab Hera
“Kalian berdua liburan apa nggak ingin istirahat di rumah saja mbak Hera?”
“Justru kami nunggu liburan agar bisa bantu pak Paino dan pak Sumadi, saya dan Gek Ayu sudah nunggu libur tiga hari ini untuk bantu-bantu apa gitu pak” jawab Hera sambil tersenyum
“Baik mbak … nanti setelah dokter visite Sumadi, kita bicara disini apa yang akan kita lakukan mbak”
__ADS_1
“Atau nanti sore setelah kalian pulang kerja, kalian bisa mampir ke sini, kita bahas apa yang akan kita lakukan”