Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 67. DALAM BAHAYA


__ADS_3

“Nanti sepulang kerja kita ketemu di hotel saja mbak… sekarang kalian berangkat kerja dulu saja”


Dua perempuan baik itu pergi dari rumah sakit menuju ke tempat mereka kerja. Aku sebenarnya nggak tega juga dengan keterlibatan mereka, tapi mereka yang memaksa untuk terlibat dengan kami.


“No, kita sudah libatkan mereka lho ya, ingat mereka itu membantu kita, dan sudah seharusnya kita melindungi mereka No”


“Yah gimana lagi Di, mereka berdua yang mau ikut di alur kita, aku sudah bilang ke mereka, tapi mereka tetap ikut kita”


“Sebaiknya nanti kalau bertemu dengan pak Wayan kita bicarakan juga tentang keterlibatan dua perempuan itu Di, siapa tau pak Wayan mau bantu”


“Ya nanti  kita bicarakan juga mengenai dua perempuan itu juga No, yang harus kita pikirkan adalah sekeluar kita dari kamar ini, kita harus lebih waspada lagi No”


“Oh iya, sebenarnya aku juga kepingin tanya ke pak Wayan tentang apa yang ada di dalam diri kita Di, kenapa dua anak kembar itu mengincar kita terus”


“Benar No… itu penting juga, kita harus tau alasan mereka mengejar kita”


“Ya sudah Di, ini sudah jam delapan, aku mau urus administrasi untuk keluar dari rumah sakit dulu… kamu tunggu saja di dalam kamar”


Aku sebenarnya takut juga kalau keluar dari kamar itu, tapi hari ini Sumadi sudah diperbolehkan pulang meskipun kesembuhan Sumadi tidak masuk akal.


Aku nggak tau apa yang akan terjadi dengan kami setelah kami keluar dari rumah sakit dan kembali ke hotel. Apalagi biaya rumah sakit dan hotel ditanggung oleh lolokcicing.


Dilemma, ya memang dilemma. Tapi gimana lagi, hal ini kan bukan kesengajaan dari kami, dan aku nggak tau harus berpihak kepada siapa nantinya apabila semua mulai terbuka.


Sekarang aku ada di bagian administrasi rumah sakit yang merangkap sebagai kasir juga, disini aku hanya tanda tangan beberapa berkas saja, tidak ada biaya yang dibebankan kepada aku sama sekali.


Lolokcicing, sebenarnya dia itu siapa, dan sebegitu kayanya dia hingga semua biayaku dan Sumadi di sini dia yang nanggung semua.


“Ini semua berkas bapak bawa, tetapi invoice rumah sakit tidak kami serahkan ke bapak,” kata petugas yang jaga di bagian administrasi dan kasir


“Kenapa gitu sus… apakah akan diserahkan ke penanggung dana teman saya?”


“Betul pak, bapak hanya tanda tangan berkas untuk keluar dari rumah sakit saja”


“Sekali lagi sus. Apakah kami bisa tau siapa yang menanggung biaya rumah sakit teman saya itu?”

__ADS_1


“Maaf pak Paino, kami tidak bisa beritahu kepada bapak siapa yang menanggung semua biaya ini”


“Oh iya nanti sebelum keluar dari sini, tolong pak Sumadi kesini dulu, karena gelang yang dipakai harus dilepas dulu pak”


“Baiklah sus, terima kasih banyak”


Pagi ini lorong rumah sakit banyak orang yang berlalu lalang, baik itu dari keluarga pasien yang sedang menjenguk atau dari keluarga pasien yang sedang berurusan dengan bagian administrasi seperti aku.


*****


“Di… ayo berkemas, kita keluar dari sini sekarang, sesampai di hotel kita pikirkan apa yang akan kita lakukan lagi Di”


“Sebentar No, jangan keluar dulu, aku kok tiba-tiba merasa ada sesuatu di sekitar rumah sakit ini, seperti ada energi aneh yang sedang menuju ke arah kamar ini”


“Ada apa Di?”


“Aku nggak tau No, aku hanya bisa merasakan ada sesuatu yang akan datang ke sini… tapi sesuatu itu belum menampakan diri sama sekali”


“Kalau gitu kita pergi sekarang saja… keburu ada yang datang ke sini Di!”


Terhambat ini dalam arti, karena Sumadi akan terus awas dengan apa yang dia rasakan, jadi kita tidak bisa loos dol kayak biasanya.


Kami sudah selesai berbenah dan berkemas….


“Kita ke ruang administrasi dulu untuk membuka gelang pasien yang sedang kamu pakai itu Di, baru setelah itu kita bisa pergi dari sini”


Sumadi tidak menjawab iya atau tidak atas ajakanku untuk menuju ke ruang administrasi, yang artinya dia tidak merasakan adanya energi jahat yang akan datang kepada kita.


Tapi masak iya sih, siang-siang gini ada yang mau datang dan menyerang kami.


Kami berjalan di selasar menuju ke ruang administrasi, dan sedari tadi Sumadi selalu melihat ke belakang terus. Aku nggak mau tanya apa yang sedang dia lihat, karena aku nggak mau kalau aku ketakutan atas apa yang dikatakan Sumadi.


“No… sekitar sepuluh meter di belakang kita ada  dua anak kembar dan satu sosok yang tinggi besar…. Menurutku yang aku rasakan sekarang, sosok tinggi besar itu punya kesamaan energi dengan Gusta”


“Maksudmu yang tinggi besar itu juga Gusta gitu Di?” jawabku tanpa menoleh ke belakang

__ADS_1


“Bukan No, tapi seperti ada kesamaan elemen yang ada di dalam diri Gusta dengan sosok yang tinggi besar itu, jadi seperti kembar dengan Gusta, hanya saja beda bentuk gitu No”


“Berarti mereka itu kembar tiga, gitu Di?”


“Bukan, beda ini No… beda pokoknya”


“Sekarang kita ke mana Di?”


“Aku nggak tau No, tapi aku sedang mengikuti energi positif yang ada di sekitar sini, seperti ada yang menuntun aku untuk terus bergerak ke arah sana”


“Kamu yakin apa yang sedang kita ikuti itu tidak  menimbulkan sesuatu bagi kita?”


“Semoga tidak No… ayo cepat kita jalannya, mereka yang ada di belakang berusaha mendapatkan kita No!”


Aku tidak tau apa yang sedang dirasakan Sumadi, tetapi kini Sumadi membawa aku ke arah luar rumah sakit… dan kemudian kami menuju ke pos satpam yang ada sebelah lahan parkir sepeda motor.


Di sebelah pos satpam dan dekat tempat parkir motor ternyata ada semacam pura kecil untuk tempat sembahyang….


“Kita ke sana dulu saja No, di situ energinya positif, beda dengan yang dari tadi mengejar kita, energi mereka gelap dan kelam…”


“Kita dekat ke semacam pura itu atau masuk ke dalamnya?”


“Ngawur ae nggak masuk lah… ya dekat situ saja sudah cukup”


Di antara sepeda motor yang berjajar diparkir, kami yang membawa dua ransel besar ini berusaha mendekati semacam pura yang masih ada di halaman rumah sakit.


“Dah disini saja dulu No… aku rasa mereka tidak mau dekat dengan tempat sembahyang ini”


“Yakin kamu Di?”


“Itu buktinya mereka hanya berdiri di pintu keluar kendaraan yang menuju ke jalan raya… mereka hanya melihat kita dengan wajah marah No”


 “Di, kalau nanti kita di hotel gimana… kita apa masih dikejar mereka bertiga?”


“Ya masih No, gimana ya… pokoknya kita cari tempat yang memiliki energi positif aja, aku rasa kita akan aman di tempat yang memiliki energi positif”

__ADS_1


__ADS_2