Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 33. SAYA HERA, ASAL SAYA DARI MEDAN


__ADS_3

Aku memegang kemudi, sedangkan Sumadi sibuk mencari data diri perempuan yang ada di jok belakang dalam keadaan pingsan, dari tas kecil yang dibawa perempuan yang sedang pingsan itu.


“Eh No namanya bukan Herawati, tapi Hera Rahmadani c*k” kata Sumadi sambil melihat KTP perempuan yang sedang pingsan itu


“Lha tadi yang ada nama Herawati itu apa Di?”


“Yang tadi itu tadi dari kartu anggota taman baca… eh mungkin kayak sejenis perpustakaan gitu No”


“Wakakakak mungkin punya teman dia yang namanya Herawati No, mungkin si Hera Rahmadani ini minjem kartu perpustakaan untuk entah minjem buku apa”


Mobil langsung aku parkirkan di pintu masuk…..


“Korban kecelakaan tunggal di jalan IB pak” jawab Sumadi di bagian administrasi setelah kami masukan korban yang bernama Herawati itu ke dalam UGD


“Maaf pak. Apakah BP*S tidak berlaku untuk korban kecelakaan?”tanya Sumadi


“BP*S menanggung untuk pembiayaan kecelakaan tunggal pak” jawab petugas rumah sakit itu


Perempuan yang kemungkinan adalah mahasiswa atau pekerja dari kota Medan itu sudah mulai siuman, dia tidak terluka parah, hanya pelipis dan beberapa lecet di pergelangan tangannya saja.


Aku dan Sumadi masih menunggui perempuan yang masih tergolek di UGD, meskipun dia sudah siuman. Seorang dokter keluar mendatangi kami setelah melakukan pemeriksaan.


“Keadaan korban baik-baik saja pak. Dia pingsan mungkin karena jatuh dan terantuk trotoar, tapi untuk saat ini, hasil pemeriksaan sementara dia baik-baik saja pak” kata dokter yang memeriksa Hera


“Ayo saya antar bapak-bapak ke korban, mungkin satu dua jam ini korban diperbolehkan pulang setelah dia istirahat sebentar disini”


“Kamu saja No, aku tunggu disini aja. Kalau dia sudah sehat, kita antar dia ke tempat tinggalnya, nanti kita urus kendaraan dia”


“Iya Di, nanti aku ngomong ke perempuan itu”


Ketika aku dan dokter itu sudah ada di dalam ruang UGD. ternyata mbak yang namanya Hera itu sedang duduk di brankar pasien yang ada di ruangan UGD.


“Ibu kalau masih pusing jangan duduk dulu… ini bapak yang tadi menyelamatkan ibu dan membawa ibu ke sini” kata dokter yang bersama aku


“Mbak, saya Paino, saya yang membawa mbak ke sini, dan sepeda motor mbak aman, kami titipkan ke kantor ekspedisi yang ada di sebelah posisi mbak tadi kecelakaan tunggal”


Perempuan atau lebih enak kita sebut mbak Hera itu mengucapkan banyak terima kasih, dan dia sudah merasa sehat. Dia minta tolong untuk diantar pulang, ke rumah saudaranya, dimana dia selama ini tinggal.


*****

__ADS_1


“Panggil saja saya Hera pak, saya dari Medan, saya disini kerja di perusahaan milik saudara saya”


“Oh kami kira mbaknya ini mahasiswa…. Ternyata sudah kerja ya mbak”


“Iya pak….”


“Oh iya….. tas dan segala perlengkapannya ada disana, tetapi saya ndak  menemukan ponsel mbak Hera”


“Iya pak, tadi itu Hera dalam perjalanan pulang, karena ponsel Hera ketinggalan pak, Hera ngerasa kalau roda belakang agak kempes, tapi Hera anggap nggak akan ada masalah pak”


Perempuan yang minta dipanggil Hera ini sudah diperbolehkan pulang dengan perban yang ada di kepalanya. Tapi apabila dia merasa pusing dan mual, harus datang ke rumah sakit ini lagi.


Sekarang kami ada di mobil, kami antar Hera ke tempat dia tinggal di sini.


Perempuan yang memakai hijab ini cukup cantik untuk seusia dia. Tidak terlalu tinggi dan tidak juga terlalu berisi, pokoknya pas untuk dilihat.


Orang tua dia berasal dari jawa, tetapi semenjak dia remaja keluarga dia pindah ke Medan, tetapi ternyata nasib Hera harus terdampar di sini, karena harus bekerja di perusahaan milik saudaranya.


Dia juga katanya tinggal bersama saudaranya. Dari pada ngekost, kata dia disini mahal kalau harus ngekos, beda dengan di luar pulau ini, ngekos biayanya murah.


“Eh pak Sumadi dan pak Paino, saya bisa minta nomor ponsel bapak?” tanya Hera di kursi belakang mobil


“Mbak Hera paham bahasa jawa atau bahasa daerah sini mbak?” tanya Sumadi


“Keduanya saya paham pak, bahkan tiga bahasa daerah saya paham……saya disini sudah sekitar dua tahunan pak”


“Eh jalan yang di depan itu nanti belok ke kiri ya pak…..” kata Hera


“Oh iya mbak Hera, ini nomor telepon yang bisa dihubungi di  tempat kami menitipkan motor mbak Hera” kata Sumadi


“Iya pak terimakasih. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah menyelamatkan saya dan bawa saya ke rumah sakit”


“Bapak-bapak ini akan ada di sini sampai kapan, dan disini tinggal di hotel mana?”


“Kami belum tau ada disini sampai kapan mbak, tergantung pada selesainya pekerjaan kami dulu mbak heheheh, kami menginap di hotel C mbak”


“Besok siang saya mau ke hotel tempat bapak menginap, bapak besok siang ada di hotel kan?”


“Insyaallah siang besok kami ada di hotel mbak Hera”

__ADS_1


*****


“Hehehe sudah sore ini Di, kita lanjut jalan-jalan aja yuk, menikmati malam hari di kota ini”


“Iya No, rasanya senang dan lega juga ya bisa menyelamatkan orang kayak mbak Hera itu No”


Kami lanjutkan ke pantai K setelah mengantar Hera ke tempat dia tinggal, dia tinggal di rumah saudaranya, dan kerja ikut saudaranya juga.


Tadi sekilas aku sempat tanya bidang usaha tempat dia kerja itu, tapi dia nggak mau jawab secara spesifik. Dia hanya bilang melayani pengiriman barang ke luar negeri bagi buyer asing yang membeli barang dari sini.


“Wah kalau aku masih kerja di freight forwarding, aku bisa kerjasama dengan mbak Hera No hehehe” kata Sumadi


“Lho kamu kan sebenarnya bisa juga kerjasama dengan dia Di, ya hanya sebagai makelar aja kan”


“Wah nek cuma makelaran aku males No, full terjun mendampingi tamu dari luar untuk berburu barang yang dia cari itu lebih asik”


Nggak terasa kami sudah dekat dengan pantai K, keadaan disini sudah malam,  tidak ada matahari terbenam lagi, tapi paling tidak bisa jalan-jalan di pinggir pantai, dari pada tidak bisa sama sekali.


“Yah nggak papa ya Di, daripada sama sekali tidak kesini. Kita parkir disini saja”


Aku cari tempat yang enak untuk duduk-duduk, tempat yang agak jauh dari hiruk pikuk musik dan cafe pinggir pantai.


Malam ini aku dan Sumadi duduk di pasir pantai menghadap ke arah laut. Ada rasa tenang dan gimana gitu ketika angin laut menerpa wajahku, apalagi mendengar suara deburan ombak.


Nggak tau rasanya nyaman sekali ada disini, meskipun malam hari. Tapi mungkin enak ada disini kalau malam hari dari pada siang hari yang panas.


Kami duduk di pasir pantai, dalam keadaan yang tenang ini nggak tau aku merasa ada yang hangat di dalam tubuhku, seperti ada energi dari uluhati menuju ke segala arah.


Eh bukan energi sih. Tapi rasanya kayak ada yang bergerak gitu, hanya saja gerakan pelan dari tengah dan menyebar ke seluruh tubuhku ini rasanya agak hangat.


Aku terus menikmati  hembusan angin, bau air laut dan suara deburan ombak malam hari, kami duduk menghadap ke selatan, ke laut selatan.


Iseng aku lihat Sumadi yang dari tadi hanya diam saja….


Sumadi sedang tiduran. Dia telentang di atas pasir dan menutup matanya. Kayaknya Sumadi juga sedang menikmati apa yang disuguhkan alam pantai K ini kepada kami.


Seperti ada energi yang datang bersama angin dan ombak, pokoknya tiap ada hembusan angin dan ombak yang datang, aku merasa ada yang hangat di tubuhku.


Seperti ada yang masuk atau terserap oleh tubuhku… seperti seolah-olah aku merasakan tambahan energi, atau apalah. Pokoknya rasanya berbeda sekali.

__ADS_1


__ADS_2