
“No aku rasa kita harus rubah cara kerja kita agar cepat selesai dan kita cepat pergi dari sini”
“Maksudnya gimana Di?”
“Gini No, gimana kalau hari ini kita lakukan penyelidikan siang hari dulu saja, aku rasa siang hari ini untuk sekedar memetakan apa yang kita lihat di ruang bawah tanah”
“Urusan kita kan mungkin hanya tinggal ruangan bawah tanah saja Di. jadi ada baiknya kita permudah dan rubah cara kerja kita. Aku merasa bahwa kita ini mulai terkait dengan masalah lain juga, aku nggak mau kita terkait masalah lain Di”
“Jadi sebelum kita lakukan aksi malam hari. Kita ke sana dulu saja untuk mengetahui letak-letak ruangan yang ada disana”
“Karena kita tidak tau apa yang ada disana, kalau memang tempatnya aman dan tidak membahayakan nyawa kita dalam arti yang nyata ayo kita lanjutkan”
“Tetapi kalau di ruang bawah tanah itu ternyata banyak jebakan yang mengakibatkan nyawa kita terancam, lebih baik kita stop dan laporkan ke lolokcicing”
“Gimana… siang ini kita ke sana Di?”
“Ok, tapi aku mau selesaikan dulu laporanku ke lolokcicing, tinggal sedikit ini, sekalian aku mau bilang kita ubah strategi kita, karena dua kali kita kesana malam-malam, kita mendapat serangan yang mengerikan”
“Eh gini No, tentang urusan anak kembar…ada baiknya kita tidak terlalu ikut campur, kita disini karena pekerjaan yang harus kita lakukan”
“Jangan sampai karena masalah dua anak kembar yang aneh itu, pekerjaan kita jadi terhambat No”
“Maka dari itu Di, aku rasa kita akan terjebak di masalah ini Di, tapi gimana kalau mereka datang kesini?”
“Gini aja No, gimana kalau kita minta pindah hotel saja?”
“Hahaha gak bisa Di, kita disini karena kayaknya lolokcicing itu kenal atau malah yang punya hotel ini. Kalau pindah hotel siapa yang mau bayar hahah”
“Ah benar juga apa yang kamu katakan Di….”
*****
Siang hari, setelah pekerjaan Sumadi selesa. Kami menuju ke sasaran kami… pom bensin atau yang benar adalah SPBU.
Siang hari pukul 14.00 kami dalam perjalanan menuju ke arah SPBU tempat biasanya kami memarkir mobil untuk melaksanakan tugas.
“No, aneh juga ya petugas dan pengurus SPBU itu, kok nggak ada yang tanya kita disana ngapain dan sedang apa”
__ADS_1
“Bahkan ketika aku memapah kamu kemarin itu, mereka tidak ada yang tanya, memang waktu itu SPBU sudan tutup, tapi kan ada yang jaga, yang jaga itu nggak tanya kenapa dan apa yang kita lakukan disana”
“Dah biarin aja Di.. mungkin mereka sudah tau apa yang kita lakukan, mereka pasti sudah diberitahu sama lolokcicing atau Gungde kan”
Sore hari pukul 14.30 kami sudah ada di depan rumah yang hehehe mengerikan tapi membuat kangen juga…sore ini kebetulan langit sedang mendung.
Karena langit sedang mendung mengakibatkan suhu udara di sekitar rumah ini tidak sepanas ketika kami siang hari ke sana.
Aku buka pintu, tapi sebelumnya kayak sudah kebiasaan, aku melihat lampu yang ada di atas plafon. Ternyata lampu itu dalam keadaan nyala.
Bener-bener yang bikini timer di rumah ini kebalik, harusnya malam hari nyala, tapi ini siang hari malah nyala.
“Kenapa No, kamu sedang melihat lampu itu ya…aku juga heran, kenapa kalau siang lampu itu malah nyala hehe”
“Dah biarin, nggak papa Di, mungkin bisa saja fungsi dari lampu ini memberi tanda bahwa tidak ada yang boleh masuk ke sini malam hari, karena gelap dan menakutkan hehehe”
“Bukan gitu No, kata Gunde kan listrik disini sudah dimatikan oleh perusahaan listrik negara, lha ini kok masih hidup lho hehehe, tapi gak usah diambil pusing lah”
Aku sudah beberapa kali masuk ke rumah ini dan rasanya seperti sudah hambar dengan hal yang menakutkan disini, tapi aku kan belum tau apalagi yang menakutkan disini.
Tapi untuk membuka pintu ini rasanya sudah biasa dan seolah aku sudah tau apa yang ada didalamnya..
“Hehehe iya Di, kayak bukan rumah yang asing bagi kita”
Benar kata Sumadi, dan benar sama apa yang dikatakan Sumadi dan dengan yang aku pikirkan sebelumnya, seolah seperti aku punya ikatan batin dengan rumah ini..
Sebuah rumah yang sudah membuat aku dan Sumadi hampir mati!.
“Selamat siang menjelang sore hari, sekarang pukul 14.37 saya dan Sumadi membuka pintu rumah”
“Permisi penghuni rumah, saya masuk ke rumah ini lagi, dan tujuan kami sama saja dengan sebelumnya, kami bukan ingin menantang kalian, kami bukan ingin mengusir kalian, kami hanya ingin mengeksplorasi rumah ini saja”
“Rumah yang sudah dua kali membuat kami hampir mati, rumah yang selalu menolak kedatangan kami, tapi entah kenapa sore ini rasanya kami seperti masuk ke rumah sendiri”
“Seperti kami sudah sering masuk ke rumah ini. Sehingga rasanya hambar dan biasa, tidak deg deg an seperti sebelumnya kami ke sini”
“Pintu rumah sudah saya buka….dan ruang tamu yang keadaannya sama seperti sebelumnya. Hanya saja suhu udara lebih sejuk, karena di luar mendung, dan angin juga bertiup sepoi-sepoi”
__ADS_1
“Saya nggak tau kenapa setiap masuk ke sini pada waktu siang atau sore hari rasanya tenang, nyaman, dan ingin tidur saja”
“Kami tidak akan menuju ke kamar utama. Tetapi siang hari ini kami datang kesini mempunyai tujuan untuk apa ya namanya, eh mungkin pra visiting… ya mungkin yang tepat itu memeriksa keadaan sebelum kami melakukan aksi pada malam hari”
“Karena tujuan kami sora hari ini adalah bagian bawah rumah ini… bagian bawah yang membuat saya dan Sumadi penasaran”
“Sekarang kami ada di ruang tengah, saya akan ucapkan permisi dulu kepada para panghuni ruang tengah yang ada di sofa itu”
“Selamat sore para penghuni ruang tengah, khususnya yang ada di sofa. Kami datang ke sini seperti sebelumnya, kami tidak ingin menantang kalian, kami juga tidak ingin mengusir kalian, dunia kita berbeda, tetapi saya mengimani bahwa dunia kalian sama dengan dunia kami”
“Jadi kami permisi untuk masuk ke ruang bawah tanah, dan mohon maaf apabila kami kurang berkenan bagi kalian semua”
“Ok, sekarang kami menuju ke ruangan yang ada di ruang tengah, sebuah ruangan yang seharusnya adalah sebuah kamar, tetapi mungkin karena dibuat sebuah ruang bawah tanah sehingga ruangan ini tidak digunakan sebagai kamar”
“Pintu kamar saya buka dengan perlahan, tidak ada rasa berat atau apapun ketika saya buka pintu kamar ini, tidak ada yang menahan atau sesuatu yang seolah melarang kami masuk”
“Pintu ruangan saya buka, dan saya nyalakan senter saya sebagai penerangan disini”
“Kamar ini tidak terlalu gelap, tapi cukup gelap bagi kami, sehingga kami harus menyalakan senter demi keselamatan kami”
“Sekarang saya sedang mempelajari ruangan yang gelap, ruangan yang ada di bawah. Saat ini saya dan Sumadi belum turun ke bawah, kami hanya mengamati dari atas dan menyorotkan cahaya senter ke bawah saja”
“Sebuah tangga dengan pegangan yang menuju ke arah bawah, dan dari pengamatan dari atas sini, di bawah itu merupakan sebuah ruangan yang sama dengan ruang tengah rumah ini”
“Dari apa yang saya lihat dari atas dengan penerangan senter, di bawah sana ada sofa juga, lantai di bawah sana sepertinya dilapisi karpet dengan motif dan corak bunga-bunga”
“Cukup aneh, kenapa di bawah sana lantainya dilapisi karpet, sedangkan di ruang tengah dan ruang tamu tidak dilapisi karpet. Tapi mungkin kan selera dari pemiliknya, mau dilapisi atau tidak”
“Di… gimana kita siap turun ke bawah?”
“Siap No, ayo kita turun, tetapi tetap gunakan senter, kita nggak tau apa yang ada di bawah sana. Sapukan dulu cahaya sentermu yang terang itu ke segala arah ketika kita sudah sampai di dasar ruang bawah tanah”
Nggak tau aku merasa siang ini adalah terakhir kami masuk ke rumah ini,.... Aku merasa tidak bersemangat dan hanya ingin semua ini berakhir dengan cepat.
Kalau bukan karena lolokcicing sudah membayar kami, kami sudah pergi dari sini dari kemarin, aku kita kami sudah cukup dengan semua yang mengerikan disini.
Aku rasa pengorbanan kami yang hampir mati itu bisa saja ketika aku tulis di Novelku pembaca mungkin hanya mengira… halah hanya fiksi atau karangan otak kami saja!
__ADS_1
Ah sudahlah… misi ini harus aku akhiri, semoga tidak ada apa-apa di ruang bawah tanah sana.