Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 106. TIPU DAYA AGUS


__ADS_3

Demit suruhan Agus itu nampak membayang, tapi terlihat jelas sekali, sejelas aku melihat sosok Rangda dan Celuluk.


Mereka semua menghalangi kami yang akan masuk ke dalam puri…aneh, kenapa mereka malah menghalangi kami, harusnya mereka membiarkan kami masuk dan menyandera kami agar menunjukan dimana tempat yang Agus maksud itu kan.


“Minggir kalian!” bentak pak Wayan yang terus jalan akan masuk ke dalam puri dengan santainya


Tapi salah satu dari mereka bergerak dan berusaha merasuki dan masuk ke dalam tubuh pak Wayan, yang memiliki alat kelamin panjang itu berusaha memaksa masuk ke dalam tubuh pak Wayan


Kayaknya sulit sekali untuk masuk ke dalam tubuh pak Wayan, ketika tubuh dia sudah separuh di dalam tubuh pak Wayan, tiba-tiba muncullah Rangda.


Rangda yang seharusnya jahat itu menarik tubuh demit yang masih separuh masuk ke dalam tubuh pak Wayan.


Rangda itu menarik dengan keras dan kemudian memecahkan kepala demit itu menggunakan kukunya yang tajam. Setelah itu dia pergi begitu saja.


Ketika melihat Rangda datang dan satu demit sudah ntah mati atau punah, sisanya pergi  dan menghilang begitu saja.


“Huuuggh rasanya sakit sekali, untung tadi Rangda datang” keluh pak Wayan sambil memegangi dadanya


“Ayo masuk ke dalam, kalian ambil barang kalian, saya mau cek keadaan puri” Pak Wayan berusaha berdiri dengan susah payah.


Sumadi menuju ke tempat dia menaruh handycam, dan ternyata alat itu masih nyala, kemudian kami bantu pak Wayan untuk melihat di seluruh keadaan puri, tidak hanya di tempat tinggal pak Wayan saja.


“Tidak ada yang rusak, tidak ada yang berubah, tidak ada jejak apapun bahkan kedua ular itu masih tidur dengan santainya, apa sebenarnya maksud dia datang kesini itu”


“Sepertinya dia ingin bicara dengan pak Wayan” kata Sumadi


“Iya benar Sumadi pak, sepertinya dia ingin bicara dengan pak Wayan, apa kita datangi saja dia pak?”


“Saya yakin pak Wayan, dia taruh mahluk ghaib di depan itu tugasnya hanya melaporkan kalau pak Wayan sudah datang, tapi yang tadi itu jahil, dipikir pak Wayan tidak punya penjaga disini”

__ADS_1


“Saya tidak mau bicara disini pak Paino, lebih baik kita datangi mereka di desa saja, saya tidak mau leluhur saya terganggu oleh tingkah laku saya yang membuat ulah disini. Kita ke desa itu saja sekarang”


Kami menuju ke desa melalui jalan setapak, tapi aku merasa ada yang aneh, aku merasa ada yang nggak beres dengan keadaan seperti ini.


“Pak Wayan, gimana kalau kita jalan memutar saja pak, saya kok merasa ada yang tidak beres pak”


“Kenapa pak Paino?”


“Tidak tau pak Wayan, pokoknya lebih baik kita lewat jalan memutar saja, saya rasa dengan begitu kita lebih aman dari pada lewat jalan setapak ini pak”


Kami masuk ke dalam hutan lagi dan memutar untuk menuju ke desa, tapi pandanganku nggak lepas dari jalan setapak yang tidak seberapa jauh di depan kami.


Ketika kami sudah ada di pertengahan antara desa dengan puri, dari sini aku bisa lihat kalau di jalan setapak itu sesuai dengan perkiraanku.


“Stop dulu pak, coba lihat disana” tunjuk pak Wayan “Ratusan mahluk halus siap menghadang kita, kalau begini caranya  bahkan Randapun tidak akan mampu menandinginya”


“Tetap ke desa saja pak Paino, karena di tengah jalan itu tidak ada  sosok Agus dan kedua suruhannya. Kita tetap lewat jalan memutar ini saja, tidak usah menggunakan jalan setapak lagi”


Gila jalan setapak itu penuh dengan berbagai mahluk halus yang ada di rumah Agus, rupanya si Agus sudah siao untuk perang, dia membawa seluruh pasukan yang dia kumpulkan di rumah.


Pasukan sebanyak ini pasti mempunyai tugas yang bermacam-macam, gampangnya saja ada yang bertugas mengjajar kami, dan ada yang bertugas mencari benda yang dicari Agus.


“Kalian khawatir dengan wong samar yang sebegitu banyaknya kan?” kata pak Wayan “Saya juga khawatir hehehe, siapa yang mampu melawan sebegitu banyaknya wong samar”


“Tapi saya harus tetap bicara dengan Agus, dan kalau bisa jangan sampai ada pertumpahan darah di sini atau di puri saya” lanjut pak Wayan.


Akhirnya kami sampai di hutan yang berhadapan dengan desa kecil. Di warung biasanya itu ada Agus, Gusta, dan Hasto, mereka bertiga sedang duduk di depan warung. Tidak ada komang dan teman-tamanya disana.


“Kita ke sana, saya ingin berunding dulu dengan Agus,  saya tidak mau ada kekerasan di wilayah ini maupun di puri saya, kalau kalian mau ikut ayo ikut saya”

__ADS_1


*****


“Wah ada  orang penting datang, ayo Hasto dan Gusta, hormati orang penting, kalian berdiri dan kasih bapak ini duduk disitu” kata Agus ketika kami datang


“Sudahlah pak Agus, langsung ke pokok masalah saja, sebenarnya pak Agus mencari apa di tempat saya dan kenapa sampai ingin menyerang saya”


“Saya cuma mencari istri dan anak perempuan saya yang kalian culik, sebagai suami dan orang tua wajib menyelamatkan anak dan istrinya kan heh heh heh heh” jawab Agus dengan terkekeh


“Selain anak dan istrimu apa yang kamu cari di puri saya?” tanya pak Wayan lagi


“Saya cuma membantu rakyat desa ini mendapatkan harta miliknya yang kamu rampas. Saya kasihan denngan penduduk desa yang miskin ini” Kata Agus sambil tersenyum licik


“Mulia sekali hatimu pak Agus, tapi harta itu sudah akan saya berikan kepada penduduk desa ini , saya sudah bicara dengan salah satu pemuda disini untuk mengambil yang merupakan hak mereka” jawab pak Wayan


“Lalu bayaran saya gimana, saya sudah susah payah mengupayakan mengembalikan harta mereka, lalu saya tidak dapat apa-apa?” kata Agus sedikit membentak


“Saya juga harus dapat imbalan yang sesuai dengan hasil jerih payah saya dong”


“Apa yang kamu inginkan Agus?”


“Air suci…. Saya cuma ingin air suci saja, saya tidak minta harta atau apapun, masak gitu saja kamu gak bisa memenuhi Wayan!”


“Bawa saja untuk kamu anak dan istri saya,  pokoknya berikan saja saya sumur air suci itu, dan kalian akan bebas!”


“Kalau kami tidak mau berikan air itu bagaimana Agus?!” kata pak Wayan yang sudah mulai emosi


“Tidak apa-apa, tidak kamu kasih juga tidak apa-apa, saya bisa cari sendiri tanpa harus mengemis sama kamu seperti ini. Kalian bebas dan tidak usah ikut campur urusan saya yang sedang mencari sumur itu hihihihi”


“Saya tidak tau dimana letak air suci itu Gus, saya tidak pernah tau apa itu sumur yang kamu cari, jadi silahkan saja kamu cari, asal jangan di dalam puri saya!”

__ADS_1


__ADS_2