
Tidak ada yang terjadi dengan kami ketika kami sampai ke rumah belakang setra, tidak ada dua anak kembar yang selalu mengawasi kami dimanapun kami berada.
Keadaan aman hingga kedua ular itu tidak perlu melakukan sesuatu apapun. Untuk malam ini kami tidak mengalami sesuatu apapun.
Sesampai di rumah belakang setra, dan raga halus kami masuk ke raga kasar dengan bantuan pak Wayan.. Kami ngobrol di ruang tamu.. Membahas apa yang akan terjadi berikutnya.
“Jadi yang pak Paino dan Hera sempat bicara dengan bu Tina?”
“Betul pak Wayan… dan nanti dia akan hubungi saya, kami harus bertemu dengan suaminya, saya harus tau apa yang menyebabkan anak mereka mencari kami seperti ini”
“Hmm, langkah demi langkah kalian akan mengetahui apa yang sedang terjadi, nanti semuanya akan mengerucut pada satu masalah yang harus kalian hadapi”
“Kami pak?... kenapa harus kami yang menghadapi?”
“Iya… ah saya tidak perlu cerita lagi apa yang terjadi, pada intinya kalian lah nanti yang harus menghadapi. Dan nanti pada waktunya kalian akan membantu saya secara tidak kalian sadari”
“Aduuh pak Wayan, kenapa kami harus mengalami hal seperti ini ya pak?”
“Itu sudah karmapala kalian, jalani saja dan nikmati apa yang akan terjadi…”
“Saya merasa mulai malam ini kalian akan menghadapi berbagai halangan dari mereka… hhmm nanti saya akan pikir dulu apa yang harus kalian lakukan… saya pergi dulu”
Pak Wayan sudah pergi dari hadapan kami. Sekarang di ruang tamu yang gelap gulita ini hanya ada aku, Sumadi Mbak Hera dan Gek Ayu.
Dan kami dikelilingi makhluk dengan berbagai macam bentuk yang kadang aku tidak bisa menjelaskan bentuknya.
“Gimana No.. tadi yang pak Wayan katakan itu… eh karma, kenapa dengan karma kita?”
“Pak Sumadi dan pak Paino, apa yang dikatakan pak Wayan tadi itu bisa jadi akibat dari perbuatan kalian, atau perbuatan kalian ketika kalian ada di kehidupan sebelumnya”
“Bisa jadi di kehidupan sebelumnya kalian ini melakukan sesuatu, kalian tidak kenal satu sama lain. Tetapi sekarang kalian disatukan dan harus menjalankan karma itu” kata gek Ayu
“Yah intiya dijalani saja, karena bagi kepercayaan kami, pasti ada yang namanya karmapala itu” jelas gek Ayu.
“Iya gek.. Saya sedikit paham, ya sudah kami tinggal menunggu telepon dari bu Tina saja ya ini?”
__ADS_1
“Iya pak.. Saya yakin secepatnya bu Tina akan hubungi bapak, bisa jadi pagi ini paling lambat pak hehehe’” kata Gek Ayu
Kami berempat hanya bisa menunggu, gek Ayu dan Hera sudah tidur di kursi sementara aku dan Sumadi masih terjaga dan melihat-lihat apa yang ada di sekitar rumah…
Aku dan Sumadi terheran-heran dengan lalu lalangnya berbagai makhluk halus yang melewati ruang tamu menuju ke belakang, kada ada bentuknya lucu, kadang ada yang mengerikan.
“Udah jam lima pagi No, mungkin sebentar lagi bu Tina akan hubungi kita”
“Iya Di harapanku begitu, tapi seharunya ketika suami bu Tina pergi, harusnya bu Tina menjaga bagaimana caranya agar tubuh halus anaknya tidak pergi dari tubuh kasarnya”
“Sehingga kita bisa bebas bicara dengan suami bu Tina Di”
“Lha tadi malam kamu sudah bilang gitu apa belum No?”
“Hehehe belum Di, semalam gak kepikiran blas, aku gupuh kok, aku takut kalau tiba-tiba anaknya datang”
*****
Pagipun tiba, aku dengar suara ayam berkokok di kejauhan… baru kali ini kan kami menginap di rumah ini hingga pagi, biasanya kan selalu ada saja masalah disini.
Tiba-tiba teleponku berbunyi…
“Iya Di, ini dari bu Tina” kubaca Wa yang tertulis di layar ponselku
“Apa katanya No?”
“Sik Sebentar… eh suaminya minta ketemu dengan kita pagi ini jam tujuh di hotel saja, karena saat ini anaknya sudah dalam keadaan sadar, eh sekarang jam berapa Di?”
“Udah jam enam No, sekarang saja kita pergi dari sini No, gimana?”
“Eh bangunkan dulu gek Ayu dan mbak Hera…Di”
Semua sudah bangun, dan siap untuk pulang ke hotel.. Saat ini pukul 6.15, jadi masih ada waktu untuk kami pulang ke hotel dan mempersiapkan pertemuan dengan suami bu Tina yang namanya pak Agus.
Kami tidak berpamitan dengan pak Wayan, karena kami tidak tau dimana harus mencari pak Wayan.
__ADS_1
Setelah taksi online yang dipesan Hera datang, kami berangkat menuju ke Hotel.
Sebenarnya aku nggak enak juga bawa-bawa anak perempuan orang, malah kita ajak nginap di tempat yang tidak semestinya juga hehehe, takutnya dipikir orang kami sedang melakukan kegiatan mezum.
Pukul tujuh kurang kami sudah sampai di hotel, perjalanan menuju hotel memang agak macet, sehingga kami agak terlambat sampai hotel.
“Gek Ayu dan mbak Hera, lebih baik kalian pulang saja. Sudah seharian kalian belum pulang lho, nanti kami akan ceritakan info apa yang kami dapat dari suami bu Tina”
“Iya pak, kami pulang dulu saja, nanti Hera telepon pak Sumadi ya?”
“Iya mbak Hera…”
Kuantar mbak Hera dan gek Ayu sampai di parkiran motor hotel, kedua perempuan baik itu sudah pergi dari hotel, dan bersamaan itu ada laki-laki tua sangat kurus tidak seberapa tinggi sedang jalan menuju ke arah hotel.
Aku tau itu adalah pak Agus, suami dari bu Tina, aku hafal sama bentuk tubuhnya meskipun yang semalam aku temui dia tanpa mengenakan pakaian sama sekali.
Kutunggu hingga orang tua kurus itu semakin dekat dengan hotel.
“Eeh benar pak Agus?”
“Iya saya Agus, bapak ini pak Paino?” tanya orang tua yang sudah ada di depanku
“Iya saya Paino pak.. ayo kita ke kamar saya saja pak”
Suara pak Agus suami bu Tina begitu lemah dan serak, cara dia jalan saja sudah menandakan orang ini sedang dalam keadaan tidak sehat.
Kusejajari pak Agus ketika berjalan menuju ke kamar, karena ada yang aneh dengan cara orang tua ini berjalan.
Pelan dan sangat hati-hati dalam melangkah, dia selalu melihat ke apa yang dia pijak, dan anehnya ketika dia jalan dia seolah kadang sedang ,menghindari sesuatu.
Dari depan hotel hingga ke kamar, aku cuma butuh waktu sekitar tiga menit saja, tetapi ketika bersama pak Agus bisa jauh lebih lama lagi hahahah, atau karena dia sudah tua atau gimana gitu.
Sumadi sudah berdiri di teras kamar ketika aku dan pak Agus sudah dekat dengan kamar hotel
“Di, ini pak Agus.. mari pak silahkan masuk saja, kita ngobrol di dalam kamar saja pak”
__ADS_1
“Mari masuk pak” kata Sumadi mempersilahkan pak Agus.
Suami bu Tina tidak menjawab sama sekali, dia hanya menggangguk lemah dan masuk ke dalam kamar.