
Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika Sumadi berkata bahwa dia juga sedang mempunyai masalah yang sama dengan yang aku alami, sekarang di punggung Sumadi seperti ada yang sedang bergerak naik…..
Ap…apakah ini si…siluman ular?
Aku masih dalam keadaan duduk, sedangkan Sumadi masih berdiri di sebelahku, handycam yang ada di tangannya sepertinya sudah terlepas.
Untungnya handycam kecil dan canggih itu menggunakan semacam gantungan di leher, sehingga meskipun terlepas pun tidak akan jatuh ke lantai rumah.
“Di, bagaimana keadaanmu?”
“Akhku kaku, tubuhku kaku …No. aku gak bisa ge…gerakan tubuhkhu”
Aku tidak bertanya lagi apa yang sedang terjadi dengan Sumadi, karena apa yang dia alami mungkin lebih parah daripada aku.
Aku harus tetap bicara dengan alat perekam, agar kejadian ini ada sejarahnya dan tidak dilupakan.
Aku bicara dengan berbisik, aku takut apabila suaraku akan mengakibatkan hal disini makin buruk.
“Selamat malam, saat ini pukul sebelas lewat dua puluh menit, kami mengalami kejadian yang mengerikan, memang sebelumnya hanya saya saja yang mengalami seperti yang saya jelaskan sebelumnya”
“Tetapi sekitar sepuluh menit lalu, teman saya Sumadi mengalami kejadian yang sama dengan yang saya alami, hanya saja sedikit berbeda, keadaan Sumadi saat ini kaku, dia tidak bisa bergerak sama sekali”
“Saya tidak tau apakah yang ada di tubuh Sumadi ini sama dengan yang sebelumnya masuk ke dalam tubuh saya, karena saat ini, yang ada di tubuh saya hanya yang sedang melilit kaki saya saja”
“Keadaan disini sangat gelap, tetapi saya masih bisa sedikit melihat apa yang terjadi dengan rekan saya Sumadi. Dia hanya berdiri kaku di depan saya, saya tidak tau apa yang sedang Sumadi alami untuk saat ini”
“Keadaan saya sendiri sebetulnya tidak jauh berbeda dengan Sumadi, sampai detik ini sesuatu yang dingin dan sedang melilit di bawah paha saya ini masih ada, kedua kaki saya sangat kesemutan, dan hampir mati rasa. Tetapi saya tidak berani menggerakan kedua kaki saya”
“Sudah sepuluh menit Sumadi dalam keadaan diam dan kaku, sepuluh menit ini Sumadi tidak melakukan perekaman, karena saat ini handycam sedang tergantung di lehernya”
Aku harus tetap bicara, aku harus melaporkan apa saja yang sedang kami alami.
Hal ini bukan hanya untuk dokumentasi kami saja, tapi siapa tau kami akan mati disini, sehingga pihak berwajib tau bagaimana dan apa yang terjadi dengan keadaan kami sebelum kami mati.
Aku harus tetap menggambarkan apa yang sedang terjadi dengan kami meskipun aku dalam keadaan yang genting.
Tapi…..
Aduh… gangguan apa lagi ini…..
__ADS_1
Sekarang aku mencium bau busuk, seperti bau bangkai tikus yang sudah penuh dengan belatung yang kadang mati di got depan rumah.
“Diantara keadaan kami yang seperti ini, tiba-tiba saya mencium bau yang sangat busuk, bau busuk itu tiba-tiba saja muncul. Bukan berasal dari hembusan atau apapun, bukan dari arah manapun”
“Bukan berasal dari belakang, depan, atau samping kiri dan kanan saya. Bau busuk itu datang…..uuughh, datang dari arah aku atau Sumadi!”
“Bau busuk itu tiba-tiba ada di sekitar saya dan Sumadi”
“Sekarang yang terjadi….aaaggh”
“K….khetika sa…saya menghirup udara….”
“Keti..ka bhau bu..suk itu mas…masuk ke dalam paru-paru saya… huughh”
“Paru-paru saya rasanya sakit dan panas!”
“Ketika bau busuk itu masuk melalui hidung saya dan menuju ke paru paru, ra..rasanya p..panas dan sakit s…sekali” aku harus tetap sadar dan menggambarkan apa yang terjadi denganku
“Sa…saya akan tetap berbicara dengan alat perekam ini hingga saya benar-benar tidak sadarkan diri…. “
“Adhuuuuh ada lagi y…yang terjadi, sekarang kedua mata saya seperti ada semacam kabut yang membayangi penglihatan saya… penglihatan saya kepada Sumadi semakin terbatas… “
“S….saya tidak akan me…menyerah!”
“S…saya akan t…tetap b…bicara dengan a..alat perekam saya….!”
“Kini pengli…penglihatan saya semakin p..parah….hanya putih saja, putih yang menyebabkan rasa sakit di mata saya”
“Selama saya masih bisa bicara, selama saya masih bisa merasakan, selama masih bisa mencium, dan selama saya masih sadar….”
“S… saya akan terus menceritakan apa yang sedang terjadi dengan saya dan S…Sumadi……”
“Aaarrghh tolooong ya Tuhaaan, p…paru-paru saya rasanya sakit dan panas setiap saya bernafas menarik udara masuk ke dalam paru-paru”
Aku sudah sangat lemah, aku makin kesulitan bernafas, tetapi aku masih sadar…
Aku pasrah, aku sudah nggak kuat lagi, semakin aku bernafas semakin paru-paruku rasanya terbakar dan sakit sekali, penglihatanku pun semakin kabur, yang aku lihat hanya bayangan putih semacam asap putih saja.
Aku nggak tau apa yang terjadi dengan Sumadi, karena aku sudah tidak bisa melihat dia, aku sudah tidak mendengar ucapan atau suara dia sama sekali.
__ADS_1
Eh tapi ada yang berubah….ya aku merasakan ada perubahan lagi.
“Pukul dua belas malam… saya bisa berkata s…sekarang pukul dua belas malam k…karena baru saya jam tangan saya berbunyi”
“Jam tangan saya adalah jam digital yang selalu berbunyi setiap jamnya, t…tadi ketika saya masih bisa melihat, saya lihat masih p…pukul sebelas lewat dua puluh menit”
“Artinya sudah empat puluh menit k…kami dalam keadaan seperti ini di ruangan keluarga ini….”
“Eh… saya merasakan adanya p…perubahan, ap…apa yang melilit dan yang rasanya sangat dingin itu mulai bergerak”
“Sesuatu yang sss…sangat dingin dan melilit k…kaki saya ini bergerak mengendurkan lilitannya, alhamdulillah d…dia sepertinya melepaskan kaki saya, tapi s…saya belum tau apa yang sedang terjadi dengan S…sumadi”
“Sekarang s…saya sudah berani menggerakan k…saki saya yang sebagian sudah mati rasa karena kesemutan yang luar biasa. Perlahan s…saya goyang-goyangkan kaki saya”
Aku harus bicara dengan Sumadi yang dari tadi sama sekali tidak berbicara, aku takut ada sesuatu yang terjadi dengan Sumadi. Setelah aku rasa aku sudah bisa jalan dan bisa melihat, aku harus bawa pergi Sumadi dari sini.
Jangan sampai apa yang ada di mimpiku itu terjadi dengan temanku, jangan sampai kegiatan ini mengakibatkan kematian bagi temanku!
“Di Sumadi, b…bagaimana keadaanmu?....”
“Jawab p..pertanyaanku dengan apapun Di, tidak usah d…dengan ucapan, kamu bisa jawab dengan p…pukulan atau dengusan a…atau apapun yang menyatakan kamu masih ada disini”
Kutunggu hingga beberapa saat, tapi tidak ada jawaban dari Sumadi baik itu suara dengusan atau pukulan atau apalah yang bisa dilakukan Sumadi dalam keadaan seperti ini.
“Di… Sumadi, ja…jawablah dengan apapun yang bisa k…kamu lakukan…… apakah kamu masih ada di sebelah saya Di”
“Terus terang s…saya tidak bisa melihat kamu Di, mata saya p…penuh dengan kabut atau asap putih, s…saya tidak bisa melihat gelapnya ruangan ini, saya tidak bisa m…melihat keadaanmu”
“Saya masih menunggu kaki saya n…normal dan saya akan menyentuhmu untuk mengetahui k…keberadaanmu Di”
Bau busuk ini masih tercium, paru-paruku rasanya panas dan perih, ditambah lagi seperti ada sesuatu yang kosong di dalam paru-paruku.
Ketika aku menarik nafas… yang aku rasakan adalah ruangan kosong dan panas yang luar biasa… seolah aku tidak bisa menyimpan udara di dalam paru-paruku.
Masih tidak ada tanda dari Sumadi, keadaan sangat sepi dan hening.
Dalam keadaan ini rasa panik dan ketakutanku mulai muncul.
Pikiran yang tidak-tidak mengenai temanku Sumadi mulai berseliweran di otakku. Aku mulai merasa bahwa ini adalah akhir dari semua petualanganku.
__ADS_1
Pikiranku tentang mimpiku ketika Sumadi mati mulai mempengaruhi otakku. Aku semakin ketakutan, tidak ada suara Sumadi tidak ada gerakan Sumadi yang biasanya menyentuh bahuku ketika aku sedang dalam kebingungan.