Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 103. MENYELAMATKAN BU TINA, HERA, DAN GEK AYU


__ADS_3

Komang dan Kadek sudah kembali ke desanya, kami tidak peduli apabila dia akan ditanya-tanya oleh Gusta atau Agus tentang Gustin dan kami, mereka katanya bisa jaga diri.


Sedangkan Gustin tetap ada disini, dia tidak berani  dan memang tidak mau kembali lagi ke tempat Agus dan Gusta.


Gustin bercerita kepada pak Wayan siapa dirinya dan siapa ibunya dan dia adalah keturunan apa, dia cerita tentang Agus hanya sebatas sepengetahuan dia saja.


Dan akhirnya kami memahami siapa dia dan ibunya itu, dan kata pak Wayan semua harus diselamatkan karena ini menyangkut dengan kehidupan wong samar di tanah jawa.


Pak Wayan sedang menyiapkan upaya untuk menyelamatkan ibu Gustin, tapi hingga sekarang kami belum tau bagaimana caranya agar bu Tina mau pergi ke rumah belakang setra.


“Yah rencana saya seperti itu, untuk sementara ini ajak bu Tina ke rumah belakang setra, kemudian dari sana bisa saya tarik ke sini, tapi bagaimana caranya” gumam pak Wayan


“Orang yang bisa melakukan dan mengajak ke rumah itu ya orang yang kenal dengan bu Tina pak, dan itu adalah mbak Hera dan gek Ayu” kata Sumadi


“Eh Gustin… saya mau tanya, kalian berdua datang kesini  bagaimana caranya?” tanya pak Wayan


“Gustin tidak tau pak, pokoknya pada awalnya bapak saya hanya bilang ke ibu mau ajak Gustin dan mas Gusta jalan-jalan”


“Kemudian kami diajak jalan ke sebuah jurang sungai yang ada di dekat rumah kami, disana sangat gelap dan menyeramkan. Dan tau-tau kami sudah ada disini” jawab Gustin


“Sudah berapa kali kalian datang ke sini Gustin?”


“Sudah tiga kali ini pak Wayan…tiga kali ini tubuh kami pindah ke masa ini” Gustin menjawab dengan tegas seolah meyakinkan bahwa dia pernah ke sini lebih dari satu kali


“Kenapa pak Wayan, kok tanya tentang itu?” aku penasaran dengan pertanyaan pak Wayan


“Sulit untuk dijelaskan pak Paino, karena kadang yang datang hanya raga halus, tetapi raga kasarnya tetap ada disana. Rencana saya, saya akan datangkan juga ibu dari Gustin, agar aman disini, tetapi kita harus yakinkan bahwa raga kasar kedua anak ini tidak ada di tempat tinggalnya”


“Ya menurut kami yang bisa mengajak bu TIna hanya mbak Hera dan gek Ayu pak. Apa pak Wayan ada ide untuk menghubungi mereka dan mengajak mereka ke sini”


“Tidak. Saya tidak mau ajak kedua anak perempuan ke sini, semakin banyak orang tau apa yang ada disini, semakin tempat ini berbahaya” jawab pak Wayan


“Tapi nggak mungkin untuk tidak mengajak mereka pak Wayan, karena apabila mereka berdua mengajak bu TIna ke rumah belakang setra, pasti anak buah Agus akan tau, dan hidup mereka pasti dalam bahaya”

__ADS_1


“Iya… benar juga apa yang pak Paino katakan, semakin banyak korban yang tidak bersalah nantinya, ya sudah kita selamatkan mereka dulu, baru kemudian kita susun apa yang harus kita lakukan” jawab pak Wayan


“Ingat waktu aman kita untuk menjemput mereka hingga besok sore saja, jadi harus dipastikan besok pagi semua sudah ada disini” gumam pak Wayan


“Eh Gustin, kamu sementara tidur di rumah Mbok mang dulu saja ya,  nanti akan saya pikirkan dimana kamu dan ibumu bisa tinggal”


Malam ini pak Wayan memperketat penjagaan di sekeliling purinya, dia mengundang keluarga ular penjaga untuk berada di sekeliling purinya.


Malam ini aku dan Sumadi tidak bisa tidur sama sekali, kami  berdua duduk di bale depan kamar kami, tadi pak Ketut sudah membuatkan satu teko kopi , hehehe satu teko yang bisa bikin mencret bagi yang tidak kuat kopi.


Ketika kami sedang duduk melamun, pintu rumah pak Wayan terbuka, ternyata dia  keluar dari rumah utamanya.. Kemudian dia duduk di sebelah kami.


“Pak Paino dan pak Sumadi masuk ke kamar, saya mau bicara dengan kalian berdua” suruh pak Wayan kepada kami untuk masuk ke dalam kamar.


“Ada apa pak Wayan, kok sepertinya penting sekali” tanya Sumadi


“Begini, saya akan kirim raga halus kalian ke dalam mimpi Hera dan Ayu, beritakan kepada mereka besok pagi mereka harus ke rumah bu TIna dan segera pergi ke rumah belakang Setra”


“Tenang saja, akan saya buka pintu rumah itu ketika mereka datang, dan begitu mereka masuk ke dalam rumah, mereka sudah pindah ke alam ini” jawab pak Wayan


“Sekarang kalian duduk santai bersila dan konsentrasi penuh…. Waktu kalian hanya tiga puluh detik untuk menyampaikan pesan kalian kepada tiap mimpi orang”


*****


Aku dan Sumadi ada di sebuah taman… taman yang indah dengan pemandangan gunung jauh di belakangnya, keadaan disini sepi hanya ada aku dan Sumadi saja.


Udara disini dingin dengan angin yang bertiup pelan…


“Kita pasti sedang ada di mimpi salah satu dari anak perempuan itu Di, ayo kita cari dia Di”


“Nggak usah dicari itu di belakangmu ada mbak Hera yang sedang duduk di bawah pohon sendirian No”


Ternyata di bawah pohon belakangku ada mbak Hera yang sedang melamun.

__ADS_1


“Eh halo mbak Hera…,” sapaku


“Kok ada pak Paino dan pak Sumadi di mimpi Hera sih?” tanyanya heran


“Eh mbak Hera sedang mimpi apa memangnya?”


“Nggah pak Paino, malu ngomongnya hehehe, kalian ada apa disini dan bagaimana kabar kalian berdua pak?”


“Gini mbak Hera, singkat saja ya, keadaan sekarang sedang bahaya, baik itu untuk mbah Hera, gek Ayu, dan bu TIna. kami dikirim kesini untuk memberitahu mbak Hera agar segera ke rumah belakang Setra pagi ini”


“Nanti disana kalian masuk saja, setelah itu pak Wayan yang akan menyelesaikannya”


“Memangnya ada apa pak Paino?”


“Sudahlah, ikuti apa kata saya saja pak, pokoknya besok pagi, maksimal sore hari kalian harus datang ke rumah belakang setra bersama dengan bu Tina”


“Nanti bilang saja ke bu Tina kalau Gustin berhasil kami selamatkan, dan hal itu membuat Agus dan Gusta ngamuk…”


“Sudah gitu saja mbak, kami hanya punya waktu tiga puluh detik saja di dalam mimpi ini”


Baru aja aku selesai berkata kepada mbak Hera, tiba-tiba aku pindah ke sebuah upacara agama di pinggir laut, kayaknya ini ada di sebuah pantai.


Ternyata di sebelahku ada gek Ayu yang sedang melihat acara upacara agama.


Aku sampaikan hal yang sama dengan yang aku sampaikan ke mbak Hera, kami juga bilang bahwa kami juga sudah masuk ke dalam mimpi mbak Hera juga.


Tigapuluh detik kemudian kami kembali ke raga kami yang ada di kamar kediaman pak Wayan.


“Kalian amat lelah, ini minum air ramuan saya, agar kalian sehat dan segar kembali”


“Iya pak, rasanya lemes dan capek sekali pak, kenapa ya kok bisa segini capeknya pak?”


“Hahahah  sulit untuk menjelaskannya pak, yang penting kalian berdua bisa kembali dengan selamat”

__ADS_1


__ADS_2