
“Jadi Agus yang itu bukan suami ibu?” aku nggak yakin dengan omongna bu TIna
“Iya dia bukan suami saya, saya yakin karena dia sudah mati digulung ombak. Dan saya sebenarnya sudah berniat pulang ke daerah asal saya, karena Gustin punya hubungan dan kepentingan disana”
“Tetapi karena masalah Agus, mengakibatkan saya dilarang keras untuk pulang, dan dia mengancam akan membunuh anak saya ketika raga halusnya pergi meninggalkan raga kasarnya”
“Sekarang sudah menjelang malam, pak Wayan lebih baik memikirkan apa yang harus dilakukan oleh penduduk disini”
“Sudah pak Paino Ketut sedang mengajak mereka semua untuk menuju ke bunker, dan nanti bu Tina dan Gustin juga Hera dan Ayu harus ikut dengan mereka”
“Tidak pak, saya dan anak saya tetap disini, saya akan bantu kalian sebisa saya” jawab bu Tina
“Nanti kalian pasti akan bantu kami, tapi bukan sekarang, karena sekarang biarkan saya lihat dulu apa yang akan mereka lakukan, lagi pula kami tidak akan ada dipuri ini, kami akan ada di hutan sana” jawab pak Wayan
Akhirnya bu Tina, Gustin, mbak Hera dan gek Ayu ikut dengan penduduk puri untuk berlindung di bunker, sedangkan aku, sumadi, pak Wayan berjalan menuju ke arah hutan yang ada di sebelah puri. Puri dibiarkan kosong setelah semua pergi menyelamatkan diri.
Tapi tidak kosong begitu saja, ada dua ular kesayangan pak Wayan yang sedang menjaga puri, mereka hanya tiduran di dekat merajan saja.
“Kenapa kita justru ke sini pak?”
“Saya tidak mau ada pertikaian di dalam sana, biarkan mereka mencari apa yang mereka cari disana, tetapi jangan sampai ada pertikaian atau di dalam puri itu”
“Dua ular saya juga hanya menjaga merajan saja mereka tidak akan menyerang apabila tidak ada yang berusaha merusak merajan kami”
“Kita sekarang kemana pak. Apa kita ke tempat yang katanya ada hartanya itu?”
“Iya kita ke sana, tapi nanti setelah saya tau mereka keluar dari puri itu”
“Saya tidak ada maksud untuk menyerang mereka, saya hanya ingin menghindari kekerasan saja, jadi setelah dia memeriksa keadaan puri dan tidak menemkan apa-apa kita masuk ke sana, disana mereka tidak akan bisa mendeteksi keberadaan kita”
“Lalu bagaimana dengan penduduk puri dan teman kita yang sedang ada di bunker pak?”
“Tenang saja, bunker itu banyak sekali lubang dan lorong, gunanya untuk mengecoh penjajah agar tersesat”
__ADS_1
“Bunker itu akan tembus ke desa sebelah yang agak jauh dari sini, karena jalannya memutari bukit, tapi di dalam bunker itu ada jalan pintas menuju ke sana”
Ketika kami sedang mengobrol di tengah hutan, dari kejauhan kami melihat ada beberapa orang yang sedang jalan menuju ke arah puri pak Wayan.
Hanya tiga orang saja … tetapi karena aku dan Sumadi bisa melihat makhluk tak kasat mata, akhirnya aku bisa lihat bahwa di belakang ketiga orang itu ada puluhan demit dengan berbagai bentuk yang mengikuti mereka bertiga.
“Itu mereka sedang menuju ke puri, kita biarkan saja apa yang akan mereka cari disana”
“Bagaimana dengan puluhan pengikut yang tidak kasat mata itu pak?” tanya Sumadi
“Tidak berpengaruh, mereka tidak akan bisa menemukan apapun disana kecuali dua ular penunggu merajan saja”
“Kita ikuti mereka pak?”
“Jangan pak Paino, nanti disana terjadi pertumpahan darah, karena celuluk dan si putri Rangda ini akan menyerang mereka”
“Berarti kekuatan kita lebih kuat daripada mereka pak?”
Agus dan rombongannya sudah sampai di depan puri, mereka masuk dengan santainya seperti mereka adalah pemilik dari puri itu.
“Kita akan tau apa yang sedang mereka kerjakan disana hehehe” kata Sumadi tiba-tiba
“Maksudmu apa Di?”
“Handycam aku sembunyikan di atas kayu penyanggah, arahnya ke tempat persembahyangan puri itu”
“Apakah itu alat yang pak Sumadi tunjukan kepada saya waktu datang kesini pertama kali itu?” tanya pak Wayan
“Benar pak Wayan, itu alat perekam yang tidak sengaja saya bawa ke sini, tapi dayanya mungkin tinggal separuh, tapi tenang saja, saya bawa baterai cadangan kok”
“Wah cerdas awakmu iki Di heheheh”
Cukup lama mereka ada di dalam puri yang kosong, mungkin ada sekitar tiga puluh menit, kemudian mereka keluar dan kembali ke arah desa. Kayaknya mereka tidak menemukan apa yang mereka cari disana.
__ADS_1
“Pak Mereka sudah kembali, apakah penduduk puri juga akan balik ke sana pak?”
“Tidak, mereka tetap ada di bunker hingga keadaan benar-benar aman, mungkin besok pagi abdi saya Ketut akan muncul untuk melihat keadaan di puri”
“Kita tunggu hingga benar-benar aman baru kita bisa masuk ke sana pak Wayan?”
“Tidak pak Paino, kita tidak masuk ke sana, karena pasti ada suruhan mereka yang berjaga-jaga disana sebagai mata-mata mereka”
“Lalu setelah ini kita ka mana pak Wayan?”
“Malam ini tetap berjaga disini pak Paino, kita ke tengah hutan saja, disana ada gubuk yang sengaja saya buat untuk menyendiri”
“Eh saya mau ambil handycam saya dulu pak Wayan.. Apa bisa pak?”
“Hehehe kamu ini nekat pak Sumadi, jelas disana itu pasti ada yang berjaga, tapi coba saja pak, siapa tau aman-aman saja. Tapi nanti, tunggu mereka sampai di desa”
Jelas sekali keliatan mereka bertiga itu agus, Gusta dan Hasto. Hasto ternyata hidup kembali sesuai yang dikatakan oleh Gustin. Mereka dan pengikutnya sudah sampai di desa.
Aku berandai andai, apakah penduduk desa itu tidak marah dengan kehadiran mereka, atau penduduk desa itu malah takut dengan adanya si Agus disana.
“Mereka sudah sampai di desa pak, saya akan ke sana” kata Sumadi
“Sudahlah, kita bertiga saja yang kesana pak Sumadi, lebih baik jangan sendirian kalau ke sana”
“Tapi nanti si Randa dan celuluk ikut kita pak Wayan?”
“Nggak papa, saya bisa suruh mereka untuk tidak melakukan apa-apa”
“Nanti mereka berdua akan saya suruh sembunyi dulu, tetapi apabila saya atau kalian sebagai pemilik cincin itu dalam bahaya, mereka akan datang”
Akhirnya kami bertiga balik ke puri, ketika kami sudah ada di pintu masuk puri, ternyata memang di depan pintu masuk ada banyak mahluk aneh dengan bentuk yang sulit untuk digambarkan, karena bentuknya yang tidak normal.
Kami berdiri berhadapan dengan makhluk aneh yang wajahnya beringas ketika melihat kami, salah satunya adalah setan yang sempat bersethubhuh dengan Agus ketika aku dan Sumadi datang ke rumah bu Tina.
__ADS_1