
Apakah pak Wayan akan datang menolongku atau bagaimana….
Dua anak mengerikan itu sudah keluar dari kamar hotel dan menuju ke tempat Paino yang masih semangat menggali kuburnya sendiri.
Ketika aku sedang berpikir apa yang aku akan lakukan, tiba-tiba kakiku bergerak sendiri.
Kakiku seperti ada yang menggerakan menuju ke pojokan kamar, dimana disana ada satu buah cangkul yang dalam keadaan kotor oleh tanah.
Aku tidak bisa melawan gerakan kakiku, seolah kakiku menyuruhku untuk berjalan menuju ke arah cangkul dan pasti aku diharuskan untuk mengambil cangkul itu.
Ternyata benar yang aku perkirakan, aku sekarang berdiri di pojokan kamar tepat di depan cangkul yang harus aku ambil.
Aku hanya bisa diam dan tidak melawan ketika tangan kananku yang tanpa perintah dari otakku mengambil cangkul yang ada di pojokan ini.
Aku sudah benar-benar kehilangan kekuasaan atas tubuhku, bahkan untuk membuka mulut untuk teriak dan atau memanggil Gusta saja sudah tidak bisa. Mulutku seperti terkunci rapat!
Otakku sebenarnya masih berfungsi, aku masih bisa berpikir, tetapi anggota badanku yang lainya seperti sudah tidak mematuhi apa yang otakku perintahkan lagi.
Sudah ada yang mengambil alih perintah otakku atas anggota badanku.
“Pak Sumadi, jangan melawan dan ikuti saja apa yang sekarang sedang menggerakan tubuh pak Sumadi” kata Gusta dari luar kamar
Aku tidak bisa menjawab perkataan Gusta, aku ikuti saja apa yang dia katakan, kakiku mengajak semua anggota tubuhku menuju ke luar kamar dengan sebuah cangkul di tangan kananku.
“Nah begitu dong pak Sumadi, ayo ke sini temani pak Paino yang galiannya makin dalam” kata Gusta lagi
Aku berjalan terus hingga ada di sebuah galian yang belum dalam sama sekali, sedangkan di sebelahku ada galian dengan ukuran panjang sekitar dua meter dan di dalamnya ada Paino yang sedang sibuk mencangkul.
Beberapa kali Paino melihat aku, tetapi dia tidak berkata apa-apa, dia hanya terus mencangkul dan tidak memperdulikan aku yang ada di sebelahnya.
Aku dan Paino disuruh menggali kubur sendiri, sebenarnya apa tujuan mereka berdua.
Otakku mencoba untuk memerintah anggota tubuh agar tidak menuruti kemauan dari dua anak kembar itu, tetapi sia-sia, tidak ada respon sama sekali dengan tubuhku.
Sekarang tanganku mulai menggali tanah yang ada di depanku.
Aku hanya bisa melihat dan berusaha mencari celah agar aku bisa melarikan diri dari mereka berdua. Tetapi hutan ini sangat sepi dan gelap, lagipula aku tidak tau ada di hutan apa.
Sedangkan anehnya di belakangku ada kamar hotel dengan pintu yang terbuka lebar.
Tanganku terus menerus mencangkul tanah yang ada di depanku. Aku sama sekali tidak bisa melawan kehendak kedua tanganku.
__ADS_1
Sementara itu dua anak kembar sedang memperhatikan aku dan Paino sambil tersenyum penuh kemenangan.
Mungkin sudah ada lima belas menit aku mencangkul tanpa berhenti sama sekali.
Tapi tiba-tiba dua anak kembar itu lari meninggalkan aku dan Paino yang masih saja mencangkul tanah.
Mereka berdua meninggalkan aku dan Paino begitu saja…
Kutoleh apa dan siapa yang menyebabkan kedua anak kembar itu lari…
Ternyata ada Eh bu Tina….
Di depan kamar ibu mereka bu Tina sedang berdiri menghadap ke arahku.
“Pak Sumadi….kembali ke kamar kalian sekarang!” kata Bu Tina yang masih ada di depan kamar kami.
Tiba-tiba aku bisa menggerakan tangan dan kakiku, aku pun sudah bisa bicara. Kulihat Paino yang masih saja mencangkul, dia tidak memperhatikan aku.
“No… ayo balik ke kamar, kita sudah aman”
Tapi Paino sama sekali tidak ada reaksi, dia masih saja menggali kuburnya..
“I..itu bukan Paino bu?”
“Bukan pak Sumadi, bapak cepat masuk ke kamar hotel. Tutup pintunya, dan semuanya akan kembali seperti semula” kata bu Tina lagi
Aku berlari masuk ke dalam kamar, kemudian aku tutup pintu kamar, tapi bu Tina masih ada di depan kamarku…
Ternyata benar, di dalam kamar ada Paino yang masih tertidur pulas.
Aku menuju ke arah jendela… kusibakan gorden kamar…
“Aku benar-benar ada di kamar hotel, di luar kamar banyak mobil sedang diparkir”
Kutenangkan diriku dulu dengan duduk di tempat tidurku sejenak, sambil terus aku lihat Paino yang masih tertidur.
Apa yang barusan aku alami tadi, dan tadi aku ada di mana, dan kenapa tiba-tiba bu Tina datang.
Ketika ada bu Tina, dua anak setan itu lari meninggalkan aku dan Paino…
Kulihat bajuku…
__ADS_1
“Sialan..bajuku kotor sekali, banyak tanah yang menempel di bajuku, berarti tadi itu beneran aku sedang mencangkul tanah,” gumamku
“Tapi tadi itu ada dimana, dan apa benar yang datang itu tadi bu Tina yang biasanya berjualan makanan. Dia menyelamatkan aku?”
Aku masih bingung dengan apa yang baru terjadi…
“Di…. “
“Sumadi…. tolong ambilkan minum, aku haus sekali Di”
Kulihat Paino sudah sadar meskipun dia masih tergolek di tempat tidurnya. Suara Paino sangat lemah, aku hampir tidak mendengarnya.
“Kamu sudah bangun No?”
“Iya Di, tolong ambilkan aku minum DI, aku haus sekali” jawab Paino masih dengan suaranya yang lemah
“Sebentar No…”
Paino meminum sedikit air dari botol air mineral yang ada di kamar. Dia masih kesulitan bangun dari tempat tidur. Tapi paling tidak Paino sudah sadar.
“Di, rasanya ngantuk sekali, sangat ngantuk seolah aku kesirep Di, sekarang tubuhku lemas sekali. Sebenarnya apa yang terjadi dengan aku, terakhir yang aku ingat kita kan ada di mobil”
“Buat tiduran saja No, sehatkan tubuhmu dulu, nanti aku ceritakan apa yang terjadi dengan kamu”
“Iya Di…. uuugh tadi aku mimpi aneh sekali. Aku tadi mimpi sedang menggali kubur di tengah hutan Di”
“Sudah No, nanti saja ceritanya, tunggu kamu kuat dulu saja No”
Paino tertidur lagi, sekarang sudah pukul 03.30 pagi…
Aku bingung dengan yang kami alami, tadi Paino sempat bicara kalau dia mimpi sedang menggali kuburnya, berarti yang diimpikan Paino ini sama dengan yang aku alami barusan.
Tapi nanti saja aku klopkan yang aku alami dengan mimpi Paino ketika dia sudah bangun dari tidurnya.
Aku tetap duduk di pinggir tempat tidur sambil berusaha berpikir logis apa yang sedang terjadi kepadaku dan tentang mimpi Paino, tetapi tetap saja aku tidak bisa mengambil kesimpulan.
Inti dari semua ini adalah permainan ghaib dari dua anak setan itu, tapi anehnya mereka berdua sangat ketakutan dengan ibunya, mereka masih takut dengan orang yang sudah melahirkan mereka berdua.
Lama kelamaan aku ngantuk akibat dari udara dingin yang keluar dari AC kamar, aku belum sempat mengganti pakaian karena aku masih merasa ketakutan apabila harus ke kamar mandi.
“Huuaaahmm.. Ya sudahlah, tak tinggal tidur aja apapun yang terjadi”
__ADS_1