
Selama berjalan menuju ke arah hutan aku selalu bertemu dan berpapasan dengan orang yang ke dan dari desa seberang hutan, mereka selalu menyapa aku dengan ramah.
Hutan ini sama sekali berbeda keadaanya dengan sebelumnya, sampai disini aku masih belum tau apa yang sedang terjadi, aku masih meraba siapa yang ada di puri sana itu.
Aku tau letak posisi puri pak Wayan, dan saat ini aku berada di tanah kosong penuh dengan semak dan pohon besar, tidak ada bangunan atau bekas bangunan disini.
Kuperhatikan dengan seksama, dan tetap aku tidak menemukan petunjuk apapun.
Akhirnya aku lanjutkan jalan menuju ke puri yang semalam ditunjukan oleh dua remaja Ketut dan Made. di ujung jalan ada tikungan, dan tidak jauh dari sana sudah terlihat bangunan yang semalam aku ke sini.
Semakin dekat dengan bangunan itu semakin aku deg deg an, aku penasaran dengan siapa aku akan bertemu.
Sesampai di depan pintu gerbang, kuperhatikan lagi bentuknya. Memang ada perbedaan dengan yang milik pak Wayan itu, tapi entahlah.
Ketika aku sedang menunggu di depan, tiba-tiba pintu gerbang terbuka, dan seorang laki-laki tua keluar dari sana. Aku harus sapa orang ini agar aku mendapat info yang sebenarnya
“Maaf bapak, apa benar Ajik Darma tinggal disini?”
“Iya benar, eh bapak siapa ya?” sambil melihat pakaianku dan akhirnya dia fokus ke cincin dan keris yang ada di pinggangku
“Eh nama saya Paino, saya dari jawa. Apa saya bisa bertemu dengan Ajik Darma?” kulihat dia masih melihat ke arah cincin yang aku pakai
“Tunggu disini dulu, saya akan panggilkan dulu, tunggu ya” kata orang tua itu kemudian masuk ke dalam puri dengan tergesa gesa
Lama juga aku berdiri didepan pintu gerbangnya, sudah ada belasan kali orang lewat di depanku, dan mereka selalu menyapaku. Sangat berbeda dengan ketika aku ada di puri pak Wayan… tidak ada orang yang lewat depan purinya sama sekali.
Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Orang tua tadi muncul bersama dengan laki-laki tinggi besar gagah dan terlihat sudah berumur. Dia menatapku dengan curiga
__ADS_1
“Anda siapa?” sebuah pertanyaan yang singkat namun tidak bersahabat
“Saya Paino dari jawa pak, saya ingin bertemu dengan Ajik Darma”
“Ya saya sendiri yang kamu cari, ada perlu apa mencari saya, dan itu yang kamu pakai, kamu mendapatkan itu dari mana?”
“Aduh sulit untuk menjelaskannya Jik, eh bisa kita ngobrol sebentar, karena saya juga sedang dalam keadaan bingung”
“Mari masuk, semoga kamu bisa menjelaskan tentang keris dan cincin itu” Ajik Darma mengajak aku masuk dan di belakangnya orang tua yang mungkin seorang abdinya itu ikut masuk dan menutup pintu gerbang
Suasana di dalam puri sangat jauh berbeda dengan ketika aku ada di tempat tinggal pak Wayan. Disini terlihat jelas aktivitas penghuninya, beda dengan ketika aku ada di tempat pak Wayan yang sepi.
Padahal dia pernah bilang kalau ada lebih dari lima kepala keluarga disana, tapi aku sama sekali tidak pernah lihat keramaian disana, hanya pak Ketut saya yang beberapa kali aku temui.
Seperti biasa kami menuju ke bale apa namanya aku sudah lupa… bentuk dan ukuranya hampir sama, bedanya disini ada karpet yang bersih saja.
“Pak Ngurah, tolong bikinkan kopi, kita akan lama ngobrol dengan orang jawa ini” suruh ajik Darma kepada abdinya
“Nama saya Paino, saya bukan berasal dari masa ini. Eh begini pak Jik Darma, saya akan ceritakan apa yang terjadi dengan saya, tetapi tolong sikapi dengan bijak, dalam artian jangan menyela dulu apa yang tidak masuk akal dari cerita saya”
Sulit untuk bercerita tentang apa yang terjadi dengan aku, tapi aku harus cerita semuanya sedetail mungkin, kulihat wajah Jik Darma sama sekali tidak ada kesan menyepelekan ceritaku, dia mendengarkan seluruh ceritaku dengan serius.
Pupil matanya membesar ketika aku cerita tentang cincin, Randa, Celulu, dan terakhir tentang keris. Wajahnya sedikit memerah memendam amarah.
“Itu yang terjadi dengan saya pak Jik Darma.. Sekarang saya kehilangan sahabat saya, orang yang saya lindungi, dan orang yang membantu saya. Dan sekarang saya tidak tau saya ada di masa apa, saya tersesat pak Jik Darma”
“Panggil saya Pak Darma saja…” potongnya
__ADS_1
“Hmm pertama ceritamu ini seperti yang pernah diceritakan orang tua saya, kedua cincin dan keris itu adalah harta leluhur kami yang sudah lama hilang, ketiga saya percaya dengan cerita bapak”
“Dulu waktu orang tua saya masih ada, dia pernah cerita bahwa ada orang jawa yang datang dari masa depan untuk mencari sesuatu di sini, tapi kemudian ada lagi orang dari jawa yang datang untuk menyerang orang yang sedang mencari sesuatu itu”
“Tapi hingga sekarang ayah saya tidak pernah tau siapa itu yang datang, dan kemudian pergi hilang begitu saja, dan menurut cerita ayah saya, dalang dari semua ini adalah dukun di sini”
“Seumur hidup saya tidak pernah tau disana ada puri, selama ini hanya ini saja puri disini. Sepertinya bapak eh bapak Paino mempunyai masalah yang tidak ada jalan keluarnya, seperti kata ayah saya”
“Dan tentang cincin dan keris, itu adalah peninggalan leluhur kami yang tiba-tiba saja hilang, keris itu memang sepasang. Dulu saya pikir karena mereka tidak kerasan ada disini, dan mencari pemilik yang baru”
“Sekarang apa yang harus saya lakukan pak Darma?”
“Saya tidak tau, kamu tinggal disini saja dulu hingga saya mendapatkan cara untuk memulangkan kamu”
“Tidak ada cara lain supaya saya bisa kembali pak Darma?”
“Belum ada, saya belum bisa memikirkannya sekarang, pokoknya pak Paino sementara ini bisa tinggal bersama kami”
“Oh iya pak Darma, saya ijin untuk melihat tempat terakhir kali saya melihat kawan saya dan orang yang kami selamatkan, siapa tau disana ada sedikit petunjuk pak”
“Kamu yakin pak Paino?”
“Mungkin pak, karena kata sesuatu yang merasuki salah satu dari yang kami selamatkan bilang kalau disana itu adalah tempat yang netral dan aman”
“Eh kamu ditemani Ngurah kalau mau ke sana, hutan itu cukup bahaya bagi yang belum pernah masuk ke sana”
*****
__ADS_1
Aku dan pak Ngurah menuju ke tempat terakhir aku bersama Sumadi, Gustin dan bu Tina. aku tidak tau apa yang sedang terjadi denganku, apakah Agus sudah memenangkan pertempuran atau sebenarnya pak Wayan sumber dari masalah ini.
Dan kalau aku benar-benar terdampar disini, ini jelas bukan kabar yang baik bagi aku dan keluargaku!