
“Selamat malam pak Wayan” kata Sumadi
“Santai dulu disini pak Sumadi dan pak Paino, eh kalian mau minum kopi, Kopi asli sini rasanya beda lho ya”
“Boleh pak Wayan”
Pak wayan menyuruh orang yang masih berdiri di sampingnya untuk membuatkan kopi bagi kami berdua, kayaknya orang itu adalah suruhan atau pembantunya pak Wayan.
“Maaf pak Wayan, yang namanya Ajik Darma itu siapa ya, tadi bapak itu bilang mau memanggil Ajik Darma dulu”
“Hahaha itu saya pak Paino, nama saya I Gusti Wayan Sudarma. Orang yang tadi itu abdi saya”
“Saya tadi sempat khawatir…. saya khawatir kalau pak Paino dan pak Sumadi tersesat”
“Maaf pak Wayan eh Ajik Darma, saya dan Sumadi ini ada dimana?”
“Hahaha panggil saya pak Wayan saja, kalian ada di rumah saya”
“Kalian ada di puri saya, kalian saya tarik dari masa kalian ke masa ini”
“Perlu kalian ketahui, ini bukan alam ghaib, memang kalian saya tarik kesini karena kalian sedang dalam bahaya besar”
“Kenapa kalian saya tarik kesini, karena bahaya yang mengintai kalian ini sama dengan bahaya yang sedang saya alami”
“Kalian sudah tau kan siapa yang menyerang kalian, yang menyerang kalian itu sama saja dengan dukun yang membuat ruang kembar bawah tanah, orang itu sama dengan orang yang ingin mencuri harta yang saya tunjukan ke bapak-bapak itu”
“Jadi ada baiknya kalian saya tarik kesini saja, karena apa? Karena di zaman ini kalian tidak berbeda dengan mereka. Maksud saya disini kita setara”
“Berbeda apabila di jaman kalian, kalian jelas tidak akan mampu melawan mereka, karena kekuatan mereka yang tidak bisa ditandingi”
“Bagaimana pak Wayan tau kami dalam bahaya?”
“Saya punya bawahan setia yang selalu mengawasi pak Paino dan pak Sumadi”
“Tapi bagaimana dengan supir taksi itu pak Wayan?”
__ADS_1
“Dia sudah dikembalikan ke zaman kalian tanpa kurang satu apapun, dia juga lupa kalau pernah bawa kalian berdua”
“Oh iya pak waktu di dalam taksi cincin kami hangat dan warna merahnya sedikit bersinar, tandanya apa ya pak?”
“Penjelasanya sukar, tapi mudahnya itu gini, cincin itu akan berubah apabila ada energi yang ingin menyerang kalian”
“Yang difokuskan adalah energi yang akan menyerang, bukan hanya energi jahat saja, karena ada pula energi baik yang niatnya tidak baik”
“Maka dari itu daripada ada apa-apa, kalian saya tarik kesini saja, saya menarik kalian kesini bukan tanpa ada sebab, karena saya merasa pencari harta sudah akan masuk ke zaman ini, entah bagaimana caranya mereka sudah akan sampai disini”
“Saya minta bantuan kepada kalian berdua karena saya yakin kalian bisa membantu saya”
“Berarti kami akan ada disini selama orang itu ada disini pak Wayan?
“Benar pak Paino, di puri ini masyarakatnya hidup damai, kami sudah melewati berbagai karma hingga tiba pada kedamaian, saya tidak mau mengotori apa yang sudah kami capai dengan urusan duniawi seperti mereka itu”
“Oh ya pak Wayan, ketika tadi kami jalan ke sini, kami diikuti dua makhluk yang aneh dan mengerikan, taring panjang dan ah pokoknya ngeri pak”
“Itu Rangda dan Celuluk. Mereka sangat jahat, tapi mereka tidak akan menyerang kalian, karena kalian menggunakan cincin dari puri ini. Mereka berdua sudah mempunyai kesepakatan dengan kami”
“Iya pak Sumadi, jadi eh dari jaman dulu hingga jaman kalian ini berada, di pulau ini ada semacam apa ya…eh kerajaan kecil lah istilahnya hehehe”
“Gampangnya pemukiman dengan pemimpin seorang yang mempunyai garis keturunan orang-orang yang mempunyai kekuasaan secara turun temurun”
“Eh sekarang kalian istirahat dulu saja, ketut sudah siapkan pakaian dan keperluan kalian, besok pagi kita akan mulai ngobrol pak, besok kan saya tunjukan tempat yang pernah kalian datangi waktu kalian mendapatkan cincin itu”
“Jadi ini nyata ya pak, bukan alam ghaib atau apa?”
“Bukan pak Paino ini nyata, saya juga nyata, saya masih hidup. Kalian ada disini juga bukan raga halus kalian yang jalan, tetapi tubuh kalian yang saya ajak ke zaman ini, ini zaman ketika saya masih hidup”
“Sudah pak Paino dan pak Sumadi, saya kesulitan kalau harus menjawab pertanyaan kalian, karena saya sendiri sulit untuk menjelaskannya. Pokoknya kalian saya ajak ke jaman ini, dimana saya masih hidup dan sebagai pimpinan disini”
“Tapi ingat, ini bukan di masa ketika kalian saya ajak di sebuah kerajaan, waktu itu tubuh halus kalian yang saya ajak, dan saya pun ke sana juga menggunakan tubuh halus saya, karena di masa jaman kerajaan itu jauh dari masa ini”
“Sudahlah pak… sulit menjelaskannya, dan tidak akan masuk akal sama sekali” kata pak Wayan yang keliatanya bingung juga
__ADS_1
“Sekarang kalian istirahat dulu, kopi ini nanti akan diantar ketut ke kamar, dan di kamar nanti akan disediakan makanan halal untuk kalian berdua”
“Pak Wayan, eh kami kebetulan membawa kamera ini, apa kami boleh merekam rumah ini?” tanya Sumadi
“Oh silakan, tidak masalah, pokoknya jangan sampai membuat bingung dan kacau penduduk puri sini ya hehehe”
Aku nggak tau kami disini ada di tahun berapa, tetapi kalau dilihat dari pakaian dan bangunannya mungkin kami ada di masa penjajahan Belanda.
Sumadi sesekali merekam keadaan disini dengan kamera handycamnya, tapi hanya sesekali saja, karena kami menghemat baterai.
Udara disini dingin dan bau daun daun hutan, sesekali aku mencium aroma sisa dari dupa yang mungkin sudah dibakar dari tadi,karena baunya tidak seberapa tajam.
Suasana tenang ala pedesaan sungguh membuat aku ngantuk.
Ketut yang merupakan abdi dari pak Wayan mengantar kami ke kamar yang ada di belakang bale ini, jadi mungkin bale yang sedang kami duduki ini merupakan ruang untuk menerima tamu, sedangkan di belakangnya ada pintu dengan ukiran, dan disanalah kami disuruh menginap.
“Ini apa namanya pak Ketut?”
“Ini bale dauh pak, biasanya Ajik Darma ngobrol dengan tamu disini, sedangkan kamar yang bapak tempati itu sebenarnya milik anak laki-laki Ajik Darma, tetapi anak beliau lebih memilih tinggal di kota, karena dia kerja di pemerintahan daerah”
“Ya sudah pak Ketut, terima kasih banyak ya pak”
“Kalau pak Paino dan pak Sumadi perlu dengan saya, saya ada rumah depan sana pak” tunjuk pak Ketut pada rumah yang diluar lingkup milik pak Wayan ini
Karena keadaan disini yang sejuk dan sepi, akibatnya aku dan Sumadi tidak butuh waktu lama untuk bisa tidur.. Tapi sebelumnya kami makan dulu makan malam yang disediakan oleh pak Ketut.
*****
Pagi hari, suara kokokan ayam sangat nyaring, ya memang didengar enak, tapi untuk aku yang masih bermalas-malasan cukup terganggu juga.
“No bangun, nggak enak sama pak Wayan kalau kita bermalas-malasan seolah olah kita ini sedang berwisata aja heheh”
“Dari tadi aku sudah bangun Di, itu suara ayam keras sekali, ngganggu tidurku aja”
“Iya No, tugas kita disini nggak mudah rek, hahaha kita akan lawan Agus dan mungkin juga dengan kedua anaknya juga kan”
__ADS_1
“Iya Di, ya wislah, ayo kita keluar dari kamar”