Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 47. PANGGIL SAYA PAK WAYAN


__ADS_3

Aku sudah tidak bisa berpikir logis lagi, jadi apa yang Sumadi suruh aku akan lakukan tanpa membantah, tanpa memperkirakan apakah berbahaya atau tidak.


Aku sudah tidak bisa menganalisa lagi siapa yang menyuruh Sumadi dan apakan yang menyuruh itu akan menyeret kami ke hal yang mengerikan atau malah akan menyelamatkan kami dari ruangan ini.


“Yang disana…dibawah sofa itu No…pinggirkan dulu Sofanya”


“Bantu aku Di….”


“Nggak bisa No, keadaan ini penting bagi kita untuk membuat dokumentasinya…”


“Ingat kita ini harus membuat dokumentasi, siapa tau kita tidak selamat dari sini, dan yang menemukan handycam ini akan tau situasi kita sebelum kita mati”


“Aaaah… ya sudah, kamu tetap memvideo aku, aku akan sebisa mungkin menggeser sofa itu”


Aku coba geser, ternyata sofa itu tidak berat, jadi meskipun mahal, bahan baku sofa itu tidak seberat yang aku pikirkan sebelumnya.


Dengan menggunakan cahaya senter yang aku taruh terbalik di meja, aku geser sofa itu perlahan-lahan.


“Sekarang singkap karpet tebal itu No” kata Sumadi yang masih sibuk dengan handycamnya


Aku singkap perlahan-lahan….


Ternyata ada pintu…ternyata di bawah karpet ini ada pintu yang terbuat dari kayu.. Pintu yang lebarnya sekitar 60x60cm.


“Ada pintu Di, gimana kita buka pintu itu atau gimana”


“Ya tentu saja buka pintu itu No, suara itu soalnya sudah nggak ada lagi, dia tadi kan menyuruh aku untuk membuka karpet itu saja”


“Aman gak ini Di?”


“Terserah kamu No, pilih masuk ke situ atau yang ada di ruang sebelah yang kayaknya haus darah itu mendatangi kita berdua”


“Yo wis… tak buka pintu ini!”


Aku jongkok dan memegang celah di daun pintu yang terbuat dari kayu itu, celah ini ternyata pas dengan tanganku. Aku tau guna celah ini untuk mengungkit pintu, dan menarik hingga terbuka.


Pasti akan sangat berat, karena aku rasa pintu kayu yang ada di bawah ini tidak pernah dibuka, bahkan jangan-jangan pemiliknya juga nggak pernah membuka pintu ini.


Ternyata di luar prediksiku….


Pintu atau tingkap yang ada di bawah karpet ini sangat mudah untuk ditarik ke atas. Dan sama sekali tidak menimbulkan bunyi engsel yang berkarat.


“Kasih cahaya No, biar kita yakin apa yang kita lakukan ini benar”

__ADS_1


“Iya Di, sik sebentar…. senterku ada di meja itu”


Ruangan yang ada dibawah ini sangat gelap, ketika aku arahkan cahaya senter ke dalamnya, ternyata aneh… sangat aneh!


Bukan ruangan, tetapi yang aku lihat adalah aliran sungai dan batuan….


Yang ada di bawah kami ini bukan ruangan lagi, melainkan aliran sungai dengan debit air yang kecil dan batu-batuan besar seperti batu gunung yang biasanya ada di dasar sungai.


“Itu kayaknya dasar sungai Di, rumah ini menggantung di dasar sungai… gimana kita masuk ke sana Di?”


“Kata suara yang ada di tubuhku nyuruhnya kita ke arah sana, sekarang kalau kita nggak ke sana kita mau ke mana lagi, nggak ada jalan untuk keluar dari rumah ini kan No”


“Cepat No, jangan kelamaan mikir, kita nggak ada pilihan lain, kita harus susuri sungai yang mirip jurang itu saja, nanti kita cari jalan keluar dari sana”


“Yakin di dasar sungai itu tidak ada apa-apa Di?”


“Cepat… turun!” bentak Sumadi


Aku rasa ini adalah jalan terbaik dari yang terburuk, dan satu-satunya cara untuk bisa keluar dari rumah itu. Rumah yang aneh karena tiba-tiba pintu yang mengarah ke luar tiba-tiba hilang.


Jarak antara lubang dan dasar sungai yang berupa aliran sungai yang kecil itu sekitar satu setengah hingga dua meter…


Aku langsung lompat ke aliran sungai yang sangat kecil debit airnya….


*****


Aku ada dimana?


Bukannya tadi aku loncat ke dasar sungai yang berair, harusnya aku basah dan ada di dasar sungai yang mirip jurang. Sekarang kenapa aku ada di sebuah apa ya ini namanya.


Eh aku ada di sebuah tempat yang mirip dengan pendopo di desa, tapi yang ini jauh lebih kecil, atau mungkin bisa disebut ini adalah sebuah saung, atau bisa disebut dengan bale ya mungkin.


Bangunan yang mirip bale ini tidak sendirian, ada bangunan kecil lainnya yang ada di antara saung atau pendopo, atau bele ini.


Jangan-jangan aku ada di rumah kakek tua dengan udeng itu. Tapi mana si Sumadi?


“No… “


“Lho di kamu ada disini juga…kamu dari mana Di?”


Sumadi berjalan dari ruangan yang ada di sebelah kananku, kalau menurut yang Sumadi cerita, ruangan itu adalah bangunan utama dari ruman pak tua dengan udeng.


“Kita ada di rumah bapak tua dengan udeng No…” kata Sumadi sambil berjalan menuju ke bale tempat aku duduk

__ADS_1


“Kenapa bisa kita ada disini, bukannya kita ada di dasar sungai Di?”


“Aku juga nggak tau, semua ini kan terjadi dengan cara ghaib No, nanti saja biar pak tua itu yang jelaskan kenapa kita ada disini”


Sumadi sudah ada di sebelahku, kami duduk bersila di sebuah tempat yang mirip dengan pendopo. Aku nggak tau harus ngapain karena sampai saat ini bapak tua itu belum, menampakan wujudnya.


Sedangkan Sumadi juga hanya diam sambil duduk bersila di sebelahku.


Bau wangi dupa sangat memanjakan hidungku, bau yang sedikit tajam ini entah gimana bisa membuat otakku tenang dan berhenti berpikir yang tidak-tidak untuk sementara waktu.


Aku ingat di tempat tinggalku, ada sebuah rumah milik keluarga tionghoa, keluarga tionghoa itu pada waktu-waktu tertentu menyalakan dupa juga.


Tetapi bau wangi yang keluar dari dupa itu berbeda dengan bau wangi dupa yang ada pulau ini, apalagi dengan bau aroma dupa yang ada di tempat ini.


Aku sangat menikmati suasana tenang, damai dan bau dupa yang memberikan sensasi tenang di otakku.


Tempat ini sama sekali tidak panas, dengan angin semilir yang menyejukan, aku benar-benar menikmati suasana disini….


Beberapa kali aku menguap, rasa kantuk yang datang tiba-tiba ini seolah nggak bisa dilawan…


Tiba-tiba dari arah kiri berjalan seseorang yang aku pikir dari tadi, kakek tua dengan udeng di kepalanya. Dia berjalan dari arah kiri sambil tersenyum kepadaku.


Kalau nggak salah sesuai dengan yang dikatakan Sumadi,  di sebelah kiri itu adalah tempat persembahyangan.


“No… ini kakek tua yang beberapa kali kita temui itu” bisik Sumadi yang ada di belakangku


Kakek tua itu tidak bicara sama sekali, dia hanya tersenyum saja, kemudian dia duduk di sebelah kami di bale atau pendopo tempat kami duduk.


“Selamat datang di rumah saya yang sederhana ini” kata orang tua itu menggunakan bahasa daerah disini, tapi anehnya aku paham dengan bahasa itu. Seolah bahasa daerah disini merupakan bahasa keseharian aku


“Eh iya pak….” aneh, aku tiba-tiba mahir berbahasa daerah disini, reflek otakku menyuruh aku untuk menjawab ucapan selamat datang dari kakek itu.


“Panggil saja saya pak Wayan” kata orang tua itu sambil tersenyum


“Saya Paino dan teman saya itu Sumadi pak… eh kami ada dimana ya pak Wayan?”


“Tenang, kalian tidak usah takut, kalian saya selamatkan dari wong samar haus darah yang ada disana”


“Tidak usah takut dengan saya, saya tidak ada maksud jahat dengan kalian, bukankah kalian ini juga tidak ada maksud jahat dengan wong samar yang ada di rumah itu”


“Kalian tidak pernah melakukan sesuatu dengan mereka kecuali hanya ingin dekat dan merasakan kehadiran mereka”


“Meskipun kalian sudah berdarah-darah dan mati beberapa hari lalu, tapi kalian masih saja ingin tau apa yang ada di rumah itu kan hehehe”

__ADS_1


“Saya mengundang kalian ke sini tentu saja ada maksudnya… nanti akan saya jelaskan kenapa kalian saya undang ke rumah saya” kata orang tua berudeng yang minta dipanggil pak Wayan saja


__ADS_2