
“Selamat malam, sekarang sudah pukul 20.10. Dan karena kami sudah ada disini, maka kami akan teruskan saja untuk mengeksplorasi tempat ini”
“Kami berdua sekarang masih ada di ruangan bawah tanah, setelah kami tadi ketiduran, dan bangun ternyata sudah malam”
“Saya jelas kaget dan takut karena keadaan gelap gulita, sangat gelap!. Mata saya saja tidak bisa melihat bayangan apapun, berbeda dengan ketika di atas, mata saya masih bisa melihat anggota tubuh saya, dan Sumadi teman saya”
“Dan sekarang ditambah dengan suara aneh yang entah dari mana asal suara itu, tetapi yang jelas suara seperti gesekan dan pukulan yang sangat lemah itu bisa berasal dari tempat ini”
“Tujuan kami selanjutnya setelah ruang tamu bawah tanah yang luar biasa ini, kami akan memasuki pintu yang ada di sebelah meja makan, satu-satunya pintu adalah yang ada dbelakang sebelah meja makan”
“Dan kami harus tau apa yang ada disana, sesuai dengan tujuan kami ada di rumah ini”
“Siap Di… kita buka pintu yang entah menuju ke mana itu?”
“Siap No, ayo kita lakukan saja, apapun resikonya ini memang pekerjaan kita No, dan jangan lupa untuk meminta ijin dulu sebelum masuk ke ruangan manapun, karena saya rasa tiap ruangan yang ada disini itu berbeda penghuninya”
Sumadi selalu mengingatkan aku untuk meminta ijin kepada penghuni ruangan, aku tau kadang aku lupa untuk meminta ijin apabila masuk ke sebuah ruangan yang berbeda.
Aku dan Sumadi sudah ada di depan pintu ruangan yang akan kami masuki berikutnya, cahaya senterku sudah menerangi daun pintu dari ruangan yang akan kami masuki.
“Permisi untuk penghuni ruangan yang akan kami masuki selanjutnya, kami datang ke sini bukan untuk berbuah kejahatan kepada kalian, kami bukan akan mengusir kalian, kami bukan untuk uji nyali”
“Tetapi kami datang ke sini hanya untuk merasakan apa yang ada di ruangan yang akan kami masuki ini. Kami hanya ingin berinteraksi dengan kalian, kami tidak mempunyai keahlian dan ilmu apapun yang gunanya untuk melihat wong samar yang ada disini”
Setelah aku rasa keadaan sudan aman, aku mulai memegang handle pintu dan memutar handle pintu itu, pintu aku buka dengan mendorong ke arah dalam ruangan.
Suasana gelap gulita menyambut kami yang akan masuk ke dalam. Aku belum menerangi ruangan itu dengan cahaya senterku, sengaja aku lihat dulu dalam keadaan gelap.
Tapi sama-samar aku bisa lihat sesuatu di dinding ruangan ini…
Kaca… dinding kaca yang bagian luarnya menggambarkan suasana di luar… di jurang sungai!
Luar biasa indah dan mengerikan… karena kelihatannya rumah ini dibangun di dinding jurang, kalau dari atas, atau dari bangunan utama, kami merasa ini hanya sebuah rumah yang tidak besar.
“Selamat malam, pukul 20.30 kami sudah ada di ruangan yang entah apa namanya ini, karena sangat gelap dan saya belum mengarahkan sinar cahaya senter ke arah ruangan ini”
“Tetapi yang pasti dan yang bisa saya bilang luar biasa adalah dinding ruangan bawah tanah berikutnya ini”
__ADS_1
“Di salah satu dinding ruangan ini terbuat dari kaca, dan kaca itu di bagian luarnya menampilkan pemandangan tebing sungai yang penuh dengan tanaman liar dan batu-batuan”
“Rasanya kayak melihat sebuah diorama atau aquascape…di dalam sini gelap sedangkan di luar atau di balik dinding kaca itu reman-remang cahaya bulan yang menerangi jurang sungai”
“Saya bisa bicara seperti ini karena cahaya bulan yang samar sebagian bisa sampai hingga ke dasar sungai”
“Sehingga tanpa cahaya senterpun saya dan Sumadi yang ada di pintu masuk ke ruangan ini bisa lihat apa yang ada di balik dinding kaca itu”
“Saya tidak bisa dan tidak tau apakah ini sebuah keindahan atau sebuah kengerian…”
“Tapi yang jelas di dalam keadaan yang sangat gelap ini saya begitu takjub melihat pemandangan tebing sungai yang ada di balik dinding kaca itu”
“Baiklah saya akan mulai menerangi ruangan ini dengan cahaya sinar senter”
“Kita akan lihat apa yang ada di dalam ruangan yang dinding kacanya menghadap ke arah dasar sungai”
“No… berarti dinding kaca itu tegak lurus dengan yang ada rumah atas ini ya?”
“Iya benar Di, aku rasa juga gitu, ruangan dengan dinding kaca ini tegak lurus di ruang tengah yang bersofa mengerikan itu”
Sekarang aku bisa melihat apa saja yang ditunjukan oleh ruangan ini…
“Astaga…..”
“Tempat ini benar- benar mewah, sinar senter saya menerangi bagian ruangan yang berikutnya, disini sepertinya adalah ruang tamu… eh tempat untuk berkumpul juga”
“Yah cukup aneh untuk orang kaya yang suka buang-buang uang juga….”
“Disini ada sebuah sofa yang mirip dengan yang ada di ruangan yang sebelumnya, juga ada tv berukuran besar juga yang tergantung di dinding, juga ada meja bar, juga ada meja makan.. Dan berkarpet tebal juga”
“Semuanya sama baik bentuk, motif, dan cara penempatanya…. Semua sama, tidak ada yang berbeda sama sekali… aneh juga. Apa tujuan dari pemilik rumah ini untuk membangun ruangan yang sama dengan yang ada di sebelahnya”
“No, kamu merasakan tidak kalau ruangan yang ada disini merupakan copy paste dari ruangan tempat kita tidur tadi, hanya saja beda dinding, yang ini berdinding kaca, sedangkan yang sebelumnya tidak ada dinding kacanya”
“Iya Di… ukuranya pun kayaknya sama, lalu apa gunanya dua ruangan yang sama dengan perabot yang sama…?”
“Semua ini pasti ada tujuannya, tidak mungkin seseorang membangun sebuah ruangan yang sama dengan di sebelahnya. Yang berbeda hanya dindingnya saja”
__ADS_1
“Dinding kaca yang menghaturkan pemandangan dasar sungai yang bagi saya mengerikan”
Rasa penasaran akan ruangan ini dan dinding kaca yang ada di depanku membuat aku ingin sekali mendekat ke sana.
Aku mulai melangkah masuk ke ruangan yang sebagian dindingnya berupa kaca…
Tetapi baru saja dua langkah aku berjalan, aku mulai merasakan adanya perbedaan…
Aku nggak tau apa itu, tetapi yang jelas sekarang aku mulai merasakan adanya perbedaan meskipun kedua ruangan ini isinya sama dan bisa saja ukurannya juga sama yang hanya dibatasi sebuah tembok dan pintu saja.
Perbedaan yang mencolok adalah suhu udara yang tiba-tiba menjadi dingin.
“Ruangan ini isinya sama persis dengan ruangan ketika saya dan Sumadi tidur, ketika tadi kami masuk, rasanya tidak ada yang berbeda. Tetapi sekarang…..”
“Sekarang saya bisa merasakan adanya perbedaan suhu udara yang tiba-tiba berubah menjadi dingin”
“Saya rasa…berdasarkan pengalaman saya selama ini, di tempat yang angker apabila suhu udara mendadak dingin itu artinya ada di sekitar kami ada mahluk halus yang yang sedang mendekati kami”
“Saya tidak berani melangkah lebih jauh masuk ke dalam ruangan yang copy paste dengan ruangan tempat kami ketiduran tadi”
“Saya tidak mau dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan kami”
“Kami berdua hanya berdiri mematung sekitar tiga langkah dari pintu yang mengarah ke ruangan tempat kami tadi ketiduran"
“Yang saya rasakan sekarang udara dingin ini menyelimuti saya, tetapi berbeda dengan yang ada di ruangan atas, yang mirip dengan lilitan ular” aku mulai bicara berbisik
“Yang sekarang kami rasakan seperti kalau kita memasukan kepala kita ke freezer kulkas, jadi hawa dingin itu seolah melingkupi tubuh kami”
“Oh iya, sampai saat ini saya masih bisa mendengarkan suara seperti suara gesekan dan pukulan yang lemah”
“No stop!…jangan melangkah lagi” kata Sumadi tiba-tiba
“Ada apa Di?”
“Sudah diam jangan banyak tanya, dan mundur di sampingku, dan lihat apa yang kita peroleh di handycam mode gelap ini”
Awalnya aku nggak tau kenapa Sumadi tiba-tiba menyuruh aku untuk mundur dan mendekati dia. Tapi setelah aku tengok apa yang ada di layar handycam aku baru paham kenapa dia menyuruhku untuk mendekat.
__ADS_1