Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 80 . DI DALAM RUMAH BU TINA


__ADS_3

Setelah penjelasan dari pak Wayan tentang tata cara bagaimana kami harus bertindak, akhirnya kami pergi juga dari rumah belakang setra.


Kami melayang.. Ya kami melayang, bukan melompat atau berjalan di atas permukaan tanah. Saat ini malam hari, dan kami melayang di atas jalan yang sepi.


Kedua ular dengan warna yang berbeda ini ada diantara aku dan Hera, sesekali salah satu dari ular itu melihat ke arah aku dan Hera, mungkin ingin mengecek keadaan kami.


“Mbak Hera, kamu ingat dan masih tetap memikirkan posisi rumah bu Tina? Soalnya saya agak lupa”


“Masih pak, Hera berpikir dan tubuh Hera rasanya bergerak sesuai pikiran Hera pak”


“Iya mbak Hera, tapi ngeri juga ya, sepanjang jalan kita lihat mahluk dengan berbagai model yang mengerikan mbak”


“Iya pak, jangan dilihat pak, kita lihat ke depan saja, jangan melihat mereka”


“Iya mbak Hera… eh cepat sekali ya mbak Hera, kalau  nggak salah depan itu belok kiri dan kita udah sampai di depan rumah bu Tina ya mbak?”


“Betul pak, tapi ada yang sekarang jadi pikiran Hera pak, di depan rumah bu Tina itu penuh dengan mahluk halus, disana itu seperti tempat penampungan mahluk halus pak”


“Yah kita lihat saja nanti mbak, apakah kedua ular ini mampu membuat mereka yang ada disana itu sedikit menyingkir tanpa ada perkelahian mbak”


Aku dan Hera ini bukan ada di alam ghaib, kami masih di alam kami, hanya saja mungkin kami sekarang seperti hantu, jadi sulit untuk dijelaskan dengan logika.


Apa yang  aku lihat ini ya tetap biasa, ada mobil , motor, dan ada orang yang sedang begadang sambil ngarak, tapi aku dan Hera sekarang menjadi hantu, mungkin itu yang bisa dijelaskan.


“Itu pak Paino rumah bu TIna, lihat disana penuh dengan mahluk ghaib yang hanya duduk, bergelantungan, menempel, berdiri.. Pokoknya rumah itu penuh. Sekarang gimana pak?”


“Tetap jalan kesana saja, kedua ular ini tau apa yang harus mereka lakukan mbak, seharusnya begitu”


“Kalau ada dua anak setan dan pengawalnya bagaimana pak?”


“Saya kira pak Wayan sudah memperhitungkan hal ini mbak. Dia kan bilang kalau mata ular ini adalah mata dia juga, jadi kita tetap jalan kesana saja”


“Mbak Hera, tujuan kita kesana itu ngapain sebenarnya?”

__ADS_1


“Hehehe Hera juga bingung pak, sebenarnya tujuan kita ini apa, tapi eh kita lakukan pengamatan saja dulu pak, siapa tau ada  sesuatu yang menarik dari yang ada di rumah itu”


“Eh atau kita lihat apa yang sedang dilakukan oleh keluarga itu saja dulu pak?”


“Ah itu terlalu sederhana dibanding dengan apa yang sedang kita lakukan saat ini mbak. Kalau hanya pengamatan saja saya rasa kok sia-sia kita melakukan perjalan seperti ini,  kita ajak bicara bu Tina saja dan cari sesuatu yang mencurigakan di rumah itu dulu saja mbak”


Kami tetap melayang seperti sebelumnya hingga akhirnya kami sudah ada di depan rumah bu TIna.


Rumah ini memang penuh dengan mahluk ghaib dengan berbagai macam bentuk yang sangat ganjil dan aneh, mereka semua hanya ada di rumah bu TIna saja.


Sedangkan tetangga kiri dan kanan rumah bu TIna nampak bersih…


Aku dan Hera ada di depan rumah tanpa menarik perhatian ratusan bahkan ribuan wong samar yang ada disini.


“Kita masuk saja pak, karena mereka menganggap kita ini sama dengan mereka, pokoknya jalan saja tanpa menoleh”


“Iya mbak, ayo kita terobos mereka yang sedang duduk di depan pintu masuk yang ada di sebelah warung yang sudah tutup itu”


Kami berdua dengan santainya melayang masuk ke dalam rumah, wong samar yang ada disana sama sekali tidak menaruh perhatian kepada kami dan juga kedua ular yang bersama kami.


Pagar rumah sudah berhasil kami lewati, sekarang pintu masuk rumah yang harus kami buka untuk masuk ke dalam rumah, eh salah ding…. Kita ini kan demit, seharusnya kami bisa masuk dengan mudah!


“Ayo kita masuk ke dalam rumah ini pak, tapi kita cari lokasi yang tidak terlalu banyak wong samarnya saja pak”


“Iya mbak, jangan sampai menarik perhatian mereka yang ada disini”


Aku dan Hera menuju bagian ujung rumah yang demitnya tidak sebanyak bagian depan rumah. Ketika aku akan masuk ke dalam rumah dengan cara menembus tembok ternyata dua ular itu menghalangi kami, seolah dia mau bilang, jangan masuk lewat situ.


“Ular ini menghalangi kita pak. Berarti mungkin yang ada di balik tembok itu berbahaya… kita pindah ke bagian lain dari rumah ini saja pak”


“Sebentar mbak, biarkan ular itu yang mencarikan kita jalan untuk masuk ke dalam rumah ini saja mbak”


Kedua ular yang sekarang ukuranya kecil itu menuju ke depan rumah lagi, dah kemudian mengarahkan kepalanya ke pintu depan rumah.

__ADS_1


Jadi kemungkinan besar melalui pintu depan rumah lebih aman dari pada menembus tembok rumah ini.


Kami melayang dan menembus pintu rumah dengan mudah….


Ya Tuhan, di dalam rumah ini keadaanya penuh sesak, berjubel dengan ratusan demit yang entah sedang apa di dalam rumah ini…


Keadaan di dalam rumah ini seperti kalau kita sedang menonton konser, penuh dan sarat dengan mahluk aneh dengan berbagai macam wujud.


“Sekarang kita cari penghuni rumah ini saja dulu pak, masuk ke dalam kamar yang ada disini”


“Tapi hati-hati mbak, jangan sampai kita bertemu dengan dua kembar dan penjaganya itu mbak”


“Iya pak, eh kita masuk ke kamar depan itu dulu saja pak”


Kamar yang letaknya dekat dengan pintu rumah, kamar itu letaknya di sebelah kiri kami…


Dengan susah payah, karena harus berjalan di antara ratusan atau ribuan demit, akhirnya kami sudah ada di depan pintu kamar depan


Kami masuk ke dalam kamar depan, ternyata kamar itu kosong. Kamar yang hanya ada satu buah tempat tidur yang bisa dibilang tidak bagus sama sekali…dan sebuah lemari plastik yang sudah robek sana sininya.


“Kosong mbak… kita ke kamar berikutnya saja mbak…”


“Rumah ini sebenarnya ada berapa kamar ya pak?”


“Biasanya rumah seperti ini hanya memiliki dua kamar saja, tapi nggak tau lagi mbak, siapa tau di bagian belakang ada kamar kecil yang diperuntukan sebagai gudang”


“Ayo kita masuk ke dalam kamar yang itu saja dulu mbak, Hera rasa di dalam sana pasti ada mereka”


Sebelum aku dan mbak Hera masuk ke dalam, aku harus tau dulu keadaan di dalam kamar itu. Jadi aku intip dulu bagian dalam kamar.


Hanya saja aku rasa paling aman aku harus intip dari atas, aku melayang ke atas hingga dekat dengan plafon rumah, begitu juga mbak Hera yang melakukan hal yang sama dengan ku.


Ketika kumasukan kepalaku dengan menembus tembok kamar.

__ADS_1


“ASTAGAAA….!


__ADS_2