
SUMADI POV
Sore ini aku akan buat laporan untuk lolokcicing sekalian aku akan tanyakan apa yang akan aku lakukan tanpa ada Paino, terus terang aku tidak mungkin melakukan apapun tanpa Paino.
Selama Paino di rumah sakit, sekarang aku tinggal di hotel lagi, semua barangku sudah aku pindah ke hotel lagi, dan untungnya sampai sekarang aku masih bisa tinggal di hotel dengan gratis.
Tidak ada Paino, sudah beberapa hari ini aku kadang ngobrol dengan Nyoman pegawai hotel yang tiap malam selalu kontrol keadaan hotel.
Email sudah kukirim ke Lolokcicing, isi email itu aku meminta nasihat apa yang harus aku lakukan ketika dalam keadaan seperti ini, karena terus terang aku tidak bisa kerja tanpa ada partner kerjaku.
Perkiraan dokter hingga Paino sembuh mungkin butuh waktu yang tidak sebentar, bisa seminggu bisa hingga hitungan bulan. Tapi tentu saja tidak untuk bawa pulang Paino ke tempat asal kami juga nggak mungkin, pasti butuh biaya besar, belum lagi rawat inap disana juga.
Sekarang aku sedang duduk di teras kamar dan kebetulan mas Nyoman lewat di depanku.
“Selamat malam pak Sumadi”
“Wah ada mas Nyoman, sini duduk bersama saya mas”
“Bagaimana kabar pak Paino pak Sumadi?”
“Yah dia sudah bisa gerakan jarinya, sudah ada kemajuan. Tapi saya masih khawatir dengan kesehatannya”
Aku sedang asik ngobrol dengan mas Nyoman ketika tiba-tiba aku merasa ada pak Wayan di sekitarku, mungkin beliau ingin bicara dengan ku. Jadi lebih baik aku akhiri saja bicara dengan mas Nyoman ini.
“Eh mas Nyoman, silahkan kalau mau keliling lagi, saya mau istirahat dulu mas”
“Baiklah pak Sumadi, saya keliling dulu, selamat malam pak”
Pintu kamar aku kunci, kemudian aku duduk sambil menonton televisi. Tidak ada suara apapun selain suara acara televisi.
__ADS_1
“Selamat malam pak Sumadi” sapa suara pak Wayan
“Selamat malam pak Wayan, mari sini kita ngobrol pak Wayan”
“Bagaimana keadaan pak Paino?”
“Ya setelah seperti yang kemarin bapak lakukan kepada saya, untuk mengejar arwah Paino, sekarang dia sudah bisa gerakan tangannya pak Wayan”
“Kira-kira penyembuhan Paino sampai kapan ya pak Wayan?”
“Butuh waktu pak Sumadi, karena luka wajahnya dan kerongkongannya itu perlu waktu juga, tapi saya bisa usahakan tidak terlalu lama”
“Lalu bagaimana dengan Agus, Gusta, pengawal Gusta, Gustin dan bu Tina?”
“Sudah pak Agus, biarkan mereka seperti itu dulu, jangan melawan mereka. Bagi saya, yang penting mereka tidak melakukan apapun di rumah belakang setra itu, saya kira keadaan akan aman-aman saya seperti semula”
“Bukan menyerah pak Sumadi, kalian berdua itu adalah orang yang saya banggakan, tetapi apabila salah satu dari kalian tidak bisa melanjutkan, apa semua ini harus dipaksakan?”
Hanya percakapan sebatas itu saja, setelah itu pak Wayan menghilang begitu saja dari hadapanku.
Orang itu agak aneh, dia begitu saja menghilang seolah ada sesuatu yang membuat dia pergi begitu saja, tapi siapa itu yang ada di pintu gerbang hotel, dia sedang bicara dengan mas Nyoman.
Sekarang mas Nyoman mengantar beberapa orang itu masuk ke dalam hotel. Siapa mereka itu, oh ternyata bu TIna, dan dua anaknya!
Sedang apa mereka ke sini, apakah mereka akan bertemu denganku?
Mereka datang ditemani oleh mas Nyoman…. Aku tentu saja bingung, apa yang akan mereka lakukan disini.
“Selamat malam pak Sumadi, ibu Tina dan kedua anaknya ingin bertemu dengan pak Sumadi dan pak Paino, tadi saya sudah bilang kalau pak Paino sedang rawat inap di rumah sakit”
__ADS_1
“Ya sudah tidak apa-apa mas Nyoman, terima kasih banyak sudah antar ke sini”
Kuambil kursi yang ada di dalam kamar….
Wajah dua anak bu Tina ini beda dengan yang pernah aku temui. Kedua anak itu pucat, lemah, dan kurus, bagian matanya cekung dan menghitam di bagian kelopak matanya.
“Bagaimana bu, ada yang bisa saya bantu, soalnya Paino saat ini kondisinya sedang kritis dia ada di ruang ICU setelah beberapa hari lalu dia ditabrak truk pasir”
“Saya mau minta perlindungan dari bapak-bapak ini, mumpung saat ini suami saya tidak ada disini dan kedua anak saya dalam keadaan sadar”
“Tapi saya tidak tau apa yang harus saya lakukan bu”
“Bawa pergi mereka sekarang juga Di!”
Aneh, aku mendengar suara Paino…
“Ada apa pak Sumadi, ayo pak tolong kami, selamatkan kami pak, mumpung suami saya tidak ada disini” kata bu Tina dengan memelas
“Cepat sekarang juga bawa pergi mereka, aku Paino, nanti akan aku jelaskan semuanya DI, jangan sampai ada pak Wayan. Sekarang juga bawa mereka menyeberang laut dulu yang penting!"
“Setelah itu hubungi mbak Hera dan gek Ayu, suruh mereka amankan jasadku di lemari es kamar mayat , dan rawat jasadku, jangan sampai ada siapapun yang mengganggu jasadku di lemari es kamar mayat!”
“No… kamu Paino?”
“Iya cok aku Paino, cepat waktunya mepet iki cok. Sekarang bawa mereka menyeberang laut , setelah itu kamu datang ke sini lagi atau terserah kamu mau antar mereka sampai di desanya juga nggak papa”
“Awakmu wis mati ta No?”
“Janchok… gak usah tanya tanya, sekarang cepat lakukan apa yang tak suruh, dan jangan percaya dengan pak Wayan!”
__ADS_1