
“Mbak Hera dan gek Ayu, kalian berdua tidak usah lama-lama disini, kalian pulang saja. Biar saja saya yang ada disini jaga Sumadi”
“Pak Paino, bapak cari makan dulu saja, biar kami yang jaga disini, saya penasaran dengan bapak tua yang memakai udeng itu” kata gek Ayu
“Iya pak, dia sekarang sedang membakar dupa dan menaruhnya di pelangkiran atas itu”
“Oh itu namanya Pelangkiran ya gek Ayu… saya baru tau, itu juga untuk sembahyang juga kan fungsinya?”
“Iya pak, tapi sifatnya non permanen, beda dengan pelinggih yang terbuat dari batu. Kalau pelangkiran bisa ditaruh di kamar atau di ruang tamu rumah, dan bahanya berupa kayu atau bambu”
“Ya sudah kalau begitu mbak-mbak, kalau mbak ini mau jaga sementara disini, saya ada rencana mau makan di warung itu Tina… saya masih penasaran dengan mereka, dan saya yakin sakitnya Sumadi ini karena ulah dari anak mereka yang ghaib itu”
“Iya pak, tapi jangan lama-lama, Hera dan gek Ayu sudah harus ada di rumah secepatnya”
“Oh gitu, baiklah… saya coba hubungi driver taksi yang kemarin saya pakai dulu mbak, karena dia yang tau dimana letak warung makan bu Tina”
Beberapa kali aku hubungi pak Putu… tapi tidak ada jawaban, kelihatannya dia sedang ada penumpang, sehingga nggak enak kalau angkat telepon sembari nyetir mobil.
Aku wa saja pak Putunya, syukur-syukur kalau dia menjawab wa ku, tapi kayaknya nggak mungkin kalau malam ini aku cari makan ke sana, karena aku harus nunggu Sumadi.
“Eh mbak Hera dan gek Ayu, lebih baik kalian pulang saja, ternyata pak Putu driver taksi itu tidak menjawab wa saya, kayaknya dia sedang ada penumpang”
“Gini saja pak Paino, Hera belikan nasi dulu untuk pak Paino, nanti setelah itu Hera dan gek Ayu balik ke rumah”
Keadaan Sumadi yang seperti ini makin memperlambat langkahku, harusnya ada orang yang jaga Sumadi, jadi aku bebas untuk melakukan penyelidikan ke rumah atau ke warung bu Tina.
Aku yakin… yakin sekali dua anak itu terlibat masalah Sumadi yang luka parah, setelah tau dari mimpiku ketika bersama pak Wayan.
Tapi ya tetap saja langkahku terbatas, karena nanti malam jam sepuluh malam Sumadi akan dilakukan operasi.
Aku masuk ke dalam kamar Sumadi, sebuah kamar VIP yang tentu saja dengan perlengkapan yang cukup mewah buat aku yang biasanya kalau sakit hanya bisa masuk ke kamar kelas tiga saja, sesuai dengan BPJS yang aku bayarkan hehehe.
__ADS_1
Kulihat jam tanganku, sekarang sudah enam lewat tiga puluh menit, aku tiduran di tempat tidur tambahan yang digunakan untuk menunggu pasien rawat inap.
Ruangan VIP ini nyaman sekali, tenang, dingin dan senyap. Yah wajar siapa yang bisa membayar lebih mahal tentu saja akan mendapat kenyaman lebih dari pada yang membayar lebih sedikit.
Nggak sadar aku semakin ngantuk dan ngantuk ketika kubaringkan tubuhku di tempat tidur untuk penunggu pasien.
*****
“Ayo bangun….” kata seseorang sambil menepuk bahuku
Kubuka mataku, ternyata aku masih di dalam kamar VIP, aku tidak berani melirik ke kiri atau ke kanan, aku takut kalau ada penampakan seperti sebelumnya…
“Heh Paino… bangun…” kata suara yang sepertinya ada di sampingku
Aku menoleh ke samping kiri…
Ternyata ada pak Wayan, dia sedang berdiri di samping ranjang pasien…. Ternyata aku sekarang masih ada di kamar Sumadi.
Aku duduk dan menunggu apa yang akan dikatakan pak Wayan berikutnya…
Aku ikuti saja apa yang dia perintahkan, aku tau dia tidak akan melakukan hal buruk kepada aku dan Sumadi. Aku berdiri dan berjalan pelan menuju ke sebelah pak Wayan.
“Perhatikan temanmu ini…. Dia pernah mati sekali, tubuh tak kasat mata dia yang pernah mati, tetapi karena keajaiban laut selatan dan kemistisan kajeng kliwon tilem, kalian bisa sehat lagi”
“Sekarang yang terjadi tubuh kasar temanmu… ini sangat parah”
“Saya tadi berdoa agar temanmu bisa diselamatkan, karena untuk saat ini arwah temanmu sudah tidak ada di raganya, arwah temanmu ada disana, sedang melihat raganya yang terbujur di ranjang pasien ini”
“Maksudnya tubuh tak kasat mata pak Wayan?”
“Yah bisa dibilang begitu, saya gak akan jelaskan apa itu tak kasat mata dan sebagainya, karena terlalu panjang lebar!”
__ADS_1
“Cepat kamu datangi, dia sedang melihat raganya, dia sedih… coba kamu hibur dan suruh dia kembali lagi, jangan semudah itu keluar dari raganya”
“Dalam kondisi seperti ini, sangat mudah roh keluar dari tubuh kasat mata”
“Kadang kita bergerak sedikit saja sudah ada diluar raga…bilang ke dia agar masuk dan usahakan tidak keluar lagi, karena sebentar lagi dia akan dioperasi”
“Bilang kepada dia, dia belum waktunya mati, dan katakan bahwa kamu sangat memerlukan dia dan harus menyelesaikan urusan di dunia ini sebelum kalian berdua mati” suruh pak Wayan sambil berbisik
Aku berjalan ke arah Sumadi, aneh… rasanya tubuhku ringan sekali, aku berjalan kayak sedang melayang. Apakah saat ini tubuh tak kasat mataku sedang diluar garaku?”
“Di… kamu ngapain ada diluar ragamu?”
“Eh No.. kamu ngapain ikuti aku?”
“Aku disuruh pak Wayan… kamu ngapain ada diluar sini, kamu belum waktunya mati Di, urusan kita masih banyak dan aku butuh bantuanmu”
“Iya No, coba lihat tubuhku No, daleman tubuhku hancur…bahkan kalau aku masuk ke raga itu, nggak lama kemudian aku keluar lagi, rasanya kayak raga itu licin sekali”
“Sangat licin sehingga aku nggak bisa masuk dan tenang di dalamnya”
“Bisa.. kamu bisa masuk ke sana, kamu harus berusaha kalau mau hidup lagi”
“Nanti akan aku coba lagi No… ragaku itu kayaknya sudah menolak aku, jadi seakan akan sudah tidak ada pegangan di dalam raga itu untuk aku… tapi akan aku coba terus No”
“Oh iya Di… aku mau tanya.. Yang hajar kamu sampai kayak gini ini siapa?”
“Dua anak kembar dan satu pengawalnya.. Mereka sebenarnya bukan menghajar aku, tetapi ingin memakan bagian dalam tubuhku, tapi untungnya ada yang berusaha menahan mereka bertiga, meskipun aku luka parah”
“Hehehe Di, kamu jangan mati dulu, dua hari lalu tubuh tak kasat matamu mati, tapi sekarang gantian tubuh kasat mataku yang sekarat… “
“Ayo kamu masuk lagi ke sana, dan jangan keluar lagi dari ragamu”
__ADS_1
“Heh No, aku bingung antara tubuh tak kasat mata, tubuh kasat mata dan roh ini… sebenarnya kita ini gimana sih?”
“Dah gak usah dipikir, otak kita nggak mampu berpikir ke arah sana, yang penting sekarang kamu masuk ke sana lagi, dan tunggu operasimu nanti jam sepuluh”