Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 22. KAMAR MANDI INI…..


__ADS_3

Pukul delapan empat puluh lima menit kami sudah sampai di SPBU seberang setra, setelah aku parkir mobil di tempat yang biasanya, kemudian kami berdua menuju ke seberang jalan.


“Tepat jam sembilan kita langsung masuk ke jalan setapak Di”


“Eh semua perlengkapan kita sudah dibawa, termasuk dua botol air mineral juga sudah masuk tas ransel?”


“Aman No, oh iya ini alat perekam mu, kamu bawa saja”


Aku menerima alat perekam dari Sumadi.


Kemudian tepat pukul sembilan malam, aku dan Sumadi menyeberang jalan, aku nyalakan alat perekam dahulu agar aku bisa bicara dan menggambarkan apa yang aku lihat.


Aku mulai bicara dengan alat perekam yang sudah aku nyalakan.


“Tepat pukul sembilan malam, kami masuk ke jalan setapak yang mengarah ke rumah yang ada di belakang setra, keadaan disini sama dengan kemarin malam”


“Sekarang saya menyalakan senter yang saya bawa, agar saya tidak salah melangkah, takutnya ada lubang atau batu tajam yang saya injak”


“Tidak ada yang berbeda, hanya saja saya merasa suhu udara agak panas malam ini, mungkin nanti di dekat rumah itu suhu udaranya lebih dingin”


“Sebentar lagi kami sudah sampai di depan rumah, dan saya akan membuka pintu rumah, sementara itu Sumadi sudah siap dengan handycam yang dia bawai”


“Sumadi… aku buka pintu rumah ini ya, handycam dan alat perekam yang ada di punggungmu sudah siap?”


“Siap No.. lanjutkan!” jawab Sumadi dengan tegas


“Hmm ada yang aneh, saya selalu perhatikan lampu yang ada di atas plafon depan rumah ini. Sekarang keadaanya mati. Tapi nggak papa, mungkin lampu ini ada timernya dan pemilik rumah ini salah dalam setting timer lampu”


“Permisi penghuni rumah, kami akan masuk ke dalam rumah, kami tidak ada niatan untuk melakukan apapun yang merugikan kalian, kami hanya ingin merasakan apa yang ada di rumah ini…. Permisi saya buka pintu rumahnya ya”


Sengaja aku bicara seperti tadi itu karena agar tidak terjadi apa-apa lagi dengan kami yang akan masuk ke dalam rumah ini, dan sekarang aku buka pintu rumah.


Aku bicara dengan alat perekamku lagi….


“Sekarang saya dan Sumadi sudah ada di dalam ruang tamu, keadaan gelap disini, dan untungnya saya membawa senter”


“Kalau ditanya apakah kami takut, jelas kami takutlah, tetapi kami kan ingin berinteraksi dengan penghuni yang ada disini, saya hanya akan menggambarkan apa yang saya lihat dan saya rasakan di buku yang akan saya buat berikutnya”


“Ruang tamu ini rasanya sudah tenang dan rasanya aman, semoga di ruangan lain kami diterima juga, dan tidak ada apapun yang terjadi dengan kami”


“Tidak ada yang berubah setelah siang tadi kami ke sana, tidak ada yang berbeda, semua tetap sama. Sekarang kami menuju ke kamar utama, disana kami akan mengulangi lagi apa yang kami lakukan sebelumnya”

__ADS_1


“Pintu kamar utama sudah ada di depan kami, dan sekarang saya membuka pintu kamar utama”


“Sebelum kami masuk, saya menyinari setiap sudut ruangan dengan senter yang saya bawa. Ternyata keadaanya tetap sama, tidak ada yang berubah, tidak ada yang berbeda”


“Ya… suhu udara yang berbeda dengan malam sebelumnya, saat ini lebih panas, yah maklum karena di luar juga panas cuacanya”


“Selamat malam penghuni kamar, kami datang kesini lagi seperti malam sebelumnya, kami tidak menantang kalian para penghuni kamar, kami hanya ingin berinteraksi dengan kalian”


“Kami datang dengan damai, dan saya harap penghuni ghaib kamar ini tidak melakukan penyerangan seperti malam sebelumnya”


Tidak ada suara apapun, suasana hening sunyi… aku lanjutkan dengan menggambarkan keadaan dan apa yang aku rasakan disini.


“Malam ini saya dan Sumadi datang lagi dengan tujuan yang sama, dan saya harap penghuni tak kasat mata tidak melakukan hal yang mengerikan seperti malam sebelumnya”


“Sepuluh menit berlalu dan saat ini……eh saya baru merasakan adanya perubahan di suhu udara kamar… udara di kamar ini semakin dingin, dan saya merasa bahwa bulu kuduk saya mulai berdiri”


“Saya tau ada yang sedang mendekati kami, karena sekarang ada perbedaan hawa dan suhu udara,  dan saya harap yang datang mendekati kami tidak melakukan hal seperti yang dilakukan kemarin”


“Di Sumadi… senter akan saya matikan, tolong mode gelap handycam kamu nyalakan, kita akan mencoba untuk berkomunikasi dengan cara apapun”


Senter aku matikan….


“Sangat gelap. Mata saya untuk saat ini belum mampu melihat apapun yang ada disini, tapi perlahan lahan saya bisa melihat sedikit bayangan gambaran  dari tempat tidur, meja rias, dan kursi yang ada di dalam kamar.


“Mata saya sudah mulai membiasakan diri dalam kondisi ruangan yang sangat gelap, dan untuk sementara ini meskipun suhu udara semakin rendah dan dari tadi bulu kuduk saya berdiri, tetapi sampai saat ini saya belum mendapatkan gangguan sama sekali”


“Berbeda dengan kemarin ketika kami datang kesini…… tapi tunggu sebentar, jangan senang dulu.”


“Sumadi, tolong shoot ke arah tempat tidur itu,  saya rasa ada sesuatu disana, hanya saja saya belum bisa merasakan atau melihat apa yang ada di tempat tidur itu”


“Iya Di…shoot tempat tidur itu, saya kok merasa ada sesuatu di atas tempat tidur, hanya saja saya tidak bisa melihat apa yang ada di tempat tidur itu”


“Entah hanya perasaan atau apa, pokoknya otak saya mengatakan kalau ada yang sedang tidur di atas tempat tidur itu Di, tapi itu hanya perasaan saja, tapi ada baiknya kamu shoot yang ada disana itu”


“Setelah selesai dengan tempat tidur, coba pindah ke meja rias yang ada kacanya, kamu ambil gambar kaca itu dengan kamera foto juga Di”


“Hingga saat ini tidak ada gangguan kepada kami,  sayai hanya merasakan sesuatu di atas tempat tidur itu saja, selain perubahan suhu udara yang menjadi semakin dingin”


“Tidak ada yang menyakiti kami seperti kemarin malam, tetapi saya sangat yakin di sekitar kami ada beberapa makhluk tak kasat mata yang mungkin sedang memperhatikan apa yang sedang kami lakukan disini”


“Saya ucapkan terima kasih kepada penghuni ghaib kamar ini, dan saya ada satu permintaan lagi”

__ADS_1


“Sudikah kiranya penghuni kamar ini memberikan tanda meskipun hanya suara ketukan kepada kami, hanya ketukan di meja atau dimanapun yang menyatakan bahwa kalian memang benar-benar ada dan mempunyai kemampuan untuk memberi tanda kepada kami”


“Kami sangat menghargai dan sangat berterima kasih apabila kalian bisa memberikan tanda adanya kehadiran kalian di tempat ini”


Aku dan Sumadi menunggu, kami menunggu sesuatu yang akan terjadi, sesuatu yang akan memberikan tanda kepada kami tentang keberadaan penghuni yang ada disini.


Setelah kurang lebih sepuluh menit berlalu, bukanya ada tanda ketukan atau semacamnya, tetapi yang terjadi adalah aku semakin merinding.


Selain merinding, aku juga merasakan ada keinginan yang sangat kuat untuk masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar ini.


Seperti ada yang menyuruh dan memaksa aku agar aku masuk ke dalam kamar mandi kamar, keinginan dan kemauan  itu seolah tidak bisa ditolak dan tidak bisa ditahan.


Sekarang dan saat ini juga!


“Di, kita ke kamar mandi”


“Rasanya ada yang menyuruh dan memaksa saya untuk masuk ke kamar mandi itu Di”


“Sama juga No, seperti ada yang mendorong saya untuk masuk ke dalam kamar mandi, semoga bukan hal mengerikan yang akan kita lihat ketika ada di dalam kamar mandi itu” kata Sumadi


“Saya sengaja tidak menyalakan senter, saya sengaja tidak mau merusak keadaan dan suasana yang sudah semakin mencekam. Karena saya tau ada kemungkinan kami berdua akan ditunjukkan sesuatu yang merupakan permintaan saya tentang kehadiran penghuni kamar ini”


Pintu kamar mandi dalam keadaan tertutup. Aku nggak ingat ketika terakhir kesini apakah pintu ini aku tutup atau tidak, tetapi seingatku aku nggak menutup pintu ini.


Kalau sekarang dalam keadaan tertutup berarti memang penghuni sini tidak suka apabila kamar ini dalam keadaan berantakan, dengan pintu yang terbuka.


“Sekarang pintu kamar mandi ini akan saya buka, saya sudah siap apabila ada yang membuat saya kaget di dalam kamar mandi ini, Sumadi kamu sudah siap juga kan?”


“Siap No, buka saja pintu kamar mandi itu, tetapi jangan lupa tutup lagi kalau sudah selesai” kata Sumadi mengingatkan aku.


“Kok kamu ngomong gitu Di?” aku penasaran dengan apa yang dikatakan Sumadi


“Iya, karena terakhir kita kesini, saya ingat sekali kita tidak menutup pintu kamar mandi, dan sekarang pintu kamar mandi dalam keadaan tertutup kan, berarti penghuni ghaib disini tidak suka apabila pintu kamar mandi itu terbuka No”


“Ya sudah Di, nanti ingatkan untuk menutup pintu itu….”


“Saya akan buka pintu ini…. Perlahan-lahan saya tekan handle pintunya, dan kemudian saya dorong ke dalam daun pintu kamar mandi ini…”


Pelan-pelan pintu kamar mandi terbuka, hal pertama yang aku lihat hanya gelap gulita… tapi..


“ ASTAGAAAA…ALLAHUAKBAR….. ALLAHUAKBAR….!!!!”

__ADS_1


__ADS_2