Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 62. TERNYATA RUMAH PAK WAYAN


__ADS_3

Tapi tadi waktu ada gek Ayu dan mbak Hera, waktu aku datang dari pergi bersama pak Putu, Sumadi bisa duduk dengan enak dan tertawa sambil melihat film.


Tapi barusan dia bilang luka bekas operasi itu sakit apabila digunakan duduk dan bicara, bahkan suster itu bilang jangan dipaksa untuk duduk…tapi embuhlah.


Aku penasaran dengan laptop Sumadi.


Perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara sama sekali aku ambil laptop Sumadi yang ada di meja depan ranjang pasien.


Seperti biasa aku masuk ke email Sumadi…


Hmm Ini ada email terkirim…


Waduuh kok ngeri… !


Email ini terkirim lima belas menit lalu, berisi laporan keadaan dia saat ini dan ijin untuk belum bisa mengadakan penyelidikan lebih lanjut.


Dan tertanda namaku Paino….


Kututup laptop Sumadi dengan perasaan yang bingung….rasa kantuk hilang, yang ada sekarang adalah rasa takut. Siapa yang tulis email ini.


Aku kembalikan laptop Sumadi ke tempatnya semula. Kemudian aku duduk di tepi tempat tidur sambil kuperhatikan tubuh Sumadi yang masih dalam keadaan Tidur.


Kuperhatikan Sumadi… dia begitu sakit dan jelas tidak mungkin bisa mengambil laptop dan kemudian duduk sambil membuat email untuk lolokcicing.


Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan Sumadi…..


Kulihat jam tanganku. Waktu sudah menunjukan pukul 24.10, tetapi aku belum juga mengantuk, aku masih memikirkan siapa sebenarnya sosok Sumadi.


Duduk dan selalu memperhatikan Sumadi mengakibatkan lama-lama ngantuk juga. Kurebahkan tubuh dan aku berusaha untuk melupakan tentang email aneh itu.


*****


“Bangun pak…”


“Sarapan sudah siap….”


Rasanya ngantuk sekali, tapi terpaksa aku buka mata karena ada yang membangunkan aku…..


Lho aku ada di mana ini….


Sebuah tempat tidur berukir dan dalam sebuah kamar yang….. Eh sepertinya aku tau dan kenal kamar ini, seperti di rumah belakang setra!


Kenapa aku ada disini, dan siapa yang membawa aku kesini…

__ADS_1


Anehnya aku merasa tidak takut sama sekali, bahkan aku tidak merasakan adanya ancaman disini. Yang aku rasakan adalah kamar yang nyaman dengan udara dingin sejuk yang berasal dari ventilasi dinding atas kamar.


Meja dengan kaca di sebelah kiriku, dan pintu untuk menuju ke kamar mandi yang masih dalam keadaan tertutup.


Aku biarkan dulu keadaan ini, aku harus merasakan pola yang ada, agar aku bisa menebak apa yang sedang terjadi dengan diriku.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka….seorang perempuan setengah baya yang memakai pakaian keseharian disini muncul di ambang pintu.


“Selamat pagi pak Paino…. Sarapan sudah siap“


Perempuan itu pergi begitu saja, setelah berkata sarapan sudah siap.


Aku masih duduk bersila di atas tempat tidur kamar, rasanya malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur, lagipula aku harus bisa merasakan apa yang sedang terjadi denganku dulu.


Tapi aneh, dari kamar ini aku bisa mendengar suara orang yang sedang ngobrol di luar kamar, seperti ada beberapa orang yang sedang tertawa bersenda gurau.


“NOOOO PAINOOOO… AYO BANGUN…..”teriak suara yang aku kenal sebagai Sumadi


“Eh iya Di… aku bangun”


Ini tidak benar..!


Aku sedang bermimpi….!


Aku turun dari tempat tidur…


Hhmmm lantai ini keramik yang yang keras seperti ketika aku datang kesini bersama Sumadi…tidak ada yang aneh dengan lantai rumah ini.


Kubuka lebih lebar pintu kamar…suasana ruang tamu terlihat dari tempatku berdiri.


“No…udah jam berapa ini, nyenyak ya tidurmu?” tanya Sumadi yang sedang bicara dengan perempuan yang membangunkan aku tadi


“Hehehe nyenyak Di, eh kamu sama siapa Di?”


“Ini mbok Mang… dia kan yang urus rumah ini, kamu ini lupa atau gimana sih No”


“Ayo pak Paino dan pak Sumadi, sarapan sudah siap di meja makan, ada roti dan masakan bali halal….”


Perempuan yang dipanggil sebagai mbok Mang oleh Sumadi adalah perempuan paruh baya cantik khas daerah sini dengan rambut panjang yang digelung dan pakaian mirip kebaya tapi agak beda sih. Ada beberapa butir beras di atas hidung antara kedua matanya.


Bau dupa samar tercium dari ruang tamu, bau yang sangat familier dan membuat aku merasa tenang dan nyaman.


Sumadi sudah jalan menuju ke ruang keluarga, aku masih ada di ruang tamu, aku tetap memperhatikan apa saja yang ada disini, aku tidak mau melewatkan sesuatu yang mungkin bisa dijadikan tanda ketika nanti aku akan ke sini lagi.

__ADS_1


Kuperhatikan lebih rinci lagi keadaan ruang tamu ini, kemudian dari sini aku bisa lihat keadaan diluar jendela ruang tamu…dan ternyata ada perbedaan.


Aku bukan ada di rumah belakang setra!


Dari bau dupa, hingga bagian luar rumah yang terlihat dari balik jendela ruang tamu,  ini bukan rumah belakang setra!


“Wah pak Paino sudah bangun ya… mari kita sarapan dulu, setelah sarapan kita ngobrol di bale dauh seperti biasanya”


Aku kaget ketika pak Wayan tiba-tiba ada di sebelahku.


“Iya pak Wayan.. Berarti sekarang saya ada di rumah pak Wayan?”


“Kenapa kamar ini sama dengan yang ada di rumah belakang setra?”


“Hehehe pak Paino akan tau sendiri dimana sekarang pak Paino ini, ayo sekarang kita makan saja, hanya sarapan sederhana saja kok”


“Iya sebentar pak, saya ingin lihat yang diluar ini dulu”


Aku berjalan keluar dari kamar menuju ke luar rumah, dan ternyata memang aku ada di rumah belakang setra,  dan letak rumah belakang setra ini ada di ujung halaman tepat bersebelahan dengan tempat sembahyang di lingkungan rumah pak Wayan.


Jadi selama ini rumah belakang setra ini ada di sebelah tempat sembahyang rumah pak Wayan. Menghadap ke halaman rumah pak Wayan dimana aku dan Sumadi pernah duduk di salah satu bale disana.


Ketika aku sedang memandang keluar dari ambang pintu, pak Wayan datang menghampiri aku…


“Yah ini adalah rumah yang kalian datangi, dan di sebelah ini adalah merajan keluarga, tempat leluhur saya berada. Di depan sana adalah rumah saya dan bale dauh tempat saya terima kalian beberapa hari lalu”


“Berarti rumah pak Wayan ini adalah setra itu pak?”


“Betul, rumah saya adalah setra itu, sekitar seratus tahun lalu saya sudah tinggal disini”


“Sekarang kalian tau kenapa saya marah dengan pemilik rumah dan penghuni rumah itu kan?”


“Iya pak, saya bisa paham dan saya bisa merasakan apa yang bapak rasakan…. “


“Bagus kalau begitu, sekarang ayo kita sarapan…”


“Eh pak Wayan, eh saya dan Sumadi ada di rumah belakang setra tapi ini yang tak kasat mata?”


“Iya.. kenapa,.... bingung ya?”


“Iya pak Wayan…..”


“Sudahlah tidak usah bingung, saya juga tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi, karena sangat rumit dan buang buang waktu saja”

__ADS_1


“Pokoknya sekarang pak Paino nikmati saja apa yang ada disini dan kita sarapan, itu mbok Mang sudah siapkan sarapan dari tadi”


__ADS_2