
“Sekarang tinggal tunggu mereka datang saja pak, kalian berdua istirahat dan pulihkan tenaga kalian, karena malam ini sepertinya kita akan kerja keras”
“Kita tunggu kedatangan mereka hingga sore hari, sementara itu saya akan cari tempat tinggal untuk mereka yang aman dulu disini”
Pak Wayan keluar dari dalam kamar, entah dia sedang menuju ke mana, yang pasti aku merasa sangat lemas dan lemah, dan sangat ngantuk, setelah seharian kemarin aku dan Sumadi kurang tidur.
Suara ngorok Sumadi sudah memenuhi kamar kecil tempat kami menginap, dan nggak lama lagi aku pasti juga akan tidur.
*****
Sinar matahari mengenai wajahku…rasanya hangat dan memaksa aku untuk bangun.
Ketika kutoleh di sebelahku, ternyata Sumadi sudah nggak ada di tempat tidurnya, dia pasti sudah bangun dari tadi.
Aku duduk di atas tempat tidur dan mengingat kembali apa yang semalam kami lakukan. Ya semoga mbak Hera dan gek Ayu bisa mengajak bu Tina kesini.
Aku beranjak dari atas tempat tidur dan keluar menuju ke bale dauh, tempat kami biasa ngobrol bersama.
“Selamat pagi pak Paino” sapa Gustin yang sedang duduk bersama Sumadi dan pak Wayan
“Sudah lebih sehat pak Paino?” tanya pak Wayan
“Hehehe sudah pak Wayan, huuih rasanya seperti kena sirep, ngantuk sekali sampai saya lupa bahwa saya ada di rumahnya orang hehehe”
“Ayo duduk sini pak Paino, kita sedang bicara tentang Agus dan Gusta”
“Jadi apa yang diceritakan Gustin ini hampir mirip dengan yang pak Paino ceritakan kepada saya waktu itu”
“Jadi tentang Agus ayah dari Gustin yang mendadak jatuh miskin dan kemudian Agus berguru pada orang yang salah, kemudian dia menggunakan menggunakan kekuatan Gusta, Gustin dan Hasto untuk mencari harta yang ada di rumah belakang setra itu”
“Dan sekarang Agus sudah menjelma menjadi iblis karena dia sudah membuat perjanjian dengan iblis dan akan mengorbankan bu Tina sebagai ibu dari Gustin dan Gusta apabila kedua anak ini tidak mau melakukan apa yang Agus suruh”
__ADS_1
“Tapi disini ada yang Agus lupa, ibu dari Gustin adalah keturunan langsung dari pemukiman ghaib di tanah jawa, saya sedang berpikir apakah Agus sesakti itu hingga berani melakukan sesuatu kepada bu Tina dan anaknya”
“Hari ini, mungkin sore atau malam nanti si Agus akan menyerang puri ini dengan bantuan dari pengikutnya yang berupa iblis yang ada di rumahnya itu” kata pak Wayan
“Gustin berharap agar kita juga menyelamatkan Gusta, tapi jelas sangat sulit karena dia selalu ada di sekitar Agus, dan yang mengerikan adalah Hasto, dia sudah bukan Hasto pengawal Gusta lagi, dia sudah menjadi suruhan Agus apabila nanti dia bisa hidup lagi” kata pak Wayan yang wajahnya menjadi lebih serius
“Benar gitu dik Gustin?” aku seakan tidak percaya, karena Hasto yang tinggi besar itu mempunyai tenaga yang luar biasa”
“Iya benar pak Paino, dia sudah beberapa hari ini tidak mau mengikuti omongan mas Gusta, Hasto bertindak sesuai dengan suruhan ayah saya”
*****
Siang hari yang harusnya panas, tetapi karena di sini ada pohon yang rindang akibatnya sejuk sekali. Kami masih menunggu kedatangan mbak Hera, Gek Ayu dan bu Tina.
Aku yakin mereka pasti selamat sampai disini.
“Pak Wayan, apa mereka nanti munculnya di hutan seperti saya kapan hari itu?”
“Dan sepertinya Hera dan Ayu sudah berhasil membujuk bu Tina, mereka sekarang sedang perjalanan menuju ke rumah belakang setra, semoga tidak terjadi apa-apa selama perjalanan mereka itu”
Tidak ada yang bisa kami lakukan selain menunggu, hingga siang menuju sore hari ini.
Gustin dari tadi resah, dia bingung apabila ibunya tidak datang, tapi aku yakin sebentar lagi mereka akan datang.
Dan benar dugaanku, setelah menunggu sekitar satu jam menjelang sore hari, pak ketut masuk ke dalam puri diikuti oleh Mbak Hera, dan gek Ayu.
Yah seperti yang terjadi di film garapan indosiar, anak dan ibu saling berpelukan, sedangkan aku dan Sumadi cukup menyalami mbak Hera dan gek Ayu saja.
Kemudian secara singkat padat dan jelas Sumadi menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan kami dan mereka yang kami ajak ke sini.
Namun wajah bu Tina tidak menunjukan kebingungan dengan tidak adanya Gusta disini. Dia sepertinya nggak peduli dengan Gusta, yang dia pedulikan adalah anak perempuannya saja.
__ADS_1
“Kalian berempat akan saya tempatkan di beberapa rumah yang ada di puri ini”
“Kemudian begini pak Paino, ada baiknya kita datangi saja si Agus, jangan sampai mereka memporak-porandakan puri ini”
“Nggak bisa gitu pak Wayan, pak Wayan juga harus memikirkan bagaimana mengamankan penduduk yang ada di puri ini. Disini ada berapa keluarga pak Wayan?”
“Ada sekitar sepuluh keluarga, dan total ada sekitar seratusan orang disini”
“Tapi tenang saja, saya dan penduduk disini dari dulu sudah mempersiapkan jalan untuk lari dari sini apabila ada serangan dari penjajah Belanda. Kami sudah bikin terowongan yang menuju ke bunker bawah tanah juga”
“Nanti Ketut yang akan memandu mereka masuk ke dalam bunker apabila keadaan disini berbahaya”
“Maaf saya manyela pak” kata bu Tina
“Gimana bu Tina?”
“Begini pak Wayan, Gustin dan yang lainya….. Eh ini rahasia yang belum pernah saya utarakan sebelumnya. Gustin, ibu minta maaf ya, ini sudah waktunya ibu katakan yang sebenarnya”
“Sebenarnya yang ada disana itu bukan suami saya pak. Suami saya yang sebenarnya sudah dibunuh oleh setan yang menguasai tubuhnya, suami saya tenggelam di laut terbawa ombak ketika sedang dalam proses menghilangkan setan di dalam tubuhnya”
“Waktu itu dia sudah bertobat dan ingin melepas semua ilmu dan setan yang ada di dalam tubuhnya pak”
“Kedua anak saya tidak ada yang tau, karena waktu itu saya yang mengantar dia menuju ke pantai untuk berendam dari tengah malam hingga pagi hari”
“Saya menunggu di pinggir pantai saja”
“Tapi sayangnya belum sampai pagi dia sudah tergulung ombak. Waktu itu saya lihat dengan mata kepala sendiri tangannya menggapai nggapai meminta tolong kepada saya”
“Tapi saya tidak bisa menolongnya, karena waktu itu ombak besar datang secara tiba-tiba dan menggulung suami saya”
“Tapi ketika saya sedang menangis, tiba-tiba suami saya sudah berdiri di samping saya, dan mengajak saya pulang. Waktu itu saya tidak menyangka bahwa yang ada di sebelah saya ini bukan suami saya”
__ADS_1
“Hanya saja banyak keanehan setelahnya, dia suka di dalam kamar yang gelap, ketika saya intip, ternyata dia sedang bersethubhuh dengan beberapa iblis laki-laki”