
“Kok bisa pak Agus tau disana ada harta berharganya pak War?”
“Saya bisa menebak dia dapat info dari orang-orang sini yang suka ngilmu, saya rasa dia dapat info dari mereka, setelah si Agus sambatan tidak punya uang” jawab pak War
“Terus pak War ini sekarang sebagai apanya pak Agus pak?” tanya Sumadi
“Saya hanya menyembuhkan seadanya saja pak, saya kasihan kepada dua anak mereka yang selalu diperintah untuk mencari harta yang ada di dalam rumah itu”
“Sebentar…sebentar, bapak-bapak ini sebenarnya sedang apa disini, terus terang saja pak, saya nggak suka ketidakjujuran” kata pak War sambil tersenyum
“Hehehe baiklah pak War, memang tadi sengaja saya cerita hanya sedikit saja, saya tidak mau salah cerita kepada orang yang tidak tepat pak, ok baiklah sebenarnya saya dan teman saya ini adalah penulis cerita horor pak”
Aku ceritakan seluruhnya apa yang aku dan Paino lakukan disini, semua aku ceritakan termasuk campur tangan pak Wayan kepada kami.
Pak War hanya tersenyum mendengar apa yang aku ceritakan, dia kadang menggelengkan kepalanya tanda dia kagum dengan apa yang kami alami.
“Luar biasa pak Paino dan pak Sumadi. Dalam waktu seminggu kalian mendapat pengalaman yang luar biasa disini”
“Ini baru jujur pak, tadi sih saya tidak percaya dengan kalian, dan untuk kali ini kalian sudah jujur kepada saya”
“Begini pak Paino dan pak Sumadi, percayalah saya sama sekali tidak minat dengan yang namanya harta yang ada disana, karena itu bukan milik manusia, itu milik wong samar”
“Pemilik harta pasti marah dong kalau ada yang berusaha mencuri hartanya kan pak, betul nggak pak Paino?”
“Dunia kita ini berdampingan dengan dunia ghaib, dan hendaklah kita saling menghargai satu sama lain pak, benar tidak pak Paino dan pak Sumadi?”
“Iya benar pak War, lalu apa yang terjadi dengan kami hingga kami menjadi incaran dua anak kembar dan pengawalnya itu?” tanya Sumadi
“Begini pak Sumadi dan pak Paino, pada dasarnya kedua anak kembar itu tidak jahat sama sekali, hanya saja dia sudah diperintah dengan paksa oleh Agus, sehingga mereka akan nurut kepada yang memerintahnya”
__ADS_1
“Bagaimana dengan istrinya pak?”
“Istrinya saya rasa tidak tau apa yang sedang dilakukan si Agus pak Paino, istrinya sama sekali tidak tau apa yang dikerjakan suaminya”
“Dan berdasarkan pembisik saya nih pak, anak perempuan si Agus itu mempunyai energi yang sangat kuat, dan sangat berpengaruh di tempat asalnya.. Itu yang saya dengar dari pembisik saya pak Paino”
“Sedangkan anak yang laki-laki sama juga, dia mempunyai energi yang besar dan pengawal yang hebat, tapi berdasarkan pembisik saya, dia tidak akan lama lagi hidupnya”
“Menurut saya, setelah anak laki-lakinya nanti mati, energi yang ada di dalam anak laki-laki itu akan melebur ke dalam anak yang perempuan. Sedangkan penjaga anak itu akan hilang dengan sendirinya, karena tugasnya sudah selesai”
“Kesimpulan saya, sebelum tugas si pengawal ini selesai, dan sebelum anak laki-lakinya mati, si Agus akan menggunakan mereka untuk mencari harta itu disana”
“Dan tentang ular yang sudah kalian temui, ya itulah yang menjaga disana, dan sampai detik ini belum ada yang bisa menembus pertahanan ular itu” kata pak War sambil menggigit sate lilitnya
“Sekarang apa yang harus kami lakukan pak War, jadi mereka mengejar kami karena kami pernah tembus ke rumah itu dan berusaha menguasai kami gitu pak War?”
“Bisa dibilang gitu pak, karena saya sendiri kan hanya menyimpulkan saja, dasar saya bisa bicara ini dari pembisik saya saja pak Paino”
“Bapak-bapak harus tau kalau dia mempunyai pasukan yang luar biasa banyak, dan siap menggempur kalian berdua, meskipun…meskipun pasukan itu tidak akan bisa menembus rumah itu!”
“Lalu dimana kami harus tinggal pak War?”
“Lebih baik tinggal di rumah itu saja pak Paino, disana kalian akan dilindungi oleh wong samar yang kata kalian bernama Wayan itu”
“Satu lagi pak War, yang bernama lolokcicing itu siapa, eh apa dia pemilik baru SPBU itu?”
“Apa pak Paino yakin dia itu keluarga Anak Agung pemilik SPBU milik ayah saya dulu itu?”
“Saya juga hanya bisa menebak pak, dia yang membayar kami untuk eksplor rumah itu”
__ADS_1
“Saya tidak tau pak Paino, apakah dia itu orang yang sama dengan pemilik SPBU, tapi jangan-jangan rumah itu juga sudah dibeli oleh dia karena dia tau bahwa ada harta di dalam sana heheheh”
“Bisa jadi juga ya pak War.., jadi kami sekarang harus melawan Agus dan pemilik rumah itu?”
“Yah bagaimana lagi pak Paino. Maaf saya nggak mau ikut campur kalau urusan harta seperti itu, bahaya pak mending cari pasien saja saya pak hehehehe”
“Sebenarnya si Agus itu menyuruh bapak-bapak menemui saya ini salah besar, karena saya malah umbar kepada bapak-bapak ini sebenarnya apa yang dilakukan si Agus itu”
“Kasihan kedua anak kembarnya itu, lama-lama tubuh halusnya malas untuk masuk ke tubuh kasarnya, dan tentu saja akhirnya mereka bisa mati pak Paino”
“Dan ketika mereka mati, arwah mereka terus akan menjadi suruhan si Agus itu. Saya sebenarnya marah besar sama si Agus, tapi saya tidak mau ikut campur urusan dia pak Paino9”
“Iya saya paham pak War, heheh saya makin bingung dengan keadaan kami ini pak War”
“Sebenarnya mudah saja pak Paino, bapak ini kan sudah wellcome masuk ke rumah itu, jadi bapak pasti mendapat lindungan dari pak Wayan”
“Oh iya pak War, ada satu kasus lagi ini pak War”
“Pak Wayan wong samar itu juga minta bantuan saya, katanya ada yang ingin menghancurkan rumah ghaibnya, karena dianggap rumah tak kasat mata milik pak Wayan itu membuat sepi pengunjung vila belakang setra itu pak”
“Hahahah tidak ada yang bisa menghancurkan rumah pak Wayan apabila dua ular itu masih ada disana, tetapi.. Sebentar. Saya rasa kok ini ada kaitanya sama si Agus ya”
“Saya merasa aktivitas agus mengumpulkan ribuan bahkan jutaan demit di rumahnya itu pasti mempunyai tujuan tertentu.
“Eh begini saja, saya akan cari informasi dulu, saya butuh waktu satu hari untuk mencari apa yang akan dilakukan Agus, tapi terus terang untuk melihat rumah tak kasat mata pak Wayan saya sama sekali tidak bisa pak, di setra itu yang terlihat hanya kabut putih saja” kata pak War
“Oh iya pak Paino, saya rasa kedua anak itu tidak mampu masuk ke dalam rumah itu, tetapi dia bisa masuk kesana apabila menumpang di tubuh bapak ini”
“Maksudnya menumpang gimana pak War?”
__ADS_1
“Ya numpang, apabila tubuh pak Paino dan pak Sumadi dalam keadaan tidak sehat, mereka dengan mudah akan masuk dan ikut ke dalam rumah itu, jadi jagalah kesehatan dan tetap tinggal di rumah itu saja pak”
Setelah membayar makanan yang kami makan, pak War pergi meninggalkan kami ke arah kota, sedangkan aku dan Sumadi masuk ke rumah belakang setra lagi.