
“Besok pagi antar saya ke tempat itu pak Paino”
“Baik pak Darma”
“Saya tau karakter dari benda peninggalan dari leluhur saya, apabila salah satu dari benda itu sudah pulang ke tempat asalnya, maka yang satunya juga akan berusaha mencari jalan pulang. Minimal mereka akan kasih tanda bisa berupa apapun pokoknya”
Siang hingga malam aku tidak melakukan apa-apa, aku sedang berpikir kalau mereka itu ada di tempat yang sama hanya saja beda dimensi, bukan di dimensi ini. Aku berpikir kalau memang ada puri disana, tetapi mungkin beda dimensi saja.
****
Pagi hari seperti yang sudah-sudah, aku terbangun dengan aroma dupa yang berasal dari tempat persembahyangan disini.
Lama juga aku tidur hingga nggak terasa matahari sudah agak tinggi….
“Pagi pak Ngurah, sedang menunggu siapa disini pak Ngurah?”
“Saya sedang menunggu pak Paino, karena jik Darma dari tadi sudah siap”
“Astaga, iya pak, saya ganti pakaian dulu pak”
Aku tidak tau kalau pak Darma begitu antusiasnya hingga pagi gini dia sudah menunggu di rumahnya, hehehe disini aku masih kesulitan untuk memakai pakaian adat, tapi perlahan lahan aku akhirnya bisa juga.
“Selamat pagi pak Darma, maaf pak, saya kesiangan bangunnya”
“Tidak apa-apa, ayo kita ke sana, saya rasa hari ini kita akan mendapat sebuah clue disana, karena semalam saya bermimpi tentang sesuatu yang ada disana”
Pak Darma ini adalah seorang yang pendiam, dia bicara hanya yang penting-penting saja, sehingga selama ke tempat kemarin dia hanya beberapa kali menanyakan tentang asalku dan apa pekerjaanku saja.
__ADS_1
Sesampai di tempat aku kehilangan temanku pak Darma berkeliling sambil melihat ke pohon dan sekitarnya. Sedangkan aku juga sedang mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi tanda bagi sesuatu.
Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang sebelumnya tidak ada disini.
Di sebuah batang pohon besar yang mungkin cukup tua umurnya, dimana handycam aku temukan itu ada semacam bekas dilukai atau goresan di batang pohon dengan menggunakan benda keras, padahal kemarin aku tidak melihat tanda itu
Setelah kuperhatikan dengan cukup detail dengan menghapus beberapa kotoran yang menutupinya, pelan-pelan aku akhirnya bisa melihat bahwa tanda itu adalah tulisan.
AKU, GUSTIN, TINA SELAMAT. CARI CARA UNTUK PULANG.
“Pak Darma, pak disini pak”
“Menemukan sesuatu pak Paino?”
“Iya pak di pohon ini, ada tulisan seperti ini, kemarin di pohon ini tidak ada goresan seperti ini pak”
“Saya bingung apakah pak Paino yang terlempar ke sini atau justru mereka yang masuk ke masa lalu” gumam pak Darma
“Maksudnya bagaimana ya pak Darma?”
“Jadi begini, kalau lihat goresan di pohon itu sepertinya sudah lama sekali, dan tulisanya itu adalah AKU, GUSTIN, TINA SELAMAT. CARI CARA UNTUK PULANG. Yang artinya mereka masih bersama dan mencoba menyelamatkan diri”
“Kalau seandainya mereka sedang dalam keadaan bahaya, jelas sulit untuk menggoreskan sebuah tulisan di pohon ini pak, disini yang saya bingung, kalau mereka dalam bahaya jelas tidak mungkin bikin tulisan seperti ini”
“Atau kalau yang selamat hanya satu orang saja pasti tulisanya hanya nama teman bapak saja, sedangkan ini mereka bertiga dan bersama sama” jelas pak Darma
Aku semakin bingung, sebenarnya yang terjadi dengan mereka ini apa, dan apakah pak Wayan, itu bukan orang jahat dan apakah Agus Gusta, dan Hasto itu juga sama jahatnya dengan pak Wayan.
__ADS_1
Terakhir ketika itu Agus, Gusta, dan Hasto mendatangi puri pak Wayan, sedangkan aku, Sumadi, Tina dan Gustin lari ke hutan untuk melakukan penyelamatan desa, kemudian setelah itu kami ke tanah netral agar selamat, kemudian aku kembali ke desa. Dan ternyata di desa keadaanya jauh berbeda.
Dan sekarang ada goresan di pohon yang menyatakan Sumadi, dan kedua perempuan itu selamat. Tapi aku masih bingung dengan Hera dan gek Ayu, dimana mereka saat ini.
Tempat yang aku injak ini kata pak Wayan adalah tempat yang lebih sakral karena dibawah sini ada sumur dengan air yang dicari cari oleh Agus, tapi sekarang aku ada di masa yang entah jauh ke depan atau gimana
“Pak Paino coba perhatikan kesini sebentar” panggil pak Darma yang sedang memperhatikan sebuah batu di sebelah pohon
“Ingat ingat pak Paino, batu ini sebelumnya ada disini atau tidak”
“Seingat saya disitu tidak ada batu sama sekali pak. Tapi sekarang ada batu itu”
“Sekarang bawa pulang batu ini pak Paino, dan area disini ini energinya luar biasa, coba nanti saya akan pelajari dulu”
Ketika kami akan balik, aku iseng melihat ke arah pohon yang tadi,
“Pak Darma, ada goresan di pohon ini lagi!
“Dia tulis apa lagi pak Paino?”
“Teman saya bilang PECAHKAN BATU ITU, HATI-HATI. SMD. pesan ini dari teman saya pak, SMD itu Sumadi”
“Nah benar kan apa yang tadi saya bilang, saya tadi merasa ada energi yang aneh di batu ini, ayo sekarang kita balik ke puri saja”
Tulisan atau goresan di pohon itu rasanya kayak sudah tua sekali, jadi mungkin Sumadi dan dua orang itu terlempar ke masa lalu, sedangkan aku terlempar ke masa depan.
Tapi kenapa pemuda yang ada disana itu bilang kalau Komang mati seminggu yang lalu, harusnya komang sudah lama meninggal, tapi ah nggak tau lagi aku…..pusing!
__ADS_1
Aku semakin nggak paham apa yang sedang terjadi disini.