Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 77. USUL PAK WAYAN


__ADS_3

“Sampai depan pintu itu saja mbak, kami akan masuk ke dalam dan lebih baik mbak Hera dan gek Ayu pulang saja”


“Tapi kami kepingin masuk ke dalam sana pak, Hera cuma pingin tau ada apa di dalam sana pak”


“Oke, tapi hanya sampai bagian depan ruman ini saja ya, sekalian bantu saya bawa Paino ke kamar depan”


“Iya pak, kami hanya bantu pak Paino saja, setelah itu kami akan keluar dari sini pak”


Beberapa kali Paino mencoba untuk berjalan sendiri, tetapi karena kondisi dia yang masih sangat lemas akibatnya dia hanya bisa pasrah ketika aku bantu untuk berjalan.


Ruang tamu ini tidak berubah ketika kami tinggal terakhir kali kami ke sini, ruang tamu yang kalau siang gini rasanya sejuk karena angin yang berasal dari kisi-kisi atas jendela.


“Keadaan disini sebenarnya enak pak, ruang tamu ini sangat nyaman, tetapi hehe pak Sumadi sekarang kan sudah bisa lihat apa yang ada di ruang tamu ini pak” kata mbak Hera


“Iya mbak Hera, siang ini ada beberapa penghuni ruangan ini, tapi mereka rata-rata hanya diam dan tidak mengganggu kita mbak


“Ayo bantu saya masukan Paino ke kamar sebelah sana itu”


“Di, aku sudah bisa jalan sendiri rek”


“Dah gak usah banyak bacot No, kamu ini belum sepenuhnya sehat,  sudah diem aja pokoknya kamu harus banyak istirahat dulu”


“Mbak Tolong bukakan pintu kamar itu mbak”


Gek Ayu maju dan membuka pintu kamar…ketika pintu kamar terbuka, gek Ayu terkejut dan mundur satu langkah.


“Ada apa gek Ayu?”


“Itu pak, ada itu….”jawab gek Ayu penuh keraguan

__ADS_1


Ternyata di dalam kamar ada pak Wayan yang sedang duduk di pinggir tempat tidur, dia hanya memandangi kami berempat tanpa ekspresi sama sekali.


“Permisi pak Wayan, saya dan Paino memutuskan untuk tinggal disini hingga keadaan menjadi aman”


Pak Wayan tidak menjawab omonganku, dia berdiri dan memegang dahi Paino. Beberapa kali pak Wayan memegang dahi Paino.


“Tidurkan temanmu di tempat tidur itu, dan kalian bertiga tunggu di ruang tamu itu” kata pak Wayan kepada aku , mbak Hera dan gek Ayu


Kami bertiga menunggu apa yang sedang dilakukan pak Wayan terhadap Paino, aku sih sebenarnya khawatir juga karena aku nggak tau apa yang sedang dilakukan pak Wayan, tetapi entah kenapa aku percaya saja.


“Orang tua itu yang sering datang ke rumah sakit ketika pak Sumadi sedang dalam keadaan gawat pak” mbak Hera membuka pembicaraan


“Iya mbak, dia pak Wayan yang sudah membantu saya dan Paino. Eh mbak, di setra itu sebenarnya adalah rumah pak Wayan, tapi kenapa saya kok nggak bisa lihat rumah itu?”


“Oh masak disana ada rumah pak Wayan pak?”


“Tapi Hera juga tidak bisa lihat kok pak. Begini pak, tingkatan ghaib itu macam-macam pak, pak Sumadi sekarang bisa lihat wong samar, tetapi belum tentu bisa melihat wong samar yang satu tingkat diatasnya pak”


Lima menit kemudian pintu kamar terbuka, dan yang membuka pintu kamar itu adalah Paino!


Paino berjalan ke arahku ruang tamu dengan wajah cengengesan, kemudian dibelakangnya ada pak Wayan yang  mengikuti Paino.


“Aku sudah sehat Di… sudah siap untuk melakukan apa saja, dan sekarang aku juga sudah bisa lihat makhluk ghaib jug Di hehehe”


“Saya lakukan hal yang sama dengan pak Paino, pak Sumadi. Sekarang kalian bisa lihat wong samar yang ada di sekitar sini” kata pak Wayan dengan wajah serius”


“Kenapa pak, apakah kami memang harus bisa melihat hal yang tak kasat mata?”


“Tidak harus pada awalnya, tetapi sekarang menjadi keharusan” jawab pak Wayan

__ADS_1


“Musuh kalian sudah bukan sesuatu yang biasa saja, tetapi sudah pada level yang tinggi. Sebetulnya bukan musuh apabila kalian tidak mendatangi rumahnya”


“Mereka sedang mencari kalian berdua, dan mereka juga sedang mencari kalian berdua juga” tunjuk pak Wayan pada mbak Hera dan gek Ayu


“Lantas bagaimana dengan mereka berdua pak Wayan, apakah mbak Hera dan gek Ayu akan disakiti juga oleh Gusta dan Gustin”


“Ya… mereka akan mencari kalian berdua juga, karena kalian berdua sudah berkomplotan dengan ibunya” kata pak Wayan melihat dengan tajam ke arah mbak Hera dan gek Ayu


“Saran saya, kalian berdua tetap disini dulu hingga besok pagi… sore hari hingga malam ini mereka sedang mencari kalian berempat”


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan kami ini pak Wayan, dan kenapa mereka sampek mencari kami sedemikian rupa, apakah ada sesuatu di tubuh kami?”


“Hah… pak Sumadi kenapa tanya-tanya terus apa yang ada di dalam tubuh kalian berdua, kalian sudah tau jawabanya kenapa tanyaaaa terus”


“Bukan begitu pak Wayan, saya dan Paino tau bahwa ada keajaiban ketika kami sedang duduk di pinggir pantai waktu kajeng kliwon itu, tetapi yang saya tidak jelas itu apa yang ada di dalam tubuh kami”


“Kenapa mereka memburu dan ingin membuat kami berdua mati?”


“Maaf.. bukannya saya tidak tau apa yang ada di dalam tubuh kalian berdua pak Sumadi dan pak Paino, tapi saya tidak mau lancang, karena yang ada di dalam tubuh kalian itu energi laut yang luar biasa”


“Dua anak itu mengejar apa yang ada di dalam tubuh kalian berdua, saya tidak mau menyebutkan apa yang ada di dalam tubuh kalian, karena itu milik dari ratu yang secara tidak sengaja masuk  ke dalam tubuh kalian berdua.


Aku tau kalau aku dan Paino ini sembuh dari sakit ghaib karena berkat kami duduk menghadap laut selatan. Aku tau bahwa setelah itu aku merasa hidup dan bersemangat lagi.


“Ayu dan Hera, kalian tetap disini saja, bukannya saya ingin menahan kalian, tetapi dua anak kembar dan pengawalnya juga sedang mencari kalian berdua”


“Inggih pak Wayan. Tapi bagaimana dengan ibu dari anak kembar itu pak, apakah anak kembar itu melakukan sesuatu kepada ibunya?”


“Saya tidak tau Hera, tapi kalau kalian penasaran dengan ibu mereka, kalian bisa datang ke sana. Saya bisa bikin tubuh halus kalian pergi ke sana dan melihat keadaan ibu itu, nanti kalian dikawal dua ular peliharaan saya”

__ADS_1


“Kapan pak kami bisa pergi ke sana untuk melihat keadaan ibu Tina?”


“Nanti malam saat yang tepat, nanti malam tubuh halus kalian akan saya keluarkan dari tubuh kasar kalian”


__ADS_2