
Sofa ini rasanya seperti sedang memeluk ketika aku duduk disini, sofa ini seakan tau bahwa posisi duduk untuk aku yang nyaman dan menyenangkan adalah seperti ini.
Sejenak aku dan Sumadi terdiam, aku sih masih takjub dengan posisi duduk di sofa yang seolah memberikan rasa nyaman dan rasa pas pada tubuhku.
Aku sempat lupa untuk memberikan atau mengomentari keadaan disini….
“Maaf sejenak tadi saya sempat merasakan bagaimana enaknya duduk di sebuah sofa yang mahal, bagaimana kulit sofa yang empuk dan busa sofa ini menahan tubuh saya sedemikian rupa, sehingga rasanya pas antara rasa nyaman dan memanjakan tubuh”
“Saya rasa Sumadi juga merasakan hal yang sama….”
“Saya sekarang tau dan bisa merasakan perpaduan antara hembusan angin sejuk dengan bau tanaman dan tanah basah, ditambah dengan sofa yang begitu memanjakan tubuh, maka yang dihasilkan adalah….”
“Pikiran yang tenang….”
“Dan rasa kantuk yang perlahan lahan menguasai otak saya”
“Huuuaahhm seperti ada yang memaksa saya, seperti ada yang mengelus elus dan membujuk otak saya agar istirahat sejenak dan merasakan nikmatnya ruang bawah tanah ini… huuuaahhm”
“Saya tidak bisa menolak, saya merasa sangat nyaman, saya merasa seperti ada yang menghipnotis saya untuk segera tidur dan bermimpi indah”
“Hoooaaaaahm, bahkan otak saya pun mendukung pemaksaan untuk beristirahat sejenak disini”
“Di…. Sumadi, kamu gimana DI?”
“Aku nguaantuk No, eh kalau sebentar saja… sebentar saja kita tidur disini gimana No… lagipula ini kan belum malam juga No?”
Aku tidak merespon ucapan Sumadi, karena otakku semakin memaksa aku tidur, otakku sudah berselimut kenyamanan, otaku sudah istirahat…..
*****
“No…. bangun No….!”
"Ayo banguuuun!” suara Sumadi terdengar jelas
Aku membuka mata perlahan lahan….
Sinar cahaya senter silau mengenai mataku..
“Di… minggirkan cahaya senter itu Di… silau sekali rek”
“Eh kenapa disini jadi gelap gulita gini Di?”
“Mangkanya… bangun rek, dari tadi aku bangunin kamu, tapi kamu nggak mau respon sama sekali, aku pikir kamu sedang pingsan No”
“Cepat nyalakan sentermu No… kita harus pergi dari ruang bawah tanah ini”
“Eh jam berapa sekarang Di?”
“Jam tujuh malam, kita tertidur disini hampir dua jam lebih”
__ADS_1
Gelap gulita dan panas.. Keadaan disini panas dan pengab, tidak ada udara atau angin yang mengalir melalui kisi-kisi yang ada di atas meja makan.
Gelap gulita, bahkan sangat gelap, hingga aku tidak bisa melihat meskipun hanya bayangan saja.
Kunyalakan senter yang ada di kantungku. Cahaya senter aku arahkan ke segala arah ruang bawah tanah ini.
“Nyalakan handycam Di” bisikku
“Dari tadi sudah aku nyalakan No, dan sudah dalam mode gelap…tapi yang aku tangkap hanya distorsi, mungkin karena keadaan yang terlalu gelap disini” jawab Sumadi
Aku masih duduk di sofa kulit yang busanya seakan merangkul pinggangku. Otakku masih belum bekerja dengan baik, aku masih belum bisa berpikir apa yang akan kami lakukan.
Kuterangi sekelilingku dengan senter yang aku bawa…
Masih berupa ruang tamu yang mewah, hanya saja sekarang keadaanya gelap. Dan suplai udara dari luar juga terhenti, suara dengungan mesin yang ada di belakang tembok ruang makan juga tidak terdengar sama sekali.
“Kita masih ada di ruang bawah tanah seperti sebelumnya Di”
“Aku pikir sekarang kita sudah pindah alam Di”
“Gak usah mikir pindah alam segala No, pikiranmu bikin aku sumpek… kamu fokus pada komentar saja No”
“Ok Di……”
“Selamat malam, ternyata sekarang sudah pukul 19.10. Kami ketiduran disini sekitar dua jam lebih”
“Dan yang mengagetkan keadaan ruangan ini sekarang gelap gulita, tidak ada cahaya sama sekali. Tidak ada bayangan sedikitpun yang bisa saya lihat”
“Saya sapukan cahaya senter ke segala arah, ternyata ruangan ini masih sama dengan ketika kami berdua datang kesini sore hari tadi”
“Tidak ada yang berubah, tidak ada atau belum ada yang aneh, hanya saja listrik disini mati, dan akibatnya suplai udara dari luarpun terhenti”
“Keadaan disini panas dan pengab!”
“Sekarang saya dan Sumadi akan keluar dari ruangan ini, karena kami rasa sudah cukup untuk sementara waktu ini ada di sini”
Aku hentikan bicara dengan alat perekamku karena aku mendengar sesuatu.
Kupertajam telingaku agar aku bisa lebih jelas mendengar suara apa yang sempat terdengar.
Tapi suara itu sangat lemah..
Aku lanjutkan bicara dengan alat perekam dengan suara berbisik..
“Pukul 19.20…. Saya mendengar suara yang sangat lemah, sayangnya saya belum bisa memprediksi suara apa itu dan berasal dari mana suara itu”
“Eh suara seperti sesuatu yang bergesekan atau eh bukan….bukan bergesekan. Tetapi suara benda yang sengaja dipukul dengan sangat pelan, tapi… tapi saya belum bisa memperkirakan suara itu berasal dari mana”
“Sumadi… apa kamu juga mendengar suara itu?” tanyaku dengan berbisik
__ADS_1
“Iya No… suara seperti sebuah tanda, eh seperti ada yang memberi tanda kepada kita berupa gesekan dan kadang pukulan benda ke benda lain”
Saat ini posisiku dan Sumadi masih duduk di sofa, entah kenapa tubuhku enggan untuk berdiri dari posisi duduk di sofa ini.
Entah kenapa aku merasa bahwa aku adalah bagian dari sofa dan ruangan bawah tanah ini, sehingga aku tidak mau beranjak berdiri dari sofa dan pergi dari ruangan bawah tanah ini.
Seperti ada sesuatu yang membelenggu otaku untuk memerintahkan aku agar berdiri dari sofa dan segera pergi dari sini
“Saya masih mendengar suara yang sangat pelan, suara seperti gesekan benda dan pukulan benda yang entah berasal dari mana”
“Dan yang bikin saya bingung adalah kenapa otak saya tidak memerintah saya untuk segera berdiri dari sofa dan segera pergi dari sini”
“Apakah saya takut….?”
“Jelas saya takut, tapi takut yang hanya perasaan itu kalah dengan perintah otak kepada tubuhku agar tidak berdiri dan pergi dari ruangan ini”
“Di… kamu merasa nggak kalau kita ini dijebak, kita dibuat enak di sofa ini hingga kita dipaksa untuk tidur, dan hasil dari jebakan tidur itu sekarang kita ada di ruangan yang gelap gulita seperti ini Di”
“Iya No, itu yang tadi juga aku sedang pikirkan, kita kayaknya memang dijebak!”
“Sekarang otak malah memerintahkan agar kita mencari asal suara yang aneh itu. Otaku tidak memerintah aku untuk segera pergi dari sini, tetapi malah menyuruh kita agar mencari asal suara itu”
“Bagaimana dengan kamu Di?”
“Sama No, sama dengan yang barusan kamu katakan, di kepalaku seolah ada yang memerintah untuk cari suara aneh itu dan jangan pergi dari sini”
“Di, kamu apa nggak takut?”
“Ujian takut tahap awal sudah aku lewati kemarin kemarin No, sekarang mungkin akan lanjut ke ujian takut berikutnya No”
“Tenang aja Di, tetap menyerah dan jangan semangat”
“Heh kebalik ndeng!”
“Di… kita ini nanggung kalau harus pergi sekarang, gimana kalau kita menuju ke pintu yang ada di dekat meja makan itu, gimana kalau kita lanjut eksplorasi hingga tengah malam?
“Aku rasa ini ide yang agak sinting Di, tapi gimana lagi, kita udah kepalang basah di ruangan bawah tanah yang sangat gelap gini”
“Jadi kita lanjutkan saja ini No?”
“Iya Di, kita sudah ada di sini, dan tantangan berikutnya adalah suara aneh dan pintu yang ada di sana itu”
“Tapi sebentar Di, apa di handycam kamu nggak ada siluet atau bayangan sesuatu yang nampak?”
“Nggak ada No, bahkan orbs yang biasanya berterbangan pun gak nampak sama sekali”
“Aneh di ruangan yang seharusnya banyak sekali makhluk tak kasat matanya, tapi saat ini tidak ada sama sekali ya Di?”
“Aku yakin di balik pintu itu ada sesuatu yang bisa kita dapatkan No”
__ADS_1
“Aku yakin kita memang sedang dijebak untuk masuk ke ruangan yang ada di sebelah itu No”