Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 114. MAKIN NGGAK MASUK AKAL


__ADS_3

Di puri pak Darma..


Batu yang tidak seberapa besar mungkin berukuran diameternya sekitar 25 cm itu sedang kami amati.


Tidak ada yang aneh dengan batu itu, mirip dengan batu kali biasa yang sering ditemui di daerah pegunungan. Berwarna abu kehitaman, tidak ada yang spesial pokoknya.


“Kita pecah sekarang atau bagaimana pak Paino?” tanya pak Darma


“Iya pak, agar lebih cepat tau apa yang ada di dalam batu itu”


Pak Ngurah datang dengan membawa sebuah palu yang ukurannya sedang, dia juga membawa pasak besi yang biasanya digunakan  mengukir batu atau kayu untuk kerajinan pembuatan patung.


THAAK!....pemukulan pertama!...


Aaauu… kepalaku..!


Aneh, ketika palu dan pasak itu mengenai batu, tiba-tiba kepalaku langsung sakit.


“Ada apa pak Paino, kok tiba-tiba wajahnya seperti menahan sakit?”


“Eh nggak papa pak Darma, mungkin saya terlalu capek,lanjutkan saja memecah batu itu pak”


THAAK!... pemukulan ke dua…


Kepalaku makin sakit, seperti ditusuk tusuk dengan pisau uuughg


THAAAK!.... Pukulan ketika dan batu itu pecah menjadi dua tapi……


Tiba-tiba semua menjadi gelap…. Sangat gelap, dan sakit kepalaku berangsur angsur mulai hilang. Tapi aku tidak tau aku ada dimana, karena semua menjadi gelap gulita.

__ADS_1


Tidak ada cahaya tidak tempat berpijak, aku tidak melihat adanya permukaan tanah yang aku pijak, seluruhnya menjadi hitam kelam gelap dan tidak ada batasan sama sekali!


Sial aku sekarang ada dimana ini! Tidak ada batas, hanya gelap yang pekat saja….tapi di kejauhan itu ada kayak orang yang sedang jalan ke arahku, semakin dekat.


Lho itu Sumadi, dia ada disini juga, apa yang dia sedang lakukan disini juga. Semakin dekat dan akhirnya dia ada di depanku, tapi anehnya Sumadi seperti tidak melihat aku, pandangannya menerawang ke depan.


“No.. Paino, aku ini Sumadi, jawab omongku No” kata Sumadi yang masih melihat ke depan tanpa ekspresi.


“Kalau benar kamu Paino, jawab omonganku tadi”


Suara Sumadi sangat aneh, suara dia keras dan bergema, padahal sepertinya dia bicara denganku tanpa berteriak sama sekali, tapi aku mendengar suara dia itu seperti bergema.


Sekarang malah ada yang aneh dengan Sumadi, dia seolah sedang mendengarkan sesuatu,  dia memiringkan kepalanya seperti kalau sedang mendengarkan suara yang pelan atau suara yang jauh.


“No… kamu dengar suaraku apa nggak?” Sekarang Sumadi berkata tapi dia tidak menghadap ke arahku, dia menghadap agak ke kiri dari tubuhku


“No, kamu dengar panggilanku apa tidak, ayo jawablah No, kamu dalam bahaya besar dan kamu harus menjawab omonganku sekarang juga”


Apa, kenapa mereka menungguku, mereka berarti sudah bergabung satu sama lain, tapi kenapa ada pak Wayan, dan sekarang mereka sedang menungguku, tapi mana si Gustin dan  bu Tina.


Lebih baik aku jawab saja panggilan Sumadi, aku penasaran sebenarnya apa yang sedang terjadi disini.


“Di, aku ada di sebelahmu, apa kamu nggak bisa liat aku Di?”


“Alhamdulillah kamu sudah jawab panggilanku No, kalau kamu ada di sebelahku tolong pegang tanganku No, karena aku sama sekali tidak bisa melihatmu No”


“Pegang tangan kananku, untung kamu bisa ditemukan, ayo kamu harus pulang, kamu harus ikut denganku, kita pulang sekarang No, aku sudah lama nunggu kamu”


Ada apa ini, kenapa Sumadi merasa sudah lama menunggu aku, dia bilang bahwa aku sudah mereka temukan, sebenarnya apa yang terjadi dengan aku.

__ADS_1


Lebih baik aku turuti saja apa yang dia katakan, ku pegang tangan Sumadi….


Wuiiih tangan Sumadi rasanya hangatl


Ketika aku pegang tangan Sumadi, sesuatu yang hangat mulai mengalir dari pergelangan tangan dan mengikuti aliran darah  hingga ke jantungku…


Dari jantung kemudian lari ke otak otaku rasanya penuh dan sakit… sangat sakit hingga aku harus memejamkan mataku untuk  menahan rasa sakit ini.


Sakit sekali, dari mata kemudian rasa sakit itu menuju ke wajahku, wajahku rasanya bengkak dan membesar, rasa sakit itu makin menjadi jadi bersamaan dengan sakit di kepalaku.


Aaaggh sakit sekali wajahku, mataku, kepalaku, rasanya sangat sakit yang tidak terhingga!, sekarang aku mulai merasakan sakit di bagian dada, dan tangan kananku….


“No.. ayo bangun No, kamu harus mencoba untuk sadar dan bangun, ayo bangun No, sudah banyak orang yang menunggu kamu No”


Suara Sumadi terus menerus memanggil namaku, rasanya risih juga mendengar suara yang dekat dengan telingaku, nah  sekarang dia malah bisikan surat al fatihah di telinga kananku sebenarnya apa yang sedang terjadi sih.


Tanganku, sulit sekali menggerakan tanganku, rasanya kebal kebas dan aku nggak bisa merasakan tanganku sama sekali.


Aku coba membuka mata kiriku, tapi kenapa aku tidak bisa membuka mata, seperti ada kain yang membebat mataku, ketika aku buka kedua mataku, ternyata sama saja,ada kain yang membebat kedua mataku.


Aku harus tanya ke Sumadi, aku harus bicara dengan Sumadi apa yang terjadi dengan diriku ini.


Tapi tenggorokanku… seperti ada sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokanku, sehingga aku tidak bisa bicara sama sekali.


Bukan, yang aku rasakan ini bukan masuk dari mulut, tapi ada semacam pipa kecil yang menembus leherku dan masuk ke tenggorokanku. Apa ini!.... Apa yang sedang terjadi denganku.


Sekarang gantian suara mbak Hera, dia sedang mengumandangkan ayat suci Al Quran di sebelahku, sebenarnya aku ini mati atau gimana  apa?


“Bagaimana keadaan teman saya dok?”  kata Sumadi kepada dok?... dokter?

__ADS_1


“Tanda-tanda vitalnya sudah mulai stabil, tapi stabil ini cukup bahanya, karena sewaktu-waktu bisa drop, hanya saja untuk jalur nafas di kerongkongan hancur, dan harus segera dioperasi setelah dia mulai stabil semuanya”


Aku di rumah sakit dan dalam keadaan luka parah? Sebenarnya apa yang sudah menimpaku, kapan aku mengalami kejadian, dan apa yang sudah aku alami!


__ADS_2