
Terus terang, selama aku ada di rumah belakang setra saat ini, aku sama sekali tidak merasa takut, berbeda dengan ketika aku dan Sumadi melakukan pengamatan atau observasi tentang apa yang ada disini.
Hampir tengah malam pak Wayan datang lagi, dia keluar dari kamar depan..
“Pak Paino dan mbak Hera, masuk ke dalam kamar saya saja, dan duduklah bersila di lantai kamar” kata pak Wayan yang sedang berdiri di depan pintu kamar.
“Pak Sumadi dan Ayu tetap disitu saja, ten kemana mana ya, tetap bersama pak Sumadi”
Sudah waktunya aku dan Hera untuk melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, dan tentu saja ini sangat surprise bagiku, dan pasti Hera juga merasakan yang sama dengan ku.
Aku dan Hera duduk bersilah di tengah kamar depan rumah belakang Setra.
“Tutup mata kalian, konsentrasi penuh pada satu titik dan jangan melawan apa yang akan terjadi dengan kalian berdua, rasakan dan ikuti saja apa yang akan kalian rasakan”
“Satu lagi, jangan membuka mata sebelum saya suruh membuka mata, ingat ya jangan membuka mata sebelum saya suruh” kata pak Wayan
Kututup mataku, dan aku berusaha konsentrasi pada satu titik yang pak Wayan suruh.
Awalnya aku tidak merasakan apa-apa selain hanya capek dan sedikit pusing karena harus menutup mata dan konsentrasi pada satu titik.
Tapi lama kelamaan tubuhku rasanya sangat ringan, saking ringannya aku merasa kayak bergulir kekiri ke kanan, dan aku merasa susah untuk menstabilkan tubuhku.
Aku berusaha diam agar tubuhku tidak bergulir seperti bola, tapi setiap aku menstabilkan, tubuhku yang terjadi adalah aku berguling lagi ke kiri, dan akhirnya aku merasa bahwa kepalaku ada di bawah.
Hahaha rasanya aneh, seperti angin atau udara yang memadat berbentuk tubuh manusia.
“Sekarang buka mata kalian berdua, dan jangan berusaha untuk melawan, biarkan keseimbangan tubuh kalian menyesuaikan diri secara natural” kata pak Wayan
“Ingat, jangan berusaha melawan, dan kontrol keseimbangan ini dengan menggunakan otak, bukan dengan menggunakan otot kalian, karena otot kalian sudah tidak ada gunanya lagi disini”
“Jangan bergerak dulu, biarkan posisi tubuh kalian normal dulu”
Kubuka mataku perlahan lahan…
Sialan posisiku terbalik kepalaku ada di bawah, makanya dari tadi kok rasanya mual….
“Ingat kontrol keseimbangan diri kalian menggunakan otak, bukan menggunakan otot” kata pak Wayan lagi
__ADS_1
Dan memang benar, setelah aku diam dan mengendurkan ototku yang dari tadi aku gunakan untuk membalik tubuhku, ternyata perlahan lahan tubuhku kembali ke posisi yang benar.
“Sekarang berdiri dan berjalanlah, ingat berjalan dan bergerak dalam keadaan ini berbeda dengan ketika kalian berada di tubuh kasar… cobalah perlahan lahan dahulu”
Aku mencoba berdiri.. Dan ternyata benar, aku bisa berdiri…
Aku berdiri dan berjalan maju..
Astaga, aku terlepas dari raga kasarku, raga kasarku masih dalam posisi duduk bersila di tengah kamar depan rumah belakang setra.
“Sekarang coba jalan dan melayang, ingat otot kalian tidak ada gunanya disini, gunakan otak kalian untuk menggerakan tubuh kalian”
Ternyata sulit juga menggerakan tubuh dalam keadaan seperti ini, karena biasanya memang otak memerintahkan otot kaki atau tangan agar bergerak, tetapi sekarang tidak.
Ternyata sekarang setelah otak menyuruh tangan bergerak, rasanya tanganku bergerak sendiri tanpa aku merasakan beban dari gerakan itu. Eh jadi aku nggak merasakan ototku menggerakan tanganku.
Sulit memang, tapi aku dan Hera harus bisa mengontrol tubuh dulu sebelum kami pergi ke tempat bu Tina, takutnya ketika kami disana ada serangan yang mengharuskan kami melarikan diri menghindari serangan dari mereka.
Hahaha ternyata tidak semudah yang ada di film dan novel lainnya. Di novel dan film pembahasan ngeraga sukma itu mudah, dan tubuh halus kita bisa melayang dengan santainya.
“Kontrol tubuh kalian dengan baik dulu, baru saya akan melepas kalian keluar. Kalau kalian belum bisa mengontrol tubuh kalian, saya belum berani melepas kalian berdua”
“Yang bilang mudah siapa Hera?” tanya pak Wayan
“Saya baca buku dan lihat film kok mudah sekali pak?”
“Hehehe yah saya tidak tau juga Hera, mungkin ilmu mereka lebih tinggi dari saya, sehingga mudah sekali untuk melepas raga halus dengan raga kasar”
“Cepat kalian berdua harus bisa mengontrol diri…”
Perlahan namun pasti aku dan mbak Hera bisa menguasai diri dengan menggunakan otak, sulit sekali memang, tapi kalau tidak sekarang mau kapan lagi kami mendatangi bu Tina dan melihat keadaan rumah mereka.
“Hmm saya rasa Hera dan pak Paino sudah bisa menguasai diri. Keluarlah kalian dari sini, dan di depan rumah ini sudah menunggu dua ular peliharaan keluarga saya”
“Oh iya untuk menuju ke tujuan yang kalian inginkan, kalian hanya pikirkan saja dimana rumah itu berada, ciri rumah, atau jalan rumah itu”
“Nanti kalian akan dituntun untuk melayang kesana dengan sendirinya”
__ADS_1
“Ya sudah pak, kami akan kesana sekarang, saya rasa saya dan mbak Hera sudah bisa mengontrol diri kita sendiri pak”
“Yakin kalian, ya sudah keluar sana, eh tidak perlu membuka pintu pak Paino, lewati saja pintu itu hahahaha”
Sialan aku lupa kalau hahaha, ternyata aku bisa menembus dinding dan pintu hahaha.
Ketika aku menembus pintu Sumadi dan gek Ayu melihat aku dan Hera dengan wajah agak takut…
“Kenapa Di?”
“Ngeri No, wajahmu pucat kayak cat tembok warna putih, dan tembus pandang juga”
“Lho pak Wayan, apa saya dan Hera ini bisa dilihat manusia?”
“Yang mata batinnya terbuka tentu saja bisa melihat kalian berdua, pak Sumadi dan Ayu kan bisa melihat wong samar, jadi mereka bisa melihat pak Paino dan Hera sekarang ini” jawab pak Wayan
“Ternyata sulit sekali Di, melayang kayak tidak ada gravitasi, mungkin kayak astronaut ya heheheh”
“Sudah-sudah, kalian berdua cepat keluar sana, di depan rumah sudah ada dua ular yang sedang menunggu kalian”
“Nama ular itu siapa pak?” tanya Hera
“Kalian tidak perlu tau siapa nama ular itu, pokoknya kalian akan dijaga oleh dua ular peliharaan saya hingga balik ke sini dengan selamat”
“Apabila kalian ada masalah, maka saya akan tau dengan sendirinya, karena mata ular ini juga adalah mata saya”
“Kalau keadaan makin bahaya nanti saya akan ke sana mungkin sendirian, mungkin juga saya ke sana bersama pak Sumadi dan Ayu” kata pak Wayan
Setelah berpamitan, aku dan Hera keluar dari rumah, dan ternyata benar, di depan rumah sudah menunggu dua ular aneh..ya sangat aneh.
Kenapa aku bilang aneh, karena bentuknya bukan seperti ular, dia tidak bersisik tubuhnya halus licin tidak ada sisiknya sama sekali.
Ukuranya bisa dibilang besar seperti ular piton yang mungkin ukuran panjangnya sekitar tiga meter, dan ada mahkota di kepalanya.
Yang paling menarik dari ular yang ada di luar ini adalah warnanya..
Yang satu berwarna biru muda atau biru muda pastel, yang satunya merah darah menyala… mereka melihat aku dan Hera tanpa melakukan apapun.
__ADS_1
“Pak Paino dan Hera, selama perjalanan, kalian harus ada di antara dua ular itu, karena tubuh ulat itu akan melindungi kalian dari pandangan siapapun yang bisa melihat makhluk ghaib” kata pak Wayan