
“Mereka tidak berhasil menembus tembok yang dibikin pak Wayan No, yang besar terus berusaha masuk dengan cara apapun, tapi merekat tidak bisa masuk ke sini”
Ngeri…. tiga sosok itu sangat marah dan sekarang mereka pergi dari sini No”
“Sebenarnya apa yang dimaui mereka itu, kita kan tidak punya apa-apa dan kita tidak ada masalah dengan mereka Di”
“Ya itu yang aku masih belum mengerti, coba kamu ingat-ingat No, apa yang kita lakukan disini yang membuat mereka mengejar kita dan tidak suka dengan kita”
“Tidak ada kan Di, kita datang dan kita selalu jadi korban yang ada di dalam rumah itu, kemudian kita ke pinggir pantai dan seperti mendapat tenaga ekstra dan kesembuhan… nah mulai itu kan mereka tidak suka dengan kita Di”
“Mereka tidak suka mungkin karena kita sembuh itu No, atau apa mereka mengejar kita karena kita mendapat energi dari pantai?”
“Waktu itu kan kajeng kliwon, dan seharusnya kita tidak kemana mana No, tetapi kita nekat cari udara segar kan” lanjut Sumadi
“Apa karena kita mendapat energi dari sesuatu yang ada di pantai itu ya Di…..pokoknya mulai kita pulang dari pantai itu mereka berdua kemudian berubah kelakuannya”
Aku berpikir keras dan berusaha menggabung-gabungkan peristiwa yang sudah kami alami, tapi dari peristiwa itu yang paling masuk akal adalah ketika kami dalam keadaan luka-luka, dan Sumadi sudah dianggap mati.
Kemudian setelah kami pulang dari pantai, kami sembuh, dan tubuh tak kasat mata Sumadi juga hidup kembali.
Pantai laut selatan adalah sebuah pantai yang penuh misteri, yang konon dikuasai oleh Nyi Roro Kidul, tapi apa hubunganya dengan kami yang tidak memiliki ilmu apapun. Bahkan untuk sembahyang pun kami sering bolong bolong.
“Eh Di, aku melihat adanya korelasi antara ketika kita dalam keadaan sakit dan kamu dinyatakan sudah mati oleh dua anak itu dan ketika kita mengalami kesembuhan, dan kamu dinyatakan hidup lagi setelah kita ada di pantai K itu”
“Mungkin…ini hanya mungkin ya Di, berdasarkan apa yang aku pikirkan….”
“Waktu itu kan kajeng kliwon Di, katanya kalau kajeng kliwon banyak hal negatif yang muncul… waktu itu kita sedang ada di pantai dan menghadap ke arah laut selatan…. Kamu tau kan siapa yang menguasai laut selatan?”
“Konon Nyi Roro Kidul ya No?”
“Iya…bisa jadi memang beliau itu penguasanya Di, ada kemungkinan waktu malam itu mungkin lho ya… ini hanya mungkin saja…”
“Mungkin Di, waktu itu ada energi dari laut yang menuju ke daratan, ingat waktu itu kajeng kliwon, atau bisa saja ada anak buah dari penguasa pantai selatan yang menuju daratan dan melihat kita dalam keadaan kesusahan”
__ADS_1
“Kemudian secara tidak sengaja energi yang ada pada mereka terserap ke dalam tubuh kita.. Tubuh tak kasat mata kita sembuh, kamu pun hidup lagi Di”
“Jadi mungkin di dalam diri kita ini ada energi besar yang mungkin merupakan saingan dari mereka-mereka disini sebagai pelaku ilmu-ilmu hitam”
“Atau No.. bisa saja yang ada di dalam tubuh kita ini menjadi incaran mereka, mungkin energi atau apalah yang ada di dalam tubuh kita sangat disukai mereka No”
“Tapi kalau mereka suka dengan energi yang ada di dalam tubuh kita. Pasti yang kejar kita tidak hanya dua anak kembar itu saja Di, pasti yang akan kejar kita banyak sekali”
“Sekarang yang kejar kita hanya dua anak kembar itu saja kan Di”
“Iya benar No… hanya mereka saja yang kejar kita”
“Karena hal itu Di, kita sekarang malah ketambahan tugas untuk menghindar dari mereka, tetapi kan kita jelas tidak bisa selalu menghindari mereka Di, sampai kapan kita harus menghindar dari mereka”
“Bisa saja mereka akan mengikuti kita sampai di tempat asal kita Di… maka dari itu kita harus melawan mereka Di”
“Kamu mau nekat akan melawan mereka, sementara kita tidak tau siapa mereka dan apa mereka itu No…kita juga tidak tau seberapa kekuatan mereka itu, dan bagaimana kita bisa melawan mereka kan No”
“Sudahlah Di, nanti kita bicara dengan Hera, dan gek Ayu, kalau perlu kita juga bicara dengan pak Wayan juga”
Apalagi nanti di hotel, kamar hotel pastinya tidak ada pagar ghaib seperti disini, sehingga kemungkinan dua orang dan sesuatu yang aneh itu masuk semakin terbuka lebar.
“Sudah jam empat pagi Di, aku masih belum bisa tidur…”
“Sama No… aku berpikir kalau kita kembali ke hotel, disana kan tidak ada pagar tak kasat mata seperti disini, atau kita mina bantuan pak Wayan?”
“Ya terpaksa Di, karena pak Wayan juga minta bantuan kita… pokoknya kita harus minta bantuan pak Wayan agar kita selamat”
*****
Pagi hari… jam 06.00 matahari sudah terang dan terlihat dari kaca pintu kamar yang menghadap ke halaman. Sebentar lagi suster pasti akan datang untuk memeriksa keadaan dan tensi Sumadi.
Nanti juga mbak Hera dan gek Ayu akan kesini, dan mungkin mereka akan membawa kabar tentang bu Tina juga…
__ADS_1
Benar perkiraanku, tidak lama kemudian dua suster masuk ke dalam kamar, mereka berdua mereka luka dan tekanan darah Sumadi….disusul dengan datangnya sarapan untuk pasien di kamar
Salah satu suster memberi info kalau nanti jam delapan kami bisa mengurus administrasi pengeluaran pasien dari rumah sakit
Waktu bergulir dengan cepat, tidak terasa sekarang jam 08.00. Pasti sebentar lagi dua perempuan pemberani dan baik itu akan datang
“Selamat pagi pak” sapa Hera sambil membuka pintu kamar
“Wah ada mbak Hera dan gek Ayu… “
“Ayo silahkan duduk….”
“Bagaimana, apa kalian sudah berhasil menemui bu Tina yang jualan nasi itu?”
“Sudah pak… kami bicara sesuai yang pak Paino katakan itu… “
“Bu Tina orang baik yang dalam masalah besar pak, saya lihatnya seperti itu” kata Gek Ayu
“Dia suka kalau nanti sore setelah pulang kerja kita ke warungnya untuk mencoba menu lainnya” tambah Hera
“Oh baik rencana kita mulai berjalan sesuai jalurnya… eh nanti siang kami keluar dari rumah sakit ini, tapi kami sepertinya tidak jadi ke rumah belakang setra atau ke SPBU yang ada disana, kita langsung saja ke sana mbak”
“Sore hari kalian sepulang kerja ke hotel saja, nanti kita sama-sama naik mobil saya ke warung bu TIna”
“Oh iya pak… tadi ketika gek Ayu memuji masakan bu Tina, dan kami sedikit banyak ngobrol… dia sempat keceplosan bilang kalau nanti jangan datang terlalu malam, karena dia harus urusi anaknya,” kata Hera
“Kata dia, anaknya sekarang semakin seiring sakit, tiap hari anaknya sakit dan tidak sadarkan diri. Kadang dia sampai tidak jualan pagi hari di sebelah hotel karena sakit anaknya yang katanya semakin menjadi jadi”
“Tapi tadi ketika Hera tanya anaknya sakit apa, dia malah seperti orang yang sedang bingung pak…”
“Oh iya ada satu lagi pak, ketika kami tadi balik kesini, Hera merasa ada orang yang memperhatikan kami berdua.. Dari ujung mata Hera, Hera rasa orang yang memperhatikan kami ini adalah dua anak remaja” kata Hera
“Waduh, itu dua anak yang selalu menyerang kami berdua mbak Hera”
__ADS_1
“Eh gini saja mbak Hera dan gek Ayu, nanti malam kita bareng-bareng ke warung bu Tina, saya tidak mau ambil resiko. Tapi nanti kalian berdua saja yang masuk dan beli makanan disana, saya dan Sumadi menunggu di mobil saja”