Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 57. HASIL VIDEO YANG SANGAT ANEH


__ADS_3

Suara kecipak kaki kami ini tidak terdengar cepat seperti orang yang sedang lari dari sesuatu, tetapi langkah kaki kami yang terkena air ini rasanya sangat lambat..


Gerakan kaki yang terdengar di air ini lambat, tetapi goyangan handycam yang pada saat ini merekam air dan batu ini berayun kesana kemari dengan kencang.


Sesuatu yang bertolak belakang, seharusnya goyangan handycam itu juga lebih tenang karena langkah kaki dan suara kecipak air ini lambat.


“Aneh pak” kata Hera singkat


“Iya ada yang aneh mbak, kenapa goyangan handycam yang menyorot ke air dan batu itu ayunannya kayak sedang digoyangkan dengan sengaja gitu”


“Saya bisa merasakan banyak sekali energi negatif disana pak, tetapi untuk saat ini energi negatif yang terpancar itu hanya ada di sekeliling bapak…belum ada yang menyentuh tubuh bapak” gumam gek Ayu


Beberapa belas detik masih mengetengahkan goyangan handycam yang mengarah ke bawah, sesekali handycam itu merekam tubuh Sumadi dan kaki Sumadi saja.


Tetapi tiba-tiba handycam itu dalam keadaan tenang dan tidak menyorot ke bawah atau ke kaki Sumadi, tenang disini  aku artikan Handycam itu tidak goyang sama sekali.


Tidak goyang, dan masih ada di leher Sumadi.


“Sekarang seperti ada yang memegang handycam itu pak, seolah dipegang oleh siapa gitu agar handycam itu tidak bergerak ke sana kemari dan tidak terbentur batu yang ada di dinding jurang pak” kata Hera


“Kayaknya handycam bapak ini dilindungi agar tidak terbentuk tebing dan batu pak”


“Tidak mbak Hera, bukan dipegang agar tidak membentur dinding jurang, tapi lebih tepatnya dipegang untuk diarahkan!”


Sekarang yang terekam oleh kamera handycam bukan lagi kaki Sumadi dan bagian bawah sungai, tetapi moncong handycam itu mengarah kedepan.


Mengarah ke depan seperti ketika Sumadi sedang merekam sesuatu.


Sialan… aku makin merinding. Siapa yang memegang handycam itu.


“Pak… sekarang mengarah ke pak Paino… Ya Tuhan…!” kata Hera  kaget


“Wajah pak Paino…. Pak Paino berjalan dengan mata tertutup, dan wajahnya seperti orang yang sedang tidur pak!”


“Pak Paino tidak berjalan dengan sendirinya, tetapi ada yang menggerakan bapak, sedangkan keadaan bapak saat ini sedang tidak sadar,” gumam Hera lagi


“Astaga….” pekik Geg Ayu…

__ADS_1


“Tadi apa itu yang seperti wajah dengan mata merah menyala…” tunjuk gek Ayu


“Itu tadi Leak gek…. Tidak satu, tapi ada beberapa Gek” jawab Hera


Aku tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat hasil rekaman video yang sedang kami lihat sekarang.


Aku berjalan dengan mata tertutup dan sempoyongan seperti orang mabuk, bukan berjalan tetapi seperti ada yang sedang menggerakan kakiku dengan hati-hati.


Sedangkan yang aku tidak habis pikir, siapa yang sedang memegang Handycam, karena handycam itu menyorot ke depan, kadang menyorot kepalaku dan wajahku…


Wajahku tanpa ekspresi dan dengan mata yang tertutup berjalan sangat pelan… ah iya dari tadi aku berusaha berpikir seperti apa cara berjalanku.


Seperti zombie!... ya benar cara berjalan aku seperti zombie.


“Lihat.. Itu mbak ada bayangan , banyak bayangan yang sedang berusaha menjamah saya mbak”


“Itu bukan bayangan pak tapi banyak mahluk ghaib jahat yang sedang berusaha memukul pak Paino… tapi Hera tidak bisa atau belum bisa menjelaskan jenisnya pak,”


“Gek…, sungai ini apa juga tempat melarung abu kremasi seperti yang ada di krematorium apa itu gek, Hera lupa namanya”


“Krematorium Santha Yana Cekomaria Ya Hera?”


“Iya kayaknya gitu juga Hera, karena kok banyak sekali saya lihat roh manusia yang ada di sungai itu, bukan hanya roh Hera, tetapi juga banyak energi negatif yang ada disana” jawab gek Ayu


“Tapi nggak mungkin juga Hera… kalau di sekitar sungai itu ada krematorium kan yang dilarung abunya, sedangkan rohnya sudah dipindah ke pelinggih..”


“Jadi saya rasa yang ada di sungai itu bukan dari tempat kremasi, tetapi dari orang-orang yang pernah mati disana”


“Coba nanti kita telusuri dari mana awal sungai ini dan bagaimana sejarah sungai ini gek” jawab Hera


Aku hanya bisa diam memperhatikan gek Ayu dah Hera sedang berdiskusi tentang apa yang terekam di layar handycam ini, tapi benar lho… banyak sekali bayangan putih yang berseliweran di sekitar tubuhku.


Bayangan putih yang melayang dengan cepat kadang menabrak tubuhku, kadang hanya ada di sekeliling tubuhku.


“Pak Paino… bapak ini kenapa kok seolah ada yang melindungi, roh jahat atau apapun itu namanya yang berusaha masuk ke dalam tubuh pak Paino selalu terusir, mereka tidak bisa menyentuh tubuh bapak” kata Hera


“Iya benar Hera,, kalau saya lihat di sekitar pak Paino ada wong samar yang melindungi”ujar gek Ayu

__ADS_1


“Hmmm kalau seperti ini, jelas tidak mungkin pak Sumadi bisa mempunyai luka yang mengerikan di bagian dalam tubuhnya pak….karena tidak ada yang bisa menembus tubuh pak Paino dan kemungkinan besar pak Sumadi juga”


“Kita lihat sampai selesai saja Gek…. Hera rasa pasti ada yang berhasil masuk ke tubuh pak Paino dan pak Sumadi, tapi sayangnya kita tidak bisa melihat tubuh pak Sumadi”


Gila… sangat tidak masuk akal yang dilakukan pak Wayan terhadap tubuhku dan tubuh Sumadi.


Tapi kalau memang tidak ada yang membantu kami dan tidak ada yang menyerang aku dan Sumadi, lalu kenapa Sumadi bisa sampai luka parah.


 Pasti jawabanya adalah Gusta dan Gustin yang waktu itu datang bersama satu sosok tinggi besar.


“Sampai sejauh ini tidak ada yang bisa menyerang pak Paino” kata Hera


“Iya Hera, benar… wah sangat mengerikan, semakin kesini semakin banyak yang berusaha menyerang pak Paino dan pak Sumadi”


“Yang tadinya hanya berupa roh saja, sekarang mulai berdatangan sosok yang menyerupai manusia dengan anggota tubuh yang tidak lengkap” kata Gek Ayu


“Mereka pada ingin menggigit dan berusaha masuk ke dalam tubuh pak Paino”


Terus terang aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di layar monitor kecil handycam ini, yang aku lihat hanya bayangan putih yang bergerak cepat di sekujur tubuhku.


Ternyata benar alasan tubuhku sakit, karena sepanjang jalan di dasar sungai ini kadang tubuhku terhantuk batu dan dinding tebing sungai.


Beberapa kali aku menabrak dinding jurang…


“Sejauh ini tidak ada yang masuk dan merusak pak, tubuh bapak luka memar karena menabrak dinding tebing jurang sungai saja” kata Hera


“Hera yakin begitu juga dengan pak Sumadi, dia pasti juga seperti pak Paino, tapi kenapa keadaan pak Sumadi lebih parah dari  pak Paino sekarang?”


“Saya percepat ya mbak, kan sama saja gambarnya nggak ada yang bisa menyerang kami kan mbak?”


“Boleh pak, tapi jangan banyak-banyak, Hera penasaran apakah hantu bersosok manusia yang mengerikan itu makin bertambah atau berkurang”


“Sebentar mbak Hera, bisa dijelaskan dengan detail nggak bagaimana rupa dari yang katanya sosok manusia yang anggota badannya tidak lengkap”


“Ngeri lho pak…”


“Nggak papa mbak Hera…”

__ADS_1


“Kayaknya mereka ini korban pembunuhan, dan kayaknya sudah lama mereka ada disini. Bisa jadi korban pembunuhan perang atau apalah, bisa jadi juga korban tabrakan….”


“Sosok mereka manusia pak, hanya saja ada yang kepalanya hilang, tanganya tidak ada, perutnya pecah,... pokoknya khas korban tabrakan atau pembunuhan pak” jawab Mbak Hera


__ADS_2