Rumah Belakang Setra

Rumah Belakang Setra
BAB 83 . CERITA PAK AGUS


__ADS_3

“Mari masuk pak, eh sebentar saya siapkan kursi dulu pak” kata Sumadi


“Jangan repot-repot, saya cuma sebentar saja kok” jawab pak Agus


“Lama juga tidak masalah kok pak” aku mencoba membuat suasana mencair


Pikirku kalau dia lama ada disini, dia akan selamat dari hal buruk dari anaknya, jugaan anaknya gak akan meninggalkan raga kasarnya.


“Tidak bisa pak Paino, saya kasihan dengan istri saya, nanti dia yang akan menanggung apa yang seharusnya terjadi pada saya” jawab pak Agus masih dengan suara lemah


“Oh begitu, jadi kalau pak Agus tidak ada di rumah, maka bu Tina yang akan bersama dua demit mengerikan dengan khemaluan panjang itu?”


“Iya seperti itulah pak, saya sangat sayang dengan istri saya, jadi biarkanlah saya yang menerima beban dari penjaga Gusta”


“Maaf pak Agus, saya akan jelaskan dulu apa yang sedang terjadi dengan diri kami berdua, sehingga kami wajib bicara dengan pak Agus sebagai orang tua dari Gusta dan Gustin.. Saya akan ceritakan apa yang terjadi dengan kami pak”


Aku ceritakan apa yang terjadi dengan aku dan Sumadi, aku cerita dari awal aku dan Sumadi datang ke sini, kadang Sumadi mengoreksi apabila apa yang aku ceritakan itu salah.


Pak Agus mendengarkan tanpa ada ekspresi sama sekali, seolah dia sudah tau apa yang menimpa kami dan sebab dari apa yang menimpa aku dan Sumadi.


Wajah pak Agus ini seperti seseorang yang sudah mati perasaan, sehingga dia tidak merasakan penderitaan kami, wajah dia biasa saja, seolah hal itu sudah seharusnya terjadi dengan kami!


“Bagaimana menurut pak Agus?”


“Yah pertama saya mau minta maaf, karena perbuatan kedua anak kembar saya yang mengakibatkan pak Paino dan pak Sumadi tersiksa seperti ini”


“Jadi begini pak Paino dan pak Sumadi, saya akan flashback ketika kami ada di sini hingga saya kehilangan pekerjaan dan kehilangan rumah juga” kata pak Agus


“Waktu itu anak-anak masih kecil saya lupa umur berapa mereka, istri saya yang lebih ingat semuanya, kalau saya sudah mulai sering lupa dengan masa lalu”

__ADS_1


“Saya akan ceritakan apa yang saya ingat hingga sekarang saja.”


“Waktu itu kami pindah dari ubud ke kota ini, dan mencoba peruntungan dengan berjualan macam-macam, tapi semua gagal. Saya harus jual mobil pemberian dari teman di desa , tapi saya lupa namanya, dia orang china”


“Ah saya lupa pokoknya saya kehilangan semuanya..”


“Anak kembar saya Gusta dan Gustin bukan anak sembarangan. Khususnya Gustin, karena dia adalah penerus ibunya sebagai tonggak dari kampung ghaib di desa asal kami”


“Sedangkan Gusta itu sebenarnya tidak ada, dia tiba-tiba saja lahir bersamaan dengan ketika Gustin lahir”


“Jadi saya anggap Gusta muncul secara ghaib, dan dia ternyata bertindak sebagai penjaga Gustin hingga Gustin dewasa”


“Saya tidak tau apakah Gusta akan masih hidup atau akan mati ketika Gustin menginjak umur 17 tahun”


“Saya dan istri saya sudah sangat sayang dengan Gusta, sehingga informasi dia akan mati atau hilang pada usia 17 tahun tentu saja akan membuat kami sangat sedih, tidak hanya saya dan istri saya, Gustin pun pasti akan merasakan hal yang sama”


“Akhirnya saya yang waktu itu masih punya simpanan uang hasil menjual mobil menanyakan kepada orang pintar di sekitar sini, dan katanya bisa, asal yang melakukan ritual itu adalah orang tua dari si anak”


“Tetapi saya lupa dengan satu lagi, ketika Gustin dan Gusta keluar dari rahim istri saya, ternyata ada satu lagi yang keluar, dia adalah mahluk ghaib penjaga atau pengawal Gusta”


“Jadi begini pak Paino dan pak Sumadi, Gusta adalah penjaga gustin di dunia atau alam nyata, tetapi untuk alam lainya yang menjaga adalah si penjaga Gusta yang saya sampai detik ini saya tidak tau siapa namanya”


“Ah saya ingat lagi… ketika mereka masih berumur tiga bulan kurang, kedua anak saya itu saya pisahkan, itu atas dasar suruhan leluhur di tempat asal kami”


“Karena kekuatan Gusta dan Gustin waktu itu tidak boleh digabungkan, kalau digabungkan mengakibatkan adanya bencana disana”


“Waktu itu Gusta dan Gustin kami pisah dengan jarak sekitar lima km an, Gusta saya titipkan ke rumah eh petugas keamanan disana yang bernama pak siapa ya…... Duh saya lupa namanya”


“Sedangkan Gustin tetap bersama kami… disini keanehan mulai terjadi”

__ADS_1


“Maaf, pada waktu itu saya belum tau tentang penjaga ghaib Gusta, anak saya masih berumur sekitar tiga bulan kalau tidak salah”


“Eh selama dipisah itu tiap malam di kamar Gustin selalu terdengar suara berisik seperti anak kecil yang sedang bermain. Tapi ketika saya buka pintu kamar Gusti, tidak ada siapapun, Gustin sedang tidur dengan nyenyaknya”


“Hingga pada suatu hari saya sengaja masuk ke dalam kamar anak saya dan tidur di sofa kamar Gustin, malam harinya saya mendengar suara anak-anak yang sedang bermain, saya yang waktu itu tidur secara spontan menegur suara berisik itu dengan mengatakan Gusta, Gustin, jangan berisik”


“Waktu itu saya baru tau bahwa ada sosok yang mengerikan di dalam kamar anak saya , dia menyiksa saya dengan memasukan benda tajam ke dalam mata saya, rasanya sakit perih sekali, kemudian dia berkata, jangan pisahkan kedua anak kembar ini”


“Mulai itu sosok penjaga Gusta itu sudah tidak suka dengan saya…”


“Tetapi ketika kami sudah ada di sini sosok itu tidak nampak lagi, bertahun tahun tidak nampak, hingga ketika saya akan melakukan sesuatu kepada Gusta agar Gusta tidak mati atau tidak musnah”


“Sosok itu muncul lagi, dia menyalahkan saya, katanya saya menyalahi aturan, menyalahi kodrat, dan dia bilang akan menguasai kedua anak  kami”


“Mulai itu kedua anak saya sering dalam keadaan tidak sadar diri, sering pingsan, atau tubuh tak kasat matanya keluar dari tubuh kasarnya, seperti yang terjadi belasan waktu silam waktu masih berumur tiga bulan itu”


“Saya tanyakan ke teman saya yang menguasai dunia pergaiban lagi, ternyata kedua tubuh halus anak saya sering bepergian bersama penjaga Gusta”


“Dan katanya lagi tubuh tak kasat mata mereka sekarang bekerja sama dengan paranormal sakti, tapi saya tidak tau dengan siapa mereka bekerja sama, dan apa tujuanya saya juga tidak tau… yang pasti sekarang rumah saya menjadi gudang demit dari berbagai tempat!”


“Sebentar pak Agus, ada yang kurang jelas di otak saya. Waktu itu pak Agus berupaya agar Gusta tidak mati dan terus ada bersama kalian kan pak, tapi kenapa malah penjaga Guta tidak suka?”


“Bukannya seharusnya penjaga Gusta itu senang kalau Gusta tetap hidup?”


“Iya pak Paino, penjaga Gusta mendapat perintah untuk menjaga Gusta hingga dia dewasa, setelah itu dia kembali entah kemana gitu. Dia itu sosok baik yang tugasnya menjaga anak saya hingga waktunya tiba”


“Tetapi karena saya berupaya agar anak saya tetap hidup, akhirnya penjaga itu marah, akibatnya keluarga saya yang hancur pak Paino”


“Waduh saya kok nggak paham ya pak Agus, kayaknya ada yang miss diantara sekitar penjaga itu dengan pak Agus”

__ADS_1


“Sik bentar pak Agus…tetapi apa yang pak Agus lakukan ini kan belum berlaku kan pak, kedua anak bapak kan belum dewasa, belum mencapai umur 17 tahun kan pak” ujar Sumadi tiba-tiba


__ADS_2