
“Saya yakin Agus tadi itu lihat kami berdua pak Wayan”
“Hmmm dia memang sengaja datang sendiri kesini karena tau bahwa kalian berdua juga ada disini, selain karena kedua anaknya tidak bisa menjalankan tugas yang diperintahkan Agus sendiri” jawab pak Wayan
“Tapi cerita kalian ini agak aneh, kenapa dia kasar sekali kepada kedua anaknya, jangan-jangan… ah saya tidak mau berburuk sangka…”
“Maksudnya gimana pak Wayan”
“Eh gini pak Paino, dia sudah bukan manusia lagi, itu yang mungkin menjadi perkiraan saya”
“Oh iya pak Wayan, bagaimana dengan omongan Komang, tentang harta dari leluhurnya?”
“Terus terang saya tidak tau mengenai itu, karena mereka yang ada di desa itu sebagian besar bukan keturunan eh berkasta maksud saya”
“Apa pemilik harta seperti itu hanya yang berkasta saja pak?” tanya Sumadi
“Sebenarnya juga tidak, banyak juga yang tidak berkasta mungkin waktu itu nenek moyangnya mendapat hadiah berupa tanah dari raja raja karena jasanya pada sebuah daerah… itu bisa saja terjadi”
“Hanya saja yang saya heran, kenapa si Komang itu bilang kalau disini ada harta dari leluhurnya, itu yang saya tidak tau”
“Kalau memang disini ada harta dari keluarga dia, akan saya berikan, kasihan mereka, itu hak mereka, seharusnya mereka mendapatkannya juga”
“Saya butuh orang yang bisa mencari info tentang harta si Komang” kata pak Wayan tiba-tiba
“Kami saja pak, kami akan menemui dia”
“No, ngawur ae gimana kamu mau ke sana, disana kan ada Gusta, Gustin, ada juga Agus, kamu mau masuk ke sarang buaya jeh”
“Ingat Di, Gusta dan Gustin itu butuh bantuan, dia itu terpaksa seperti itu karena si Agus, juga Komang dan pemuda yang ada disana semua itu tidak suka dengan Agus”
“Tapi gimana kamu dekati mereka No!”
“Aku akan cari kesempatan untuk bicara dengan Komang, kita tunggu di hutan hingga keadaan disana aman baru kemudian aku akan datangi terserah itu Komang atau bahkan Gusta dan Gustin”
“Jangan cari masalah disini pak Paino, bapak terlalu nekat dengan hal ini, saya kan bisa suruh Ketut saja ke sana” ujar pak Wayan
“Jangan melibatkan pak Ketut pak, ini urusan kita, biar kita saja yang menyelesaikannya, lagi pula saya kan selalu di dampingi celuluk heheheh”
__ADS_1
Pagi ini setelah semalam aku dan Sumadi melakukan pengintaian, kami bicara dengan pak Wayan, tadi aku sempat tekan pak Wayan tentang harta si Komang.
Ternyata pak Wayan malah berbuat baik, dia akan memberikan harta yang merupakan hak dari keluarga Komang.
Tadinya aku berharap dia akan terkejut atau sedikit berkilah, ternyata tidak, dia malah akan berbuat baik kepada Komang dan keluarganya.
“Pak, malam ini saya dan Sumadi akan melakukan pengintaian lagi, sekaligus akan bicara dengan mereka apabila keadaan memungkinkan”
“Jangan nekat pak Paino”
“Nggak papa pak, pokoknya ada yang jaga saya dan Sumadi aja saya udah seneng kok pak”
“Ingat siapa yang kamu lawan, Agus itu bukan manusia lagi, dia sudah berupa setan, dan saya rasa akan ada pertempuran apabila dia akan menyakiti kalian” kata pak Wayan yang wajahnya berubah serius
“Pak bukannya rangda dan celuluk itu hebat?”
“Bukan hebat, mereka berdua itu jahat, hanya saja karena kalian memakai cincin itu, maka kalian akan aman”
“Musuh Rangda itu apa pak?”
“Tapi kalau leak itu juga bahaya, karena leak itu sendiri sebenarnya adalah manusia yang melakukan ilmu ngeleak!, sedangkan rangda sendiri itu adalah ratunya leak!”
Malam hari setelah pak Wayan keluar dari Merajan,
“Kalian akan pergi sekarang?”
“Iya pak Wayan, saya mau pamit dulu”
“Tunggu saya dulu, saya mau ganti pakaian dulu, saya ikut bersama kalian berdua”
“Lho pak, jangan pak”
“Sudahlah tunggu saya dulu, kalian ke depan saja dulu bersama ketut”
Aku nggak nyangka pak Wayan akan ikut bersama kami, tapi ya enak juga ada yang bantu kami apabila terjadi sesuatu disana.
“Ayo kita berangkat” kata pak Wayan sambil berjalan di depan kami
__ADS_1
“Kita lewat tengah hutan saja, saya akan tunjukan satu rahasia yang belum kalian ketahui tentang hutan ini”
Kami menuju ke arah tengah hutan yang ada di belakang puri pak Wayan, jalan yang berbeda dengan ketika kami menuju ke desa dengan melipir di pinggir hutan.
Hutan ini ternyata lebat dengan pohon-pohon yang nampak kembar. Benar kata pak Wayan, kita bisa tersesat apabila tidak mengetahui jalan yang kita lalui.
setelah kira kira lima belas menit kami jalan, pak Wayan menghentikan langkahnya.
“Disini, di bawah tanah yang kalian injak adalah sebuah ruangan tempat leluhur saya semedi, disini banyak sekali tersimpan harta benda yang sangat berharga…. Harta itu datang dengan sendirinya”
“Bukan melalui penarikan atau apapun, tapi datang seolah ada yang memanggil atau mengundang harta itu untuk datang ke sini”
“Disini, ada sebuah rahasia yang kalian akan saya beritahu, karena saya sudah percaya dengan kalian”
“Ada semacam air suci, eh sumur suci, yang umurnya ribuan tahun… dan khasiat dari sumur suci itu apa yang kamu katakan akan segera terkabul tanpa pandang bulu!”
“Tetapi ruangan ini dijaga oleh keluarga siluman ular. Siluman ular yang menjaga rumah belakang setra itu adalah keturunan dari penjaga yang ada disini”
“Secara turun temurun keluarga siluman ular itu menjaga tempat ini hingga ribuan tahun, itu adalah tugas mulia dari sang maha pencipta”
“Dan hingga sekarang tidak ada yang bisa mendeteksi ruangan ini, karena ruangan ini disamarkan dari apapun!”
“Baik itu wong samar atau manusia dengan kelebihan ghaib belum bisa mendeteksi adanya sesuatu di bawah sini, kalian pun meski sudah tau di bawah ini ada sesuatu, tetapi kalian tidak akan tau dimana ruangan itu”
“Ruangan itu benar-benar samar dari apapun pokoknya”
“Saya yakin Agus sedang mencari sesuatu yang ada disini, hanya saja dia mendeteksinya ada di puri saya disana itu”
“Kalau kalian tanya apakah saya bisa masuk kesana. Saya jawab, saya tidak bisa masuk…kecuali….”
“Kecuali ada undangan dari leluhur untuk mengadakan upacara disana, maka secara ghaib saya akan ada disana dengan sendirinya”
“Dari sini kalau mau ke desa itu kita harus kembali ke arah puri, kita tidak bisa semudah itu jalan dari sini menuju ke desa, kalian akan tersesat dan hilang disini”
“Kok bisa gitu pak?”
“Iya karena pohon itu akan berubah ubah, dan kalian pasti akan bertemu dengan pohon yang sama, tidak ada patokan yang pas, dan begitu terus menerus hingga kalian mati kecapekan dan kelaparan”
__ADS_1