
“Baiklah akan saya ceritakan apa pekerjaan kami hingga kami bisa seperti ini….”
“Sebelumnya saya ucapkan syukur Alhamdulillah, sekarang penglihatan saya sudah pulih berkat mas Gusta dan Dek Gustin”
“Baiklah, saya dan Sumadi adalah penulis Novel horor”
“Tetapi tidak sembarang menulis dan dan mengarang cerita”
“Kami menulis berdasarkan pengalaman kami sendiri, berdasarkan apa yang kami rasakan, dan berdasarkan apa yang ada di daerah atau rumah atau apapun yang berbau horor”
“Nah saat ini kebetulan ada informasi dan tawaran untuk mengeksplorasi sebuah rumah yang ada di pinggiran kota ini”
“Rumah itu letaknya di belakang setra, eh tepatnya di bawah dan belakang setra. Dan orang yang mengajak kami untuk meneliti rumah itu setiap harinya minta laporan tentang keadaan rumah itu”
“Kami bisa nginap di hotel ini juga mereka yang mengakomodasi, jadi kami kesini bawa badan dan perlengkapan kami saja mas Gusta dan dek Gustin”
“Selama kami di jawa, setiap kami mengeksplorasi sebuah rumah atau tempat atau apapun yang angker, kami tidak pernah mengalami kejadian seperti yang ada di rumah itu”
“Baru kali ini kami mengalami kejadian yang mengerikan”
“Oh iya, dalam pekerjaan kami, kami tidak memerlukan apa saja yang gunanya untuk mendatangkan mereka yang kasat mata, kami tidak menggunakan kembang, dupa, kemenyan, tumbal atau apapun”
“Bahkan kami berdua ini kosongan, kami tidak mempunyai ilmu atau kelebihan apapun yang berhubungan dengan dunia ghaib”
Kemudian aku ceritakan kepada mereka berdua hari pertama kami di rumah itu hingga kejadian yang mengerikan ini, termasuk hasil foto, video, rekaman suara kami tunjukan kepada Gusta dan Gustin.
Kedua anak kembar itu serius memperhatikan apa yang sudah kami tangkap dengan kamera video dan alat perekam.
“Jadi bapak-bapak ini sudah dua malam ada di rumah itu?”
“Benar mas Gusta, eh bukan dua malam, kalau dua malam kan artinya kami menginap disana, tetapi kami ada disana hanya beberapa jam saja sebelum kami putuskan untuk pergi dari sana karena serangan yang mengerikan”
“Kami masih akan ada disana, karena ini adalah kerjaan kami. Dan disana juga masih banyak hal yang belum kami lihat dan datangi”
“Waduh pak, untuk malam ketiga lebih baik pending dulu saja, hingga kalian sehat pak, memang tubuh kasat mata kalian sehat, tetapi tubuh tak kasat mata kalian sudah remuk” kata Gusta
“Mas Gusta, memangnya sakitnya tubuh tak kasat mata kami ini bisa sembuh?” tanya Sumadi
“Kalau untuk pak Paino mungkin bisa sembuh, tapi untuk bapak ini yang saya kurang tau pak, karena tubuh tak kasat matanya bapak ini sebenarnya sudah mati”
Aku tadi sempat minta nomor telepon kedua anak kembar itu.
Aku merasa suatu saat kami memerlukan bantuan mereka, karena mereka berhasil menyembuhkan aku.
__ADS_1
*****
Pagi hingga setengah siang ini kedua anak kembar itu ada disini, tetapi setelah aku sudah bisa melihat dengan baik, kedua anak kembar ini pamit untuk kembali ke tempat ibunya.
Tadi aku juga berpesan kepada mereka berdua agar siang nanti mengirimkan kami makan siang, terserah makan siang apa, pokoknya yang bikin kami wareg.
Sekarang tinggal aku dan Sumadi saja yang kebingungan, apa yang harus kami lakukan dengan keadaan kami yang seperti ini. Apalagi Sumadi yang sudah divonis mati oleh dua anak kembar itu.
Atau jangan-jangan apa yang aku mimpikan tentang Sumadi yang mati itu sebenarnya adalah tubuh Sumadi tak kasat mata yang mati ini?
Hiiiii jadi merinding sendiri…..
“Gimana menurutmu DI?”
“Yah aku sih nggak tau lagi No, tapi selama aku masih bisa bernafas dan masih bisa makan enak, aku rasa aku baik-baik saja”
“Oh iya Di, aku kepingin tahu bagaimana kamu kok bisa sehat ketika kita ada di rumah itu, bagaimana kamu bisa menolong aku setelah aku beberapa kali memanggilmu dan waktu itu kamu sama sekali tidak bereaksi”
“Waktu itu aku juga nggak begitu tau apa yang sedang terjadi, karena kejadiannya begitu cepat No”
“Memang waktu itu ada yang melilitku dengan sangat kencang, dan kemudian aku tidak sadar setelah aku merasa ada yang mencekik leherku, aku tidak bisa bernafas sama sekali”
“Tapi ada yang aneh juga No, antara aku sadar dan tidak sadar, atau mungkin aku sedang bermimpi. Waktu itu tiba-tiba aku ada di sebuah rumah, eh bukan rumah, tapi kayak lingkungan, karena ada beberapa bangunan kecil di sekelilingku”
“Kemudian beberapa meter dari sebelah kiri bangunan itu ada tempat persembahyangan yang luas, bau dupa sangat pekat, tetapi aku merasa tidak terganggu sama sekali”
“Aku menikmati bau dupa itu, aku menikmati duduk di pendapa itu, aku merasa damai sekali meskipun aku nggak tau ada dimana dan sedang apa disana”
“Sepertinya aku ada di sebuah rumah adat di daerah sini”
“Karena bentuk dan dekorasi tempat dan rumah yang tidak pernah aku lihat di tempat tinggal kita….”
“Eh tapi bukan satu buah bangunan, tapi aku ada di lingkungan kayak kampung, eh bukan kampung sih, karena yang aku lihat hanya ada lima bangunan disitu, dan tempat itu tidak begitu luas juga, sehingga tidak bisa dikatakan sebuah kampung”
“Di tengah dan pinggir ada pohon yang lumayan rindang”
“Seperti yang aku katakan, di sekitar pendapa itu ada beberapa bangunan lagi dan dan bentuknya kecil dan hanya berjarak beberapa meter saja”
“Di depan kiriku ada semacam pendapa juga, tetapi disana kayaknya ada berbagai macam apa ya… eh pokoknya kayak ada aneka macam lemari dengan hiasan-hiasan”
“Disana juga ada juga semacam dipan, pokoknya rame dan beda dengan pendapa tempat aku sedang duduk, seperti semacam pendapa untuk tempat melakukan kegiatan gitulah pokoknya No”
“Kemudian di depan kananku ada seperti ruangan dapur…. Aku tau itu dapur karena ada asap kayu bakar yang keluar dari sela-sela atapnya”
__ADS_1
“Jarak antara pendapa aku duduk dengan bangunan dapur dan pendapa di depanku itu mungkin ada sekitar tujuh meter an”
“Selain dapur ada bangunan lagi yang lainya, pokoknya bangunan itu terpisah pisah”
“Di sebelah kananku, sekitar lima meteran ada bangunan yang lebih besar daripada bangunan yang lainya, dan mungkin itu adalah bangunan utama dari rumah itu”
“Dari bangunan yang mungkin sebagai ruangan utama itu muncul kakek-kakek dengan udeng dan pakaian adat keseharian disana, memakai semacam sarung yang cara melipatnya berbeda dengan kita yang ada di jawa”
“Apa dia itu yang ada di video kita, orang tua yang memakai udeng itu Di?”
“Yah tepat sekali, aku masih ingat wajah kakek-kakek itu, dia yang memang ada di video kita No”
“Awalnya aku takut sekali No, karena aku merasa aku ada di tempat yang asing”
“Setelah kakek-kakek itu duduk di sebelahku, kemudian dia tanya tujuan kita ada disana”
“Dia sama sekali tidak marah……”
“Aku jelaskan dengan sangat sopan apa yang menjadi tujuan kita disitu No”
“Dia tidak merespon apa yang aku katakan No, dia hanya manggut-manggut saja”
“Eh Di, dia bicara menggunakan bahasa daerah sini atau gimana?”
“Iya, ini yang aku tadi lupa jelaskan ke kamu….”
“Entah bagaimana tiba-tiba aku mahir dan paham menggunakan bahasa daerah sini, jadi aku bercakap-cakap dengan kakek itu menggunakan bahasa daerah sini”
“Kembali lagi setelah aku jelaskan maksud dan tujuan kita ada disini, dan dia hanya manggut-manggut saja No”
“Tapi setelah itu dia bilang, ‘sana kamu balik dan tolong temanmu’… sudah dia hanya bilang itu saja, gak ada kata-kata lain No”
“Setelah itu aku tersadar…”
“Kubuka mataku, dan aku ada di rumah yang keadaanya gelap, dan aku bisa bernafas lega lagi, dan setelah itu aku tolong kamu itu No”
“Hmm sangat aneh ya apa yang kamu alami Di…..”
“Oh iya, waktu itu…”
“Eh waktu aku bilang aku dalam keadaan dingin dan kesakitan, dan seperti dililit ular, kamu sempat bilang, tenang saja sebentar lagi kamu akan aman. Maksudnya apa Di, apakah kamu lihat apa yang sedang melilit aku?”
“Oh untuk soal itu bisa dibuktikan di handycam kita, semoga semua yang ada disana bisa terekam di handycam kita No”
__ADS_1