RUSUK SANG BILLIONAIRE

RUSUK SANG BILLIONAIRE
PART 102


__ADS_3

Pagi hari yang ceria gagal dinikmati oleh keluarga Arya, pasalnya gadis bungsu keluarga itu sudah heboh memanggil pegawai salon perawatan ke rumah. Anggita sangat antusias ingin menghadiri pesta perusahaan PT. Dwi_Zan, lar3na mereka diundang, maka para orang tua sepakat mewakilkan pada yang muda-muda agar mereka mulai mengenal dunia bisnis dan karakter para pebisnis kecuali Gavin masih harus di dampingi oleh papanya.


"Kak, ayo kita luluran dan facial supaya nanti malam kita terlihat glowing. " seru Anggita menarik tangan Amara.


"Kamu aja dek, kakak gak suka luluran, mending aku berlatih sudah lama gak latihan." balas Amara berdiri kemudian berjalan masuk kedalam sebuah ruangan yang cukup luas dimana seorang pria telah menunggunya untuk berlatih.


"Kaaak, Anggi ijin ya, gak ikut latihan. " Anggita meneriaki Amara yang semakin menjauh


"Bang, aku kok rada-rada ngeri ngeliat Amara yang selalu berlatih bela diri. " ucap Kalista saat ponakannya itu telah menghilang dari pandangannya.


"Jangan khawatir dek, kami pun dulu seperti Amara agar ke depannya bisa menjaga diri. " balas Keanu santai.


"Abang terlalu santai, gimana kalau laki-laki takut mendekatinya dan ponakan cantikku itu malah jadi perawan tua. " ucap Kalista bergidik ngeri.


"Akan ada saatnya Amara menemukan pria yang cocok dan sepadan dengannya dalam segala hal." timpal Kiano mendukung ponakannya.


"Ck, kakak juga ikut-ikutan mendukung hobby Amara. Apa kakak tahu kalau Anggi juga ikut-ikutan berlatih bela diri ??"


"Tahu, dan kakak mendukung, jaman sekarang banyak bahaya yang mengincar mereka apalagi di kemudian hari dimana lawan bisnis kami telah mengetahui siapa Amara dan Anggita. Kami tidak mungkin selalu bersamanya. " balas Kiano panjang lebar.


Kalista memilih diam walaupun tidak mengerti tak setuju dengan jalan pikiran kedua kakak laki-lakinya namun ia tak akan bisa menang melawan mereka berdebat.

__ADS_1


Waktu terus berlalu hingga matahari senja perlahan kembali ke peraduannya dan berganti dengan malam yang mulai menampakkan diri. Bulan dan bintang bersanding menghiasi pekatnya malam sehingga sang malam terlihat indah.


Amara dan Anggita telah selesai berdandan dengan gaun model sederhana namun tetap terlihat elegan dikenakan oleh keduanya. Dika dan Anggara yang sedang main game bersiul melihat kedua saudaranya.


"Suit ,,, suit ,,," Anggara melirik Amara dan Anggita yang terlihat berbeda.


"Hati-hati disana kak, dek, jangan sembarang minum dari orang tak dikenal dengan pelayan sekalipun. Lebih baik jika kalian memeriksa dulu sebelum meminum sesuatu dan ingat kalian harus saling menjaga. " Dika menasehati kakak dan adik kesayangannya karena ia dan Anggara tidak ikut.


"Baik opa ,,," kompak Amara dan Anggita terkikik geli mendengar nasehat mereka.


Kedua gadis cuma itu kemudian berpamitan pada opa, oma dan kedua orang tua mereka serta Kalista dan Kiandra. Sedangkan Seno dan Gavin telah berangkat lebih dulu. Kalista tidak ikut karena kurang enak badan.


"Kalian pakai mobil opa saja" ucap Arya saat keduanya tiba di depan pintu utama.


"Astaga kalian jangan sampai dijadikan bahan olok-olokan disana, ingat yang datang adalah para direktur dan wakil direktur perusahaan besar. Jangan sampai pak Ferdy merasa direndahkan oleh kami. " ucap Arya mengusap wajahnya kasar. Ia sangat tahu bagaimana sikap sebagian besar pengusaha sukses itu apalagi istri dan anak mereka. Arya tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan cucu-cucu kesayangannya.


"Jangan khawatir opa, justru aku ingin mengenal para pesohor negeri ini dengan baik sehingga ke depannya bisa mempertimbangkan mereka saat akan bekerjasama dengan perusahaan kita." balas Amara tersenyum sebelum menghilang dibalik pintu bersama Anggita.


"Sudahlah, dad ,,, jangan dipikirkan. Ara dan Anggi bisa mengatasi semuanya dengan baik apalagi disana ada Seno dan Gavin." ucap Keanu menenangkan daddynya yang nampak gusar.


"Bener dad, percayakan semuanya pada yang muda-muda. Kita memiliki peran sebagai pemantau saja." timpal Kiano ikut menenangkan daddy Arya.

__ADS_1


"Opa gak usah khawatir, setelah kak Ara dan Anggi tiba di lokasi pesta, kita bisa melihat kejadian disana layaknya siaran langsung. Kemana pun kak Ara atau Anggi melangkahkan kita dapat saksikan bersama. " ucap Dika menghentikan permainannya.


Anggara segera mengaktifkan salah satu ponselnya dan melihat pergerakan mobil yang di tumpangi kedua saudaranya. Saat tiba diparkiran, Anggara segera mengklik sebuah tombol pada laptopnya begitu pula dengan Dika sehingga situasi diparkiran terlihat.


"Dilaptopku adalah kamera yang dipakai Anggi. " ucap Anggara tersenyum


"Dan laptopku punya kak Ara. " timpal Dika.


"Astaga !! kalian berdua !!" teriak Kiandra tak percaya dengan ide gila kedua ponakannya.


"Kami pun sama seperti kalian, mengkhawatirkan kedua gadis cantik itu." ucap Dika


"Kalau Amara dan Anggita mengetahuinya maka habiskan kalian dibantai. " ucap Chelsea menggelengkan kepalanya melihat keusilan kedua pria muda di depannya.


"Maka mama dan yang lainnya harus menjaga rahasia kami lagipula ini yang pertama kalinya. " timpal Anggara diam-diam bergidik ngeri mengingat kedua gadis itu pemegang sabuk hitam taekwondo dan karate.


Karena sangat menyukai bela diri maka Amara dan Anggita sama-sama menekuni berbagai cabang bela diri. Mereka bahkan meminta dibuatkan sebuah dolo yang akan dilengkapi dengan berbagai peralatan bela diri pada sang opa sebagai salah satu syarat agar mereka mau tinggal di rumah yang disiapkan oleh sang opa yang mengelilingi rumah utama.


🎶🎶🎶🎶


Selamat pagi readers

__ADS_1


Ayo dong dukungannya, bentar lagi ceritanya tamat nih


__ADS_2