
Keesokan harinya sesuai janji Kiano pada papa mertuanya, ia bersama dengan istri tercintanya berangkat ke perusahaan Mega Raksa untuk sementara Kiano akan mengambil alih tanggung jawab sang istri yang sedang hamil.
Setelah tiba diperusahaan, Chelsea segera mengumpulkan semua petinggi perusahaan dan mengumumkan posisi Kiano saat ini kemudian mereka kembali bekerja seperti biasa.
"Maaf bapak-bapak mengganggu waktu kalian sejenak. Saya hanya ingin memberitahukan pada kalian jika mulai saat ini suami saya yang akan memimpin perusahaan ini karena saya tidak bisa maksimal mengingat kondisi saya yang tidak bisa maksimal." ucap Chelsea menatap satu per satu petinggi perusahaannya.
"Terima kasih bu Chelsea sudah menganggap kami sehingga harus repot-repot mengumpulkan kami. " balas pak Himawan salah satu manajer yang mewakili rekan-rekannya.
"Untuk kedepannya mohon kerjasamanya ya, pak." ucap Kiano datar dan terkesan dingin membuat nyali para manajer tersebut menciut.
"Tentu saja pak ,,," balas pak Himawan dan disetujui oleh yang lainnya, kemudian satu per satu para manajer itu pamit undur diri.
Chelsea lalu duduk dengan santai di sofa yang letaknya agak sedikit jauh dari meja direktur.
"Mas, boleh gak aku ke mall sementara mas kerja, bosan duduk terus. " ucap Chelsea setelah beberapa saat sibuk dengan ponselnya.
"Tetaplah disini, honey. Sekretarismu seorang wanita dan itu sangat tidak nyaman bagiku. " balas Kiano terus memeriksa berkas yang menumpuk di mejanya.
"Baiklah mas ,,," ucap Chelsea pasrah. Meskipun sangat ingin ke mall namun ia tak boleh egois dan sadar akan penyakit suaminya yang tak bisa berdekatan dengan perempuan kecuali keluarganya.
__ADS_1
Sementara itu drama wanita hamil yang membuat Queen dan Shanaz kewalahan dimana Kalista bersikeras ingin memanjat pohon mangga milik tetangga.
"Sayang, minta yang lain aja masa ngidamnya manja pohon mangga. " Queen berusaha membujuk Kalista.
"Astaga Ista ,,, orok dalam perutmu gak keren banget." ucap Shanaz terkikik geli sengaja memancing emosi Kalista.
"Iya juga sih, tapi aku pengen rasain manjat pohon ,,," rengek Kalista mulai menangis
"Ck, memalukan ,,, gimana coba kalau ada lawan bisnis daddy atau mas Seno melihatmu dan memasukkannya di medsos kemudian menjadi tranding topik." ucap Shanaz asal tak kehabisan akal. Ia menyadari jika otak wanita hamil itu agak lambat mencerna kata-kata orang lain.
"Ya sudah, gak jadi deh. Mending aku nonton drakor agar nantinya anakku mirip oppa-oppa korea. " ucap Kalista kembali masuk kedalam rumah.
"Makasih sayang, akhirnya anak nakal itu menurutimu. " ucap Queen pada menantunya.
"Jangan seperti itu mom ,,," balas Shanaz tak enak hati.
Shanaz dan Queen kemudian mengikuti Kalista masuk kedalam rumah dan mendapati Kalista bersitegang dengan Amara dan Dika anak Kiandra. Mereka memang jarang sekali akur berbeda jika dengan Kiano.
"Tante Ista jangan sanaan duduknya, kami juga lagi nonton. " ucap Dika mengusir Kalista.
__ADS_1
"Tapi tante Ista maunya disini ,,," balas Kalista ngotot.
"Tapi kami duluan, tante ,,,,please jangan ganggu kami. " timpal Amara tak mau kalah.
"Kalian ngalah dong sama dedek bayinya, kalian aja yang pindah. " balas Kalista tak ingin mengalah.
"Bukan karena dedek bayinya tapi tante Ista yang egois. " ucap Amara tajam kemudian mengambil laptopnya dan membawanya menjauh dari Kalista.
Queen dan Shanaz saling melempar pandangan melihat kejadian tersebut. Sebuah rasa khawatir menyergap dalam diri Queen akan kelanjutan hubungan antara cucu dan putri bungsunya itu. Amara dan Dika memiliki sifat yang sama walaupun mereka hanya saudara sepupu, kecerdasan mereka pun sama.
Queen tak ingin jika kedua cucunya itu melakukan sesuatu yang bisa merugikan Kalista. Mereka masih sangat kecil dan bisa saja bertindak semaunya sebagai bentuk protes pada tantenya itu.
"Oh ,,, tidak ,,, tidak ,,, jangan sampai terjadi. " gumam Queen menepis pikirannya.
"Mommy kenapa ??!!" tanya Shanaz bingung mendengar mertuanya bergumam.
🎶🎶🎶🎶
Selamat pagi readers ,,,
__ADS_1
Mana nih dukungannya