
Mereka kembali di pertemukan ketiga kalinya pada situasi yang berbeda, walaupun tetap terlihat sederhana namun inget beauty seorang Amara terpancar jelas sehingga wajahnya semakin berkilau dimata Fausan.
Beruntung Fauzan membawa asistennya sehingga bisa mewakili dirinya menjelaskan kerjasama yang akan mereka lakukan setelah kerjasama sebelumnya usai. Sepanjang meeing berlangsung wajah tampan Fauzan selalu berhiaskan senyuman manis membuat siapa saja yang melihatnya terpana kecuali Amara.
Fauzan hanya duduk diam menatap lekat wajah Amara seolah ingin menyimpan setiap detil wajah Amara dalam benaknya agar tak lagi mengganggunya seperti selama ini yang terjadi padanya. Sepertinya Fauzan akan sering-sering menelpon om Satria untuk mengetahui jadwal gadis impiannya.
"Semoga kerjasama kita tak ada masalah ke depannya layaknya orang tua kita. " ucap Amara berbasa basi menyambut uluran tangan Fauzan.
Baik Riko maupun Delia ternganga tak percaya melihat Fauzan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman seorang wanita yang bukan keluarganya. Selama mereka mengikuti Fauzan beberapa bulan terakhir ini, jangankan bersalaman menatap wanita saja saat berbicara ia enggan tapi kini kedua hal itu di lakukan oleh bosnya dalam waktu bersamaan.
"Insya Allah semoga saja bahkan kedepannya perusahaan kita bisa bersanding bersama bukan dalam bentuk kerjasama bisnis. " balas Fauzan menggenggam lembut tangan Amara.
"Tentu. " balas Amara asal namun diartikan berbeda oleh Fauzan karena saat mengucapkannya Fauzan memang memiliki maksud lain.
"Pak, kita harus segera kembali ke perusahaan, jadwal anda masih banyak. " sela Delia menahan kesal melihat interaksi keduanya dan hal itu dilihat dengan jelas oleh Amara.
"Padahal saya ingin mengajak pak Fauzan makan siang tapi mungkin bisa lain kali. " ucap Amara tersenyum semanis mungkin padahal maksudnya hanya ingin membuat sekretaris Fauzan semakin kesal. Amara sangat membenci orang yang kesal padanya tanpa sebab.
__ADS_1
"Kenapa harus lain kali jika aku sudah disini. " balas Fauzan masih dengan senyumnya.
"Kalian berdua pulanglah, aku akan menyusul. " lanjut Fauzan tak ingin dibantah.
Amara terkejut mendengar persetujuan Fauzan padahal ia hanya ingin membuat sekretaris Fauzan semakin kesal. Ingatkan Amara untuk berhenti ngomong yang asal-asalan. Dengan tersenyum kikuk terpaksa Amara melanjutkan dramanya, dalam mimpi pun Amara tak pernah akan mengajak duluan seorang pria untuk makan bersama. Melihat gelagat bos barunya, Satria hanya busa menahan tawa, ia sangat mengenal sosok gadis muda ini, sejak kecil bos barunya itu suka melakukan hal-hal yang membuat orang kesal namun kali ini gadis muda itu kena batunya.
" Baik bos. " balas Riko pasrah, ia sudah bisa membayangkan kesibukannya hari ini akan berlipat ganda,
Riko berjalan terlebih dahulu disusul oleh Delia yang pergi tanpa berpamitan. Amara tersenyum sinis saat Delia menatapnya.
Satria dan Fara yang melihat keanehan sekretaris Fauzan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian keluar ruangan terlebih dahulu meninggalkan kedua sekali itu.
"Mimpinya terlalu tinggi. " balas Satria terkekeh yang ternyata mendengar gumaman Fara.
Tak berselang lama, Amara pun keluar diikuti oleh Fauzan yang sedikit melebarkan langkahnya agar mereka sejajar.
"Gak apa-apa kan jika kita berjalan berdampingan ?" tanya Fauzan menatap Amara dari samping.
__ADS_1
"Ya gak apa-apalah, wanita dan pria dijaman sekarang sudah setara pak. " balas Amara terus berjalan menuju ruangannya.
"Kita ke ruangan saya dulu ya, pak. Makan siang masih lama. " lanjut Amara dan hanya diangguki oleh Fauzan.
Saat tiba di depan ruangan yang berpintu kayu yang tampak kokoh dengan gaya klassik , Amara mendorong pintu tersebut dan mempersilahkan Fauzan untuk masuk
"Silahkan duduk, pak. Tapi jangan pernah menganggap ruangan sendiri. " ucap Amara saat mereka masuk ke ruangan direktur utama yang dulu di tempati oleh sang opa.
"Terima kasih. " balas Fauzan mengambil posisi yang menghadap ke meja kerja Amara. Ia tak akan melewatkan kesempatan ini untuk menatap Amara sepuasnya.
Kemudian Amara mulai tenggelam dengan pekerjaannya walaupun risih dengan tatapan pria di seberang sana namun Amara tak memperdulikannya, ia kembali pada sifat aslinya yang cuek dengan sekitarnya jika sedang bekerja dan tidak membahayakan keselamatannya. Fokusnya selalu mendapat acungan jempol dari sang papi.
Lain Amara lain pula Fauzan yang diam-diam merekam kegiatan Amara yang serius dengan tumpukan kertas di mejanya dengan ponselnya dan obyeknya sama sekali tak menyadari apa yang dilakukan oleh tamunya.
🎶🎶🎶
Selamat pagi readers
__ADS_1
Semoga puasanya lancar sampai hari ini bagi yang berpuasa
Jangan lupa VOTE, LIKE, dan KOMEN, ya