
Sementara di lantai satu perusahaan PT. Dwi_Zan nampak seluruh karyawan berkerumun menonton siaran langsung pemecatan Delia yang dilakukan oleh Ferdy dan disaksikan oleh CEO perusahaan membuat para karyawan ribut sehingga lantai satu saat ini lebih mirip pasar tradisional yang ramai dengan tawar menawar, semua berbicara dan menyalahkan Delia. Ternyata Ferdy menyambung laptop Fauzan dengan televisi besar di lantai tersebut.
Sambil menundukkan kepalanya, Delia memasuki lift khusus karyawan di kawal oleh Riko dan seorang security. Saat tiba di lantai satu para karyawan meneriaki Delia yang tak tahu diri berlaku licik pada atasannya. Delia benar-benar kehilangan muka saat ini. Ia mempercepat langkahnya keluar perusahaan tak tahan mendengar hinaan teman-temannya.
Sesuai dengan janjinya, Ferdy kemudian tenggelam dengan pekerjaan yang ditinggalkan Delia namun hal itu hanya berlaku sebentar saja karena Fauzan duduk di depan meja Ferdy dan merecokinya dengan berbagai pertanyaan.
"Fer, tolong kakak lagi, dong. " pinta Fauzan dengan wajah memelas.
"Kak, aku lagi kerja. Nanti aja ngomongnya. " balas Ferdy tetap fokus pada pekerjaannya.
"Biarkan Riko yang menyelesaikannya, kita harus bicara. " Fauzan setengah memaksa Ferdy agar mengikuti kemauannya.
"Ck, kakak ternyata suka semena-mena sama bawahan, ya. Aku jadi curiga jika sebenarnya kakak sengaja mempertahankan Delia saat itu." tudung Ferdy tak berperasaan.
" Jangan suka ngomong sembarangan, Fer ,,, kakak lagi galau nih. " balas Fauzan mengusap kasar wajahnya.
"Idiiih, pak Ustadz lagi galau ,,," Ferdy justru menertawai Fauzan yang mengakui kegalauannya.
"Lacak Amara dong, kakak akan meminta maaf dan menjemputnya." ucap Fauzan serius tak memperdulikan ledekan adiknya. Sungguh saat ini hanya Ferdy harapannya untuk menemukan Amara.
"Gini ya, kak ,,, asal kakak tahu, Amara itu bukan Delia yang bisa di lacak seenak jidat. Aku masih jauh dibawah dia, lebih baik kakak menyuruh aku kerja rodi daripada melacak Amara. " balas Ferdy apa adanya.
"Menyesal sekarang gak ada gunanya, kak ,,,T E R L A M B A T. " lanjut Ferdy memberi penekanan pada kata TERLAMBAT.
"Jadi kakak harus gimana ?!!'
__ADS_1
"Duduk dipojokan sambil nangis meratapi nasib." balas Ferdy kesal sekaligus kasihan melihat kakak satu-satunya yang ia miliki.
"Setidaknya usaha dululah, jangan langsung menyerah." Fauzan berusaha membujuk Ferdy.
"Bukannya aku gak mau membantu kakak tapi aku gak mau ambil resiko sehingga merusak hubunganku dengannya. Lebih baik kakak ke rumahnya dan bertanya langsung pada mereka. " ucap Ferdy memberi saran yang patut dipertimbangkan.
"Baiklah, pulang kantor aku akan kesana." balas Fauzan kembali masuk ke dalam ruangannya.
Sementara nun jauh di sana beribu-ribu mil jaraknya dari tanah air, seorang gadis cantik turun dari pesawat menghampiri seseorang yang melambaikan tangan padanya dengan wajah berseri-seri.
"Kak Ara ,,, kami merindukanmu. " ucap Anggita memeluk erat kakak sepupunya.
"Selamat datang, kak ,,," Anggara pun ikut memeluk hangat kakak yang ia rindukan.
"Dika sudah kembali ke tanah air makanya kakak bisa sedikit bersantai. Kakak masih muda dan memiliki banyak uang, sayang kan kalau gak dinikmati. " balas Amara dengan nada sombong.
"Kita pulang, yuk ,,, ceritanya dilanjutkan cerita di apartemen saja. " potong Anggara sambil menarik koper Amara menuju mobilnya.
Anggara menginjak gas dan perlahan melajukan mobilnya keluar dari area bandara menuju apartemen mereka. Anggara dan Anggita tidak tinggal terpisah, keduanya tak bisa hidup berjauhan makanya Kiano dan Chelsea merasa tenang melepaskan mereka melanjutkan pendidikan karena Anggara dan Anggita akan saling menjaga.
Mobil yang mereka tumpangi kini berhenti di basement yang merupakan tempat parkir apartemennya. Setelah mengeluarkan koper Amara dari bagasi, mereka bertiga menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 5 dimana flat mereka berada.
"Waow ,,, pantas saja kalian betah gak pulang-pulang ternyata apartemen kalian sangat mewah. " seru Amara menatap kagum apartemen yang cukup luas dan mewah.
"Kami sekolah kak, dan bulan depan kami akan pulang. " balas Anggita tak terima dengan ucapan Amara.
__ADS_1
"Kalau begitu kakak yang akan menggantikan kalian menempati apartemen ini. " ucap Amara antusias.
"Kakak berencana tinggal lama ?" tanya Anggita heran.
"Yupz ,,, kakak memiliki banyak rencana disini, semoga saja oma gak menyuruh kakak pulang dan Dika bisa mengendalikan perusahaan. " jawab Amara santai.
"Kamar kakak yang ini. Sementara kakak istirahat aku akan menyiapkan makanan. " ucap Anggita setelah menunjukkan kamar yang akan ditempati Amara.
"Kalau oma menelpon, kalian berdua jangan bilang kalau aku bersama kalian. " ucap Amara sebelum masuk ke kamarnya.
"Sesuai keinginan kakak." kompak Anggita dan Anggara.
Walaupun kedua saudara kembar itu merasa penasaran namun mereka memutuskan untuk bertanya setelah kakaknya beristirahat, mungkin sesuatu telah terjadi di tanah air sehingga kakak mereka memilih menenangkan diri jauh dari mereka. Twins A sangat memahami kakak mereka.
πΆπΆπΆπΆ
selamat pagi readers ,,,
happy literasi, ya ,,,
Dua hari lagi idul fitri, othor ucapkan Minal Aidin Walfaidzin ππ
Terima kasih atas segala dukungannya
Salam hangat dari dunia halu
__ADS_1