
Mendengar bisikan ustadzah Lyli membuat Amara diam terpaku, napasnya seolah berhenti seluruh tubuhnya terasa lemas kakinya tak lagi mampu menahan bobot tubuhnya, beruntung ia sedang duduk sehingga tak jatuh. Amara tak sadar menyandarkan tubuh lemasnya sambil memejamkan matanya. Bagaimana bisa ia tak menyadari jika kakak tampannya ternyata sering bertemu dengannya. Tapi apakah pria itu mengingat dirinya ? Hingga Fauzan selesai dengan tugasnya, Amara masih sibuk dengan lamunannya.
"Nak Ara baik-baik aja, kan ?" tanya ustadzah Lyli menyentuh pelan lengan Amara
"Eh ,,, iya bu ustadzah, aku baik-baik aja. " jawab Amara tergagap
Ustadzah Lyli tak lagi melanjutkan pertanyaannya walaupun masih penasaran melihat wajah pucat Amara. Semua perhatian terpusat pada satu titik yaitu pria muda yang mampu menghipnotis para tamu undangan dengan suara yang merdu membelai ruang dengar mereka,
Puncak acara pun tiba dimana model Internasional menampilkan beberapa koleksi baju brand ternama, kini semua tamu wanita mendekat dan mengelilingi tempat yang akan dipakai oleh sang model, seluruh anggota keluarga Arya pun disana kecuali Amara yang sedikit menjauh karena menerima telepon dari seseorang.
"Hai gadis tak bernama ,,," sapa Ferdy menghentikan langkah Amara yang baru saja mematikan sambungan selulernya
"Kenapa sih anda selalu mengganggu saya ?" balas Amara sedikit kesal.
"Karena aku ingin kenalan denganmu, nona." ucap Ferdy terus terang. Entah mengapa ia merasa gadis di depannya ini berbeda dengan gadis-gadis pada umumnya.
"Yakin hanya ingin kenalan ? karena jika anda memiliki maksud lain maka anda salah orang karena saya bukanlah gadis yang melihat pria dari wajah dan tebalnya dompetnya tapi otaknya. " balas Amara ketus kemudian meninggalkan pria tersebut.
"Waow ,,, gadis super menantang. Kita lihat sepintar apa dirimu sehingga begitu sombong. " gumam Ferdy tersenyum miring mengejar Amara.
Acara semakin semarak di dalam ruangan, Amara bergabung dengan anggota keluarganya yang berdiri tak jauh dari stage. Posisi mereka berhadapan dengan anggota keluarga pak Santoso. Fauzan yang menyadari kehadiran Amara hampir bersamaan dengan adiknya mengerutkan dahinya. Bukankah Ferdy baru beberapa hari kembali ke tanah air setelah beberapa tahun terakhir ini ? tapi kenapa mereka terlihat akrab ?. Fauzan beristigfar menghilangkan prasangkanya.
Selanjutnya acara hiburan yang sengaja Nyonya Shinta adakan dan dimanfaatkan oleh Ferdy untuk memberi pelajaran buat Amara yang menurutnya sombong dan angkuh. Ferdy merasa tertantang untuk menaklukkan Amara.
"Sebagai hiburan maka aku akan memberikan dua tantangan pada gadis itu." ucap Ferdy menunjuk Amara.
Semua kaget sekaligus penasaran sehingga putra bungsu pak Santoso ingin menantang gadis yang para tamu undangan kenal sebagai cucu seorang Arya dan keturunan salah satu triple K yang sangat terkenal di jamannya bahkan masih disegani hingga saat ini.
"Ferdy ??!!" pelik Fauzan tertahan.
__ADS_1
Dengan langkah tenang Amara maju jangan lupakan wajahnya yang datar disertai senyuman misterius miliknya. Sesaat ia melupakan Fauzan yang tak lain adalah kakak tampannya.
"Anda ingin menantang saya ??!!" tanya Amara dingin
"Betul nona, aku ingin mengetahui seberapa banyak ilmu yang sudah terserap dalam otakmu. " balas Ferdy meremehkan Amara.
"Apa jaminannya jika anda kalah ? tapi ingat saya tidak menerima jaminan yang merupakan milik orang lain dan sesuatu itu harus bisa dinilai dengan uang. " ucap Amara dengan sengaja memasang wajah angkuh untuk memancing emosi lawannya.
"Baik, aku akan menjaminkan perusahaan kecil milikku. Tapi jika nona kalah maka akupun inginkan hal yang sama akan tetapi aku hanya ingin nona menjadi pendamping hidupku. " ucap Ferdy tak kalah angkuhnya.
Wajah Fauzan memerah mendengar ucapan adiknya, melihat wajah putra sulungnya, Shinta segera menyentuh tangan putranya agar tenang.
"Percayalah pada Sang Khalik, jika kalian berjodoh maka Ferdy tidak akan menang." bisik Shinta lembut.
Pak Santoso dan Shinta memang mendidik putra-putranya untuk mandiri sejak mereka remaja agar mampu menghadapi kehidupan yang semakin keras karena mereka sebagai orang tua tak mungkin akan terus mendampingi mereka sehingga baik Fauzan maupun Ferdy memiliki tanggung jawab pada diri sendiri hingga merekapun memiliki perusahaan masing-masing.
Mendengar ucapan Ferdy membuat wajah Amara merah menahan amarahnya, matanya memerah membuat orang yang menatapnya ketakutan.
"Melihat tubuhmu yang lemah dan tak bertenaga maka aku menantangmu bela diri tapi ingat tidak boleh keluar dari lingkaran mereka. " balas Ferdy semakin meremehkan Amara.
"Bolehkah saya ganti baju dulu ? rasanya kurang pantas jika saya memakai drezs melawanmu. " ucap Amara tersenyum tipis. Dalam hati ia bersorak gembira, sejak tadi ia ingin memukul wajah sok tampan pria itu.
"Tentu saja. " balas Ferdy tenang.
Amara keluar menuju mobil opanya, tadi sebelum berangkat Amara sengaja membawa baju kaos dan celana jeans karena sepulang dari acara ini ia akan mampir ke mall untuk membeli beberapa keperluannya gak lucu kan jika ia memakai baju seperti ini.
Setelah mengganti bajunya dan menguncir rambutnya, Amara kembali ke dalam ruangan dimana Ferdy telah menunggunya. Suasana kembali hening saat Amara melangkahkan kakinya dengan wajah datarnya. Aura berbeda terpancar dari tubuhnya yang tinggi semampai.
"Jangan mengecewakan papa, sayang ,,," ucap Kiano saat Amara melewatinya.
__ADS_1
"Pasti pa, siapkan saja notaris untuk mengambil alih perusahaan pria bodoh itu. " balas Amara tersenyum manis sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sejujurnya Ferdy mulai merasa nyalinya menciut, ia tak menyangka saat ini melihat sosok yang berbeda jauh dengan gadis yang beberapa saat lalu yang ia lihat dalam balutan gaun feminim dan anggun.
Fauzan berkeringat dingin, ruangan ber AC tersebut tak mampu menghentikan keringatnya yang tiba-tiba membanjiri dahinya. Takut jika gadis kecilnya kalah dan menjadi adik iparnya, ia tak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Fauzan sangat mengenal adiknya yang jago bela diri dan mereka sering berlatih bersama-sama.
Amara berdiri dengan santai namun mata tajamnya tak sekalipun bersedia menunggu Ferdy melakukan serangan. Emosi Ferdy tersulut saat melihat Amara terlalu santai salah meremehkan dirinya. Tanpa aba-aba Ferdy menyerang Amara dengan tiba-tiba dan ganas, ia ingin menumbuhkan gadis sombong itu dengan satu kali serangan.
"Hanya segitu serangannya ?" ucap Amara menghindar dengan mudahnya.
Ferdy kembali melakukan serang bertubi-tubi, memukul dan menentang tanpa ampun namun Amara dengan gerakan ringan dan lincahnya berkelit seraya tersenyum manis sungguh pemandangan yang mengundang decak kagum. Para tamu undangan bukan lagi menganggapnya sebagai pertarungan karena tantangan akan tetapi sebuah tontonan yang menarik dan asyik untuk dilihat padahal kedua manusia berbdea gender itu bertarung sungguh-sungguh. Amara tak ingin kalah dan menjadi istri pria sok akrab itu, dia bukan pria idamannya.
"Sejak tadi anda menyerang saya dan tak satupun yang berhasil mengenaiujung rambut saya, kini giliran saya yang menyerang anda." ucap Amara seraya memberikan tendangan yang tak pernah Ferdy sangka tepat mengenai lengannya dengan keras sehingga Ferdy terpental keluar dari arena yang mereka tentukan.
Buukkkk ,,, praaannnggg
Tubuh Ferdy meringkuk dibawah tumpukan manekin yang tadinya terpajang dengan rapi. Semua memekik kaget. Amara sengaja menendang hanya bagian lengannya saja karena pria itu bukanlah musuh yang harus dibunuhnya, ia hanya ingin memberikan pelajaran dan menghentikan ide gilanya untuk menjadikan dirinya pendamping hidupnya, padahal bisa saja ia menendang leher atau perutnya namun itu bagian yang sangat vital dan akan sangat berbahaya jika ia menendang atau memukulnya. Amara menguasai beberapa teknik bela diri yang berbeda dan selalu menggabungkannya jika sedang bertarung.
Melihat tubuh adiknya terlempar, Fauzan berlari menolongnya walaupun dalam hati ia bersyukur karena pada tantangan pertama Ferdy kalah telak jadi meskipun Amara kalah pada tantangan berikutnya ledakan akan seri dan ia akan berusaha menghentikannya dengan sebuah tindakan yang sedikit ekstrim. Fauzan sudah bertekad.
"Masih ingin bermain pada tantangan berikutnya ?" ejek Amara tersenyum sinis.
🎶🎶🎶🎶🎶
Hai readers , Selamat pagi ,,,,
Masih kuat kan puasanya ??? sudah buat kue lebaran , kan ???
Jangan lupa dukungannya, yak ,,,
__ADS_1
Salam manis dari negeri halu.