RUSUK SANG BILLIONAIRE

RUSUK SANG BILLIONAIRE
PART 114


__ADS_3

Selesai jamuan makan siang dan berbincang-bincang sejenak, pak Santoso kemudian mengajak Amara ke ruang kerjanya dan Fauzan pun ikut ke ruang kerja papanya.


"Nak Amara, beberapa hari ini ada yang mencoba membobol sistem keamanan data perusahaan pusat, kalau nak Amara berkenan tolong amankan data-data penting perusahaan. " ucap pak Santoso saat mereka telah duduk di sofa.


"Siapa yang membuatkan sistem keamanan perusahaan om selama ini ?" tanya Amara seraya menyalakan laptop yang diberikan oleh pak Santoso.


"Fauzan dan tenaga IT perusahaan. " jawab pak Santoso apa adanya.


Mendengar nama Fauzan terlibat dalam pembuatan sistem keamanan perusahaan, Amara tersenyum sinis melirik Fauzan yang sedang menatapnya. Kemudian mengutak atik laptop tersebut.


"Maaf om, aku akan membuat ulang sistem keamanan data-data om tapi jangan beritahukan informasi apapun pada tenaga IT perusahaan om karena yang mencoba membobol data perusahaan justru berasal dari komputer perusahaan om sendiri. Coba om perhatikan. " Amara memperlihatkan aktifitas komputer perusahaan.


"Jangan asal menuduh, kalau memang mereka yang berusaha membobol data perusahaan, seharusnya mereka langsung bisa memasuki sistem keamanan perusahaan, bukan berusaha berhari-hari hingga papa menyadarinya. " ucap Fauzan menggunakan logikanya.


"Karena mungkin seeorang telah merubah sebagian sistem yang kalian buat." balas Amara yakin dengan dugaannya.


"Papa yang sudah merubahnya. " timpal pak Santoso


Amara kemudian menarik ke,Bali laptop tersebut kehadaoannya dan melanjutkan pekerjaannya, ia ingin cepat menuntaskan urusannya dengan pak Santoso. Jantung Amara selalu berdetak lebih kencang dari biasanya jika berada di dekat pria muda itu.


"Maaf om, Ara bisa pinjam ponselnya ,,," ucap Amara sopan. Ia sangat menghormati pria kharismatik dengan mata teduhnya.


"Tentu ,,,," balas pak Utomo memberikan ponsel canggihnya.


Amara kembali fokus pada laptop di depannya, sementara tak jauh dari tempat duduknya Fauzan pun fokus menatap wajah Amara yang terlihat lebih cantik dan memukau saat serius seperti saat ini. Senyuman lebar ke,Bali terpatri pada wajah tampannya. Jika tak mengingat pak Utomo sedang bersama mereka, ingin rasanya Amara mencongkel biji mata pria yang selalu menatapnya. Amara bisa melihatnya dengan ujung matanya kelakuan Fauzan yang tidak sopan menurutnya.


"Nah, selesai om. Aku menghubungkan dengan ponsel om agar tidak ribet harus selalu membuka laptop jika ingin mengontrol data perusahaan dan memberikan alarm saat seseorang berusaha meretas sistem keamanan data perusahaan." ucap Amara kemudian pura-pura akan meretas sehingga ponsel pak Santoso mengeluarkan bunyi yang berbeda.


"Suara alarmnya seperti itu om. " lanjut Amara.


"Terima kasih nak Amara, entah bagaimana om bisa membalas kebaikanmu. " ucap pak Santoso tulus.


"Anggap saja bayaran atas santap siang yang enak hari ini. " balas Amara tersenyum tak kalah tulusnya.


"Kalau nak Amara suka, setiap hari makan siang di sini pun om tak keberatan. " ucap pak Santoso tersenyum bahagia

__ADS_1


"Gak perlu om, hari ini aja sudah cukup. " tolak Amara halus.


Mana mau Amara makan siang di rumah mereka setiap hari, kalau saja ia tahu yang mengontrak Kiran adalah istri pak Santoso mana mau menemani Kiran.


"Ya sudah yuk kita bergabung dengan model Imternasional itu. " ajak pak santoso.


"Tunggu pa ,,, ponselku juga harus konek dengan sistem keamanan perusahaan, kan saat ini aku yang mengurus perusahaan. " protes Fauzan merasa tak dianggap.


"Sebaiknya jangan, takutnya anda tidak bisa menjaganya. Saingan perusahaan anda banyak dan kita tak menebak bagaimana musuh bisa menghancurkan kita. " balas Amara apa adanya apalagi Fauzan masih muda dan tidak menutup kemungkinan akan mengunjungi tempat-tempat yang bisa saja merupakan jebakan musuh.


"Aku bukan pria muda yang suka mengunjungi tempat maksiat. " ucap Fauzan menahan kesal seolah mengerti pikiran Amara.


Amara menatap pak Santoso sebelum mengambil ponsel Fauzan dan dibalas dengan anggukan kepala oleh pak Santoso sebagai tanda setuju. Amara melotot melihat fotonya pada layar ponsel Fauzan. Tak ingin keterkejutannya di lihat oleh pak Santoso, Amara segera membuka password ponsel Fauzan kini gantian pria itu melotot tajam tak menyangka Amara akan dengan gampangnya membuka password ponselnya.


Sesaat kemudian Amara mengembalikan ponsel Fauzan dan fotonya pada layar ponsel telah hilang. Fauzan mendelik kasar menyadari hal tersebut namun saat berikutnya senyuman kembali tercetak pada wajah tampannya lalu menggoyangkan ponselnya ke arah Amara. Kelakuan keduanya terlihat jelas oleh pak Santoso yang sejak tadi menahan senyumnya.


'Semoga kalian berjodoh. ' doa pak Santoso dalam hati.


Pak Santoso semakin yakin jika putra sulungnya itu menyukai Amara melihat senyuman yang tak pernah lepas sejak kedatangan Amara dan Kiran. Otak pak Santoso bergerikya kesana kemari mencari jalan untuk mempersatukan mereka. Yang menjadi pertanyaan pak Santoso adalah apakah Amara memiliki rasa yang sama dengan putranya ? tidak mungkin Amara tak memiliki kekasih melihat sosoknya paket komplit kelas wahid. Pak Santoso tak ingin putranya kecewa dan berakhir menyedihkan.


"Apa yang om pikirkan ?" tanya Amara karena sejak tadi ia mengajak pak Santoso berbicara namun tak ada tanggapan.


"Apa ??!! papa mau menikah lagi ??!!" teriak Fauzan mendengar ucapan pak Santoso.


"Siapa yang mau menikah lagi, Zan ??" tanya Shinta yang ikut kaget mendengar teriakan putranya.


Pak Santoso mencebikkan bibirnya kesal pada pria muda jiplakan dirinya saat muda.


"Ck, papa memikirkan cara bagaimana melamarkan gadis untuk putra teman papa. " ucap pak Santoso seraya duduk di kursi panjang bergabung dengan istrinya dan Kiran serta Metha.


"Gampang itu pak, tinggal datang saja menemui kedua orang tua sang gadis. " balas Fauzan sekenanya.


Plaaakkk


"Ngomong gampang tapi apakah gadis itu menyukai pemuda itu ?" balas pak Santoso memukul lengan putranya

__ADS_1


"Kalau yang itu aku gak ada jalan keluarnya." ucap Fauzan meringis kesakitan karena pukulan sang papa terlalu keras.


"Bagaimana pendapat kalian sebagai gadis ?" tanya pak Santoso serius


"Kita harus cari cara untuk mengetahui perasaan sang gadis. " balas Kiran antusias.


" Kalau menurut nak Amara gimana ?" pancing pak Santoso.


"Maaf om, aku gak akan mengampuni urusan orang lain dengan memberikan pendapat ." balas Amara santai


Pak Santoso hanya bisa menarik napas panjang mendengar ucapan Amara yang sama sekali tak membantunya.


" Sepertinya kami sudah terlalu lama bertamu, kami pamit dulu tante, om. " Amara segera berinisiatif berpamitan saat tak ada lagi yang berbicara.


"Kok cepet banget sih, padahal kami senang lho dikunjungi oleh gadis-gadis cantik. " ucap Shinta tak rela mereka pulang.


"Masih ada lain kali, ma. " timpal Fauzan melirik Amara.


"Bener bu, kita msih akan bertemu nanti. " Kiran ikut menimpali


Ketiganya kemudian diantar oleh Fauzan hingga ke mobil dan sebelum Amara masuk kemobilnya Fauzan berkata dengan pelan.


"Lain kali datang lagi, ya ,,,"


"Maaf gak ada lain kali. " balas Amara ketus dan di sambut kekehan oleh Fauzan.


"Bye ,,, hati-hati dijalan. " teriak Fauzan saat Amara mulai menjalankan mobilnya.


"Selangkah lagi, Fauzan ,,,, semangat." gumam Fauzan menyemangati diri sendiri.


🎢🎢🎢


Hai readers, othor datang lagi nih ,,,,


Semoga terhibur ,,,,

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya, yak πŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—


MAAF YANG SUKA PROMO , TOLONG KITA SALING MENGHARGAI SESAMA AUTHOR. JANGAN PROMO DI KOLOM KEMENTAR. KALAU TIDAK BISA MEMBACANYA SETIDAKNYA JANGAN MEMBERI KOMENTAR YANG ISINYA HANYA PROMO KARYA KALIAN. TERIMA KASIH ATAS PENGERTIANNYA


__ADS_2