RUSUK SANG BILLIONAIRE

RUSUK SANG BILLIONAIRE
PART 124


__ADS_3

Malam semakin larut, udara dingin semakin menusuk hingga ke tulang dan rembulan pun semakin menguasai malam dengan menegaskan sinarnya. Amara diantar oleh supir keluarga menuju bandara setelah berpamitan pada semua anggota keluarganya.


Jalan raya tak seramai siang hari sehingga mobil yang Amara tumpangi tiba di bandara lebih cepat dari biasanya. Dibantu pria paruh baya yang setia bekerja pada keluarganya, Amara menurunkan kopernya kemudian menariknya sendiri memasuki pintu bandara setelah melambaikan tangannya pada pria itu. Dengan sedikit tergesa-gesa Amara memasuki pintu keberangkatan Internasional.


Diwaktu yang sama Ferdy melihat Amara sepintas namun ia tak sempat menegurnya karena langkah Amara panjang-panjang dan posisinya pun hanya sebagai pengantar. Yah, Ferdy kebetulan mengantar teman hangoutnya yang akan bertolak ke luar negeri.


Tiba di kediaman keluarga Santoso jam sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari, Ferdy bermaksud ingin menghampiri sang kakak namun yang dituju sepertinya sudah tidur maka ia pun masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.


Ferdy masih berselancar di dunia mimpi saat pintu kamarnya di gedor dengan kencang memaksanya untuk segera menggapai kesadarannya kembali. Dengan mata masih berat untuk terbuka, Ferdy membuka pintu kamarnya.


"Ada apa sih, masih pagi-pagi sudah ganggu orang tidur. " omel Ferdy masih dengan mata tertutup.


tuk


"Pagi-pagi dari mana, ini sudah jam 7." ucap Fauzan setelah mengetok kepala adiknya.


"Jam 7 itu masih tergolong pagi, kak. Lagian aku gak ada kerjaan hari ini. " balas Ferdy memutar badannya ingin kembali tidur.


"Notaris Amara nyariin kamu di bawah. " ucap Fauzan sebelum meninggalkan adiknya.


Mendengar nama Amara, kesadaran Fe4dy kembali πŸ’―% , ia segera berlari ke lantai bawah melewati Fauzan yang sedikit penasaran.


"Bapak nyari saya ?" tanya Ferdy tanpa basa basi


"Betul pak, kemarin nona Amara menitipkan ini pada saya dan meminta agar diserahkan pada anda secepatnya. " ucap Beni menyodorkan map yang sejak tadi ia pegang.


"Nona Amara memangnya kemana pak ? semalam saya melihatnya di bandara. " tanya Ferdy pemasaran mengingat semalam di bandara.


"Maaf pak, saya kurang tahu. Saya pamit pak." balas Beni tak ingin berbasa basi.

__ADS_1


"Terima kasih pak." ucap Ferdy mengantar tamunya ke depan.


Fauzan yang masih berada pada anak tangga paling bawah seketika berhenti saat mendengar pertanyaan Ferdy, kemudian ia mendekati adiknya dengan tataoan tak terbaca.


"Kakak kenapa ?" tanya Ferdy mengerutkan alisnya.


"Aku dengar kamu bilang melihat Ara di bandara semalam ?" Bukannya menjawab, Fauzan malah balik bertanya


"Yups, aku melihatnya memasuki pintu keberangkatan Internasional tapi aku tidak sempat menegurnya karena jalannya sangatncepat sementara aku dan temanku baru masuk. " jelas Ferdy apa adanya.


Mendengar penjelasan adiknya, Fauzan mengusap wajahnya kasar dan terduduk pada anak tangga dengan tatapan kosong. Ferdy bisa menebak jika sesuatu yang buruk terjadi pada keduanya.


"Ada sebenarnya, kak ,,," Ferdy ikut duduk disamping Fauzan.


"Ceritakan semuanya dengan jelas, manatau aku ada solusi untuk kalian. Sangat disayangkan jika hubungan kalian berantakan tanpa kejelasan. " lanjut Ferdy menatap Fauzan yang terlihat tak bersemangat.


Perlahan Fauzan mengangkat wajahnya menatap Ferdy dengan tatapan kosong, sejak pertengkarannya dengan Amara setiap menit ia mencoba menghubungi Amara namun tak ada hasil bahkan saat ia mendatangi rumah utama keluarga Arya, security yang bertugas mengatakan jika semua penghuni rumah sedang keluar kota.


"Tapi aku gak mungkin menuduh orang tanpa bukti, Fer. Bagaimana kalau tidak terbukti, aku tidak mau memfitnah orang." balas Fauzan


"Ok, jika kakak ingin bukti aku akan ikut ke perusahaan dan memberikan bukti pada kakak. Tapi ingat jika omongan Amara terbukti maka saat itu juga kakak harus memecat Delia di depan semua karyawan dan membeberkan kesalahannya. " ucap Ferdy tajam.


"Baiklah terserah kamu saja. " balas Fauzan pasrah. Ia benar-benar buntu saat ini.


"Ya sudah, aku mandi dulu. " Ferdy kemudian bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya tanpa menunggu persetujuan Fauzan.


Lima belas menit kemudian, Ferdy telah rapi dan duduk di meja makan bersama mama dan papanya serta Fauzan.


"Lho mau kemana, Fer ?!" tanya Shinta menatap putra bungsunya pagi-pagi sudah rapi.

__ADS_1


"Mau ikut kakak ke perusahaan. " jawab Ferdy singkat kemudian mengisi pringnya dengan nasi goreng.


"Untuk apa ?" tanya pak Santoso kepo


"Kakak butuh bantuanku untuk mensterilkan kantornya. " jawab Ferdy asal.


"Ada apa dengan perusahaan ??" Pak Santoso kaget mendengar ucapan Ferdy


"Nanti aku jelaskan pa, singkatnya kakak terlalu polos jadi pimpinan perusahaan sedangkan kekasihnya terlalu peka dengan situasi di sekitar kakak." ucap Ferdy sambil mengisi mulutnya dengan sarapannya.


"Kekasih ??" Shinta kaget sekaligus gembira dengan ucapan putra bungsunya. Selama ini Fauzan tidak pernah mengatakan jika itulah memiliki kekasih.


"Amara. " balas Ferdy singkat padat dan jelas.


"Mama sama papa akan segera melamarnya. " ucap Shinta antusias melupakan sarapannya.


"Sebaiknya mama makan dulu. Melamar sekarang pum tak ada gunanya, mereka sedang tidak baik-baik saja. " balas Ferdy apa adanya.


" Ma, pa, maaf jika Fauzan belum menceritakan hubungan kami tapi untuk saat ini biarkan dulu aku menyelesaikan semuanya baru kemudian kita membicarakannya lagi. Antara aku dan Amara sedang terjadi kesalahpahaman. " ucap Fauzan tenang.


"Apapun masalah kalian, cepat selesaikan kami tunggu kabar baiknya, son. Satu pesan papa kamu harus cerdas menilai orang-orang sekitarmu jika tidak ingin jatuh tengkurap. Kami mengirimmu untuk belajar agama bukan untuk menajdikanmu seorang ustadz tapi kami hanya ingin kamu memiliki dasar yang kuat menghadapi dunia bisnis yang terkadang orang berlaku kotor dan kami tak ingin kamu seperti mereka. " Pak Santoso merasa inilah waktu yang tepat untuk menasehati putra sulungnya itu sesungguhnya selama ini pak Santoso pun khawatir dengan Fauzan yang terlalu menjaga perasaan orang lain tanpa terkecuali.


"Baik pa. " ucap Fauzan memikirkan nasehat papanya.


"Kita berangkat sekarang, kak." ajak Ferdy tak sabar ingin segera berangkat.


Fauzan segera menuntaskan sarapannya dengan meminum air putih lalu berdiri menghampiri mama dan papanya berpamitan seraya meraih tangan keduanya kemudian mencium punggung tangan mereka secara bergantian. Hal yang sama pun dilakukan oleh Ferdy.


🎢🎢🎢🎢

__ADS_1


Selamat pagi ,,,,


Terima kasih atas dukungannya ,,,


__ADS_2