RUSUK SANG BILLIONAIRE

RUSUK SANG BILLIONAIRE
PART 121


__ADS_3

Saat Fauzan telah berada dalam ruang kerja Amara, ia kemudian mengunci pintu agar tak terganggu selama mereka berbicara. Fauzan tak ingin melewatkan kesempatan ini. Pesona Amara sudah mulai menyebar di kalangan pengusaha muda seperti dirinya dan menjadi buah bibir.


"Ijinkan kakak tampanmu ini kembali mengajarimu mengaji dan menjadi imam disetiap shalatmu disepanjang hidup kita dalam satu ikatan yang disebut pernikahan." ucapan Fauzan membuat Amara merasa dejavu.


"Ka ,,, kakak masih mengingatku ?" balas Amara tergagap. Ia tak menyangka Fauzan masih mengingatnya


"Bagaimana bisa lupa dengan gadis kecil yang ngotot minta diajar mengaji disudut ruangan. Kakak tak bisa melupakan bagaimana gadis kecil itu dengan pintarnya mengingat setiap huruf hanya dengan satu kali baca. " Fauzan tersenyum mengingat gadis kecilnya.


"Sejak saat itu kakak tampan selalu menjaga hatinya hanya untuk gadis kecil itu. " lanjut Fauzan kembali memeluk Amara.


"Kenapa kakak suka sekali memeluk tiba-tiba. " balas Amara sedikit mendorong tubuh atletis Fauzan. Tak pernah ada pria yang berani memeluknya kecuali anggota keluarganya.


"Hanya denganmu kakak seperti ini. " Fauzan semakin mengeratkan pelukannya.


Wajah Amara merona dalam pelukan Fauzan, perlahan Amara melerai pelukan Fauzan kemudian menatap manik mata hitam milik pria muda itu mencari kebohongan disana namun sialnya yang ia dapatkan adalah kejujuran dan ketulusan dari kakak tampannya.


"Jangan mencari kebohonganku karena aku serius dan akan bertanggung jawab dengan semua ucapanku. " ucap Fauzan mengacak rambut Amara seolah tahu yang sedang Amara pikirkan.


"Sejak kapan kakak mengenaliku ?" tanya Amara penasaran


"Sejak ulang tahun perusahaan saat kamu mnyebut nama panggilanmu. " jawab Fauzan tersenyum lebar.


"Apakah kamu pun mengenalku ?" kini Fauzan yang ingin mengetahui kebenaran Amara.


"Tentu, tapi setelah ustadzah Lyli mengatakannya. " balas Amara tersenyum malu-malu.


Fauzan menatap Amara dengan datar, ia tak habis pikir dengan daya ingat gadis itu yang diatas rata-rata namun mengingat dirinya saja harus dibantu oleh bu ustadzah. Dalam hati Fauzan bersyukur hari ini ia mengungkapkan perasaannya hampir saja ia gigit jari jika gadisnya menjadi milik orang lain.

__ADS_1


"Jadi ungkapan perasaanku di terima ?" walaupun Fauzan deg-degan takut di tolak namun ia harus memperjelas semuanya jangan sampai ia berharap banyak namun pada akhirnya harus kecewa.


"Menurut kakak ?" Bukannya menjawab, Amara malah balik bertanya.


"Kamu harus menerima dan memberiku kesempatan untuk membuktikan kata-kataku." balas Fauzan yakin


"Kita jalani saja, aku tak ingin berjanji karena kebanyakan mengumbar janji biasanya akan cepat berakhir dengan tragis ." ucap Amara.


Mendengar ucapan Amara membuat Fauzan mencium pucuk kepala Amara, ia sangat gembira mendengar ucapan Amara. Kini dunianya akan berwarna dengan kehadiran Amara disisinya.


"Ikut aku ke kantor. " ucap Fauzan menggandeng tangan Amara dengan perasaan bahagia.


"Tapi aku masih ada pekerjaan." balas Amara menahan langkahnya.


"Sebentar saja, setelah itu nanti aku bantu menyelesaikannya. " ucap Fauzan sedikit memaksa.


Ia ingin membwa Amara ke kantornya dan mengenalkannya secara tidak langsung pada seluruh karyawannya larena selama ini ia belum pernah sama sekali membawa seorang wanita ke kantornya sehingga para karyawan wanita tak segan-segan menggodanya. Fauzan yang tak pernah marah dan ramah pada semua orang membuat mereka salah mengartikan kebaikan seorang Fauzan.


"Baiklah. " balas Amara pasrah.


"Berjalan biasa saja, aku tak ingin karyawan bergosip ria. " lanjut Amara saat melihat pergerakan tangan Fauzan ingin meraih tangannya.


"Ok, tapi saat tiba di perusahaanku biarkan aku menggandengmu." ucap Fauzan saat mereka melewati meja Fara.


Saat mereka keluar, Fara belum nampak di meja kerjanya sehingga Amara mengunci pintu ruangannya dan menyimpannya di tempat biasa kemudian menuliskan pesan untuk Fara.


Fauzan lalu menengacahkan tangannya meminta kunci mobil pada Amara karena sejak tadi sopir dan sekretarisnya ia suruh pulang terlebih dahulu. Setelah mendapatkan apa yang ia minta, Fauzan membukakan pintu untuk Amara kemudian ia mengitari mobil lalu masuk dan duduk dibelakang kemudi. Perlahan mobil melaju keluar dari area perusahaan. Gerak gerik keduanya tak luput dari perhatian para karyawan karena untuk pertama kalinya nona bos mereka nampak akrab dengan kawan jenisnya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit mereka menghabiskan waktu dalam perjalanan, akhirnya Amara dan Fauzan tiba di depan lobby perusahaan PT. Dwi_Zan, jam istirahat baru saja selesai baik Fauzan maupun Amara belum makan siang.


Kini Fauzan merangkul mesra pinggang ramping Amara setelah mereka keluar dari mobil, karyawan yang kebetulan sedang berjalan menuju ruangannya sontak berhenti, ada yang sekedar berbasa basi menyapa mereka namun ada pula yang melayangkan tatapan sinis pada Amara. Mereka terus berjalan menuju lift khusus pemilik perusahaan.


"Kenapa mereka menatapku seperti itu ?" tanya Amara yang sejak tadi menahan kekesalannya.


"Mereka tidak suka dengan keberadaanmu disisiku karena mereka selalu berusaha menggodaku namun tak pernah aku pedulikan. " jelas Fauzan jujur. Ia akan memulai suatu hubungan yang serius dengan Amara dan tak akan menyembuyikan apapun dari gadis kecilnya.


ting


Lift berhenti dan pintunya pun terbuka, keduanya keluar dengan Fauzan kembali merangkul pinggang Amara.


"Berarti kakak sengaja mengajakku kemari karena ingin memanfaatkanku. dengus Amara merasa dimanfaatkan oleh Fauzan.


"Tidak seperti itu sayang. " ucap Fauzan lembut tak ingin gadis yang baru beberapa menit yang lalu resmi menjadi Calon istrinya salah paham.


Delia yang mengepalkan tangannya menatap kesal pada Amara saat mendengar bos yang ia incar memanggil sayang dengan lembut merusak pendengaran Delia. Amara dengan matanya yang selalu awas pada sekitarnya melihat tatapan kesal Delia.


"Jangan memangilku sayang, gak enak di dengar orang. " ucap Amara sengaja semakin membuat Delia kesal


"Aku tidak ada urusan dengan telinga orang, sayang. " balas fauzan tak menyadari akal-akalan Amara.


"Delia, tolong pesankan kami makanan. " lanjut Fauzan berubah datar dan hanya diangguki oleh Delia.


Kekesalan Delia yang sudah sampai pada ambang batas membuat bibirnya terkunci hingga tak mampu membalas ucapan bosnya. Jika dulu ia akan senang hati melayani bosnya itu namun kini keadaan terbalik, ia merasa berat untuk sekedar mencari makanan sesuai pesanan bosnya. Delia tak sanggup melihat lebih banyak kemesraan bosnya dengan Amara.


🎶🎶🎶🎶

__ADS_1


Selamat pagi readers kesayangan


Terima kasih atas dukungannya.


__ADS_2