RUSUK SANG BILLIONAIRE

RUSUK SANG BILLIONAIRE
PART 109


__ADS_3

Secuek-cueknya Amara dengan keberadaan Fauzan di depannya, ia tetaplah seorang wanita yang akan salah tingkah jika menyadari dirinya menjadi obyek dari seorang pria. Akhirnya harapan Amara agar Fauzan bosan dan pulang ke perusahaannya sia-sia, iapun mengalah dan segera berdiri saat jam istirahat.


"Anda mau makan siang dimana ??" tanya Amara menghentikan aktivitas Fauzan.


"Saya ikut saja, Ra ,,, kan kamu yang traktir. " senyum Fauzan mencoba mengarahkan diri.


Amara mengernyitkan hingga alisnya bertaut mendengar Fauzan menyebut namanya sama seperti keluarga dan teman-teman dekatnya memanggilnya padahal hari ini adalah pertemuan kedua mereka setelah bertemu pertama kalinya di pesantren.


"Mbak Fara, tolong ruanganku di kunci jika mbak ingin istirahat. Aku makan di luar. " Amara berhenti sejenak di depan meja sekretarisnya.


"Baik nona. Oh ya nona ,,, pak Satria keluar kantor katanya di panggil oleh tuan Keanu." balas Fara sopan.


"Ya sudah, gak apa-apa ,,," balas Amara mengerti dengan tugas rangkap om Satria.


Amara kembali melanjutkan langkahnya setelah berbicara dengan Fara, ia tak mempersoalkan tentang Om Satria yang seringkali menghilang jika papinya membutuhkannya toh Om Satria memang adalah asisten sang papi.


Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalan raya yang macet membuat Amara menarik napas panjang, berjibaku dengan kemacetan khas ibukota membuatnya malas keluar untuk makan siang. Dalam diam Amara menyesali perbuatannya yang bermaksud ingin membuat sekretaris pria yang duduk dengan tenang di sampingnya agar semakin kesal dan kini ia kena tulahnya harus menghadapi kemacetan yang sangat ia benci.


Niat Amara ingin mengajak Fauzan makan di restoran yang biasa ia dan adik-adiknya datangi namun kondisi sepertinya tak memungkinkan akhirnya sebuah ide menghinggapi otak cerdasnya saat melihat sebuah rumah makan di pinggir jalan yang jauh dari kata mewah. Ia akan membuat Fauzan kapok kali ini.


"Maaf pak, sepertinya kita tak bisa menembus kepadatan kendaraan di depan, so kita makan di sana saja. " ucap Amara menunjuk rumah makan yang dipenuhi oleh orang-orang yang sama dengan dirinya. Kelaparan.


"Baiklah, aku gak masalah yang penting bersamamu. " ucap Fauzan tersenyum lebar.


'Dasar gadis kecil, aku tahu kamu sengaja membawaku makan di tempat seperti ini tapi kali ini kamu akan kecewa karena dimanapun aku makan tak jadi masalah karena disitulah rezeki perutku berada. Tak ada yang terjadi selain atas kehendaknya. ' batin Fauzan tersenyum


Saat mobil yang dikendarai oleh Amara terparkir sempurna, Fauzan dan Amara keluar dari mobil. Para pengunjung memperhatikan mereka lebih tepatnya Fauzan karena tampilannya khas seorang bos perusahaan lengkap dengan jas mahal yang membalut tubuhnya yang menggoda iman kaum hawa sedangkan Amara dengan tampilannya yang sederhana melangkahkan kakinya dengan santai menuju meja yang masih kosong.


"Bapak mau pesan apa." ucap Amara formal layaknya seorang bawahan.


"Hentikan sandiwaramu, Ra ,,," bisik Fauzan menahan kekesalannya.


" Ck, bapak mau makan apa, biar saya pesankan ,,, nanti kita gak kebagian makanan." balas Amara tak memperdulikan kekesalan Fauzan. Dalam hatinya ia bersorak gembira.

__ADS_1


" Samakan aja." ucap Fauzan jengah dengan tatapan para wanita.


Fauzan hanya bisa pasrah melihat Amara yang berdiri anti untuk memesan makanan, sibuk mengutak atik ponselnya agar tak melihat wanita-wanita yang tak lagi punya urat malu. Fauzan tersenyum tipis bahkan sangat tipis menemukan cara agar para wanita itu berhenti menatapnya. Fauzan menatap punggung Amara yang masih menunggu pesanannya.


"Maaf pak, makanannya sedikit terlambat." ucap Amara kemudian duduk di depan Fauzan seraya meletakkan makanan untuk Fauzan dan untuk dirinya sendiri.


Fauzan kemudian mengangkat kursinya ke samping kanan Amara dan langsung merangkul pundak Amara dengan mesra. Amara yang tak menyangka Fauzan akan memperlakukannya seperti itu terdiam, jantungnya berdetak kencang untuk pertama kalinya seorang pria berani menyentuhnya pun sama dengan Fauzan, jantungnya pun berdetak kencang.


"Lepaskan tangan anda jika tak ingin menyesal. " ucap Amara geram


"Tolong, jangan marah tapi aku gak punya cara lain untuk menghentikan wanita-wanita itu menatapku. " balas Fauzan dengan wajah sememelas mungkin.


"Itu bukan urusan saya, cepat jauhkan tangan anda, pak. " ucap Amara berusaha menguasai detak jantungnya.


"Aku janji akan menyingkirkan tanganku setelah wanita-wanita itu berhenti menatapku, lagipula kamu harus bertanggung jawab karena membawaku kesini." balas Fauzan apa adanya.


Amara memberikan tatapan dingin satu per satu pada wanita-wanita yang menatap Fauzan, Amara tak ingin jantungnya bermasalah gara-gara tangan Fauzan yang dengan sukarela nangkring di pundaknya. Akhirnya para wanita itu kecewa dan memilih pergi dan sebagiannya lagi kembali fokus pada makanannya.


"Pak, singkirkan tangan anda secepatnya sebelum saya padahal." ucap Amara


Melihat Fauzan sangat menikmati makanannya membuat Amara heran, tak sesuai dengan ekspektasinya. Amara tadinya berharap Fauzan yang seorang anak sultan dan pewaris sebuah perusahaan besar akan menolak makanan yang ia pesan namun yang terjadi malah sebaliknya.


"Jangan menatapku seperti itu, dimanapun kita makan akan terasa nikmat jika disyukuri. " ucap Fauzan tersenyum lebar


"Anda gak apa-apa makan ditempat seperti ini ? kalau saya memang sudah terbiasa." balas Amara apa adanya.


"Jika calon istriku bisa, kenapa aku gak bisa ??" balas Fauzan tenang.


"Calon istri ?? maksud bapak ??" Amara bingung dengan ucapan Fauzan yang gak nyangka menurutnya.


"Sudahlah, ayo antar aku pulang ,,, makanan sudah habis dan waktu istirahat selesai." ucap Fauzan berjalan terlebih dahulu.


Dengan wajah datar khas Amara mengikuti langkah kaki Fauzan, ia menatap punggung tegap pria itu. Ia tersenyum dengan pikirannya yang lucu menurutnya ( othor gak tau lho apa yang dipikirkan Amara. SUMPAH .)

__ADS_1


" Jangan berjalan di belakangku karena kamu cocoknya jadi pendamping aku. " Fauzan menghentikan langkahnya menunggu Amara


"Ck, anda salah alamat karena aku bukan gadis yang mudah terlena dengan kata-kata rayuan tak berguna itu. " sinis Amara mempercepat langkahnya menuju mobil kemudian segera masuk ke dalam mobil.


Amara melajukan mobilnya menuju perusahaan PT Dwi_Zan tanpa bertanya, ia harus segera mengembalikan pria ini ke kantornya, pekerjaannya banyak yang tertunda gara-gara pria ini.


"Maaf, aku langsung pulang ke rumah aja sebentar lagi jam pulang kantor lagian ada asistenku yang menghandle semuanya hari ini. " ucap Fauzan enteng.


" Saya berasa jadi sopir online hari ini. " balas Amara dengan mendengus kasar.


"Hehehe ,,, kapan lagi ada kesempatan di sopiri oleh direktur utama PT. Jewellery Design. " ucap Fauzan terkikik geli.


"Jangan terlalu banyak tawa jika sedang bersamaku pak karena biasanya pria yang seperti itu berujung di rumah sakit. " balas Amara kesal mendengar cekikikan Fauzan.


Mendengar ucapan Amara membuat Fauzan penasaran sosok wanita cantik itu. Sekilas terlihat seperti gadis-gadis pada umumnya, cantik, feminim namun sorot matanya yang tajam justrsemakin menarik Fauzan untuk mengenalnya lebih dekat.


"Jangan berpikir kejadian hari ini akan kembali terulang." ucap Amara melirik Fauzan yang tampak seperti memikirkan sesuatu.


Fauzan tak menanggapi ucapan Amara, ia mengalihkan pembicaraan dengan memberikan aba-aba jalan yang harus Amara lewati hingga tak lama kemudian mobil Amara tiba di depan sebuah rumah besar nan mewah tak jauh berbeda dengan rumah utama keluarganya.


"Mampir dulu, yuk ,,," tawar Fauzan serius


"Gak usah, terima kasih. Saya lanjut ke kantor. " balas Amara cuek


"Ya sudah, lain kali aja kalau begitu. " ucap Fauzan masih dengan wajah serius


"Maaf pak, sepertinya gak akan ada kata lain kali. " balas Amara kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Fauzan yang terus menatap hingga mobil Amara menghilang dari pandangannya.


'Lain kali itu pasti ada. ' batin Fauzan.


🎶🎶🎶


Selamat pagi readers

__ADS_1


Jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMEN ya


__ADS_2