RUSUK SANG BILLIONAIRE

RUSUK SANG BILLIONAIRE
PART 122


__ADS_3

Waktu terus bergulir tanpa ada yang bisa menghentikannya, hubungan antara Amara dan Fauzan pun semakin baik. Setiap hari keduanya selalu memanfaatkan makan siang bersama.


Hari ini Amara mengunjungi Fauzan kebetulan meetingnya baru saja selesai, om Satria dan mbak Fara pulang ke kantor.


"Selamat siang mbak Lena ,,," sapa Amara pada resepsionis cantik perusahaan PT. Dwi_Zan


"Selamat siang, nona ,,," balas Lena ramah sambil mengangkat telepon ingin memberitahukan kedatangan Amara.


"Gak usah beritahu Delia, mbak ,,," cegah Amara.


Lena menghentikan tangannya mengerti. Amara pun melenggang memasuki lift khusus tamu perusahaan. Jika tidak bersama Fauzan ia tak menggunakan lift khusus pemilik perusahaan.


ting


Lift berhenti pada lantai 10 dimana ruangan CEO berada, dengan langkah anggun Amara keluar dari lift menuju ruangan Fauzan. Bertepatan saat Delia keluar dari ruangan Fauzan.


Tak ada ucapan selamat datang oleh Delia sebagai basa basi pada Amara sebagai tamu bosnya, Amara pun seolah tak melihat keberadaan Delia.


"Tidak sopan. " gumam Delia namun masih terdengar oleh telinga Amara.


"Kamu hanya sekretaris. " balas Amara menghentikan langkahnya dan menatap datar Delia.


"Posisiku di perusahaan ini jelas, sedangkan kamu wanita yang tak punya malu selalu mendatangi bos kami dan mengajaknya makan siang, apa itu salah satu cara menggoda pak bos ?!" Delia tersenyum mengejek


Sungguh kali ini Amara sudah tak dapat lagi menahan emosinya, bukan kali pertama Delia berkata kasar dan tak sopan seperti itu. Selama ini ia diam karena masih menghargai Delia sebagai sekretaris kekasihnya tapi kali ini kata-kata Delia sudah keterlaluan dan melukai harga dirinya. Ia datang menemui Fauzan karena mereka sudah menyepakati bahwa siapapun yang memiliki waktu luang maka harus mengunjungi yang sibuk, itulah salah satu kiat agar hubungan mereka tetap berjalan dan tak terhalang dengan kesibukan masing-masing.


Wajah Amara memerah mendengar ucapan Delia yang merendahkan dirinya, ia berjalan menghampiri wanita dengan pakaian kekurangan bahan itu dan dengan berikan kilat salam lima jari telah meninggalkan bekas pada pipi Delia disertai teriakan kesakitan. Suasana lantai 10 yang sunyi membuat suara Delia terdengar nyaring hingga sampai di telinga Fauzan.


"Ara !! apa yang kamu lakukan !!" teriak Fauzan melihat Amara berdiri di depan Delia yang menangis sambil memegang pipinya.


"Aku hanya memberikan sedikit pelajaran pada sekretarismu agar sedikit menghargai orang. " balas Amara dingin.


"Apa yang sebenarnya terjadi ??!!" tanya Fauzan menatap Delia dan Amara bergantian.


"Tanyakan padanya." balas Amara masih dengan wajah memerah.

__ADS_1


Fauzan menarik Amara masuk kedalam ruangannya kemudian kembali keluar menginterogasi Delia. Ia tak mungkin bertanya pada kekasihnya jika gadis itu dalam keadaan marah.


Setelah mendengar penjelasan Delia, ia kembali menemui Amara setelah terlebih dahulu menyuruh Delia membawakan minuman ke ruangannya. Fauzan bermaksud ingin mendapatkan keduanya.


"Sayang, tak seharusnya kamu menambah Delia sekeras itu. " ucap Fauzan pelan takut Amara tersinggung.


"Aku bukan orang gila yang suka menampar orang sembarangan, kak." balas Amara menahan kesalnya. Ia tak menyangka Fauzan akan menyalahkannya.


tok


tok


tok


Pembicaraan mereka terhenti saat pintu diketuk dari luar bersamaan dengan munculnya Delia membawa nampan yang berisi dua cangkir minuman. Amara menatap tangan Delia yang gemetar membuat kewaspadaannya meningkat. Alisnya mengernyit tak sengaja melihat sedikit serbuk putih pada piring cangkir yang diletakkan di depannya.


"Tunggu Delia !" Amara menghentikan langkah Delia dengan suara sedikit keras.


"Apalagi Yang ,,," ucap Fauzan kaget.


"Yang, jangan asal menuduh, gak mungkin Delia melakukan hal itu. " ucap Fauzan lembut


"Kakak jangan terlalu polos sehingga mudah ditipu olehnya. " balas Amara tak lagi menahan kekesalannya.


"Sa ,,, saya tidak mencampurkan apapun, nona. " ucap Delia menghindari kontak mata dengan Amara.


"Ok, aku akan percaya jika kamu mau meminumnya." balas Amara masih dengan tatapan tajamnya.


Amara bukan gadis seperti pada umumnya seorang gadis, ia memiliki berbagai macam keahlian diusianya yang masih sangat muda. Papi dan papanya mendidiknya untuk menjadi wanita tangguh dengan insting yang tak diragukan lagi karena itu ia langsung bisa menebak dengan jitu perbuatan seseorang hanya dengan bahas tubuhnya.


"Delia, keluar kamu !" perintah Fauzan karena melihat Delia pucat pasi dan berkeringat.


Tanpa mendengar perintah kedua kalinya Delia segera berlari mencapai pintu, ia tak mungkin meminumnya sementara itu untuk Amara. Delia teramat sangat membenci Amara.


"Yang, jangan terlalu menekan sekretarisku, kasihan dia. " ucap Fauzan pindah ke tempat duduk di samping Amara.

__ADS_1


"Cari sekretaris baru, kak ,,, dia menyukaimu dan tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti dia akan menjebakmu. " balas Amara dengan wajah serius.


"Gak mungkin, Yang. Itu hanya perasaanmu saja. " Fauzan selalu berpikiran positif pada semua orang.


"Kakak jangan terlalu polos jika berada dalam dunia bisnis karena itu akan merugikan diri sendiri dn perusahaan. " ucap Amara.


"Gak usah dibahas, ayo minum. " Fauzan mengangkat cangkir dan memberikannya pada Amara.


"Aku gak akan meminumnya. " tolak Amara kasar.


"Yang, jangan seperti ini dong. Hargai itikad baik Delia. " bujukan Fauzan justru membangkitkan emosi Amara.


"Kenapa kakak selalu membela Delia sih. Aku ingin detik ininjuga pecat Delia jika tidak maka jangan harap aku akan menginjakkan kaki di kantor ini lagi !!" sarkas Amara berdiri dan keluar dari ruangan Fauzan.


Melihat emosi Amara keluar dari ruangannya membuat Fauzan terdiam tak tahu harus melakukan apa, sejak mereka resmi sebagai pasangan kekasih baru kali ini Amara murka seperti itu. Fauzan membiarkan Amara pergi agar suasana hati kekasihnya itu membaik setelah beberapa waktu ia akan menemuinya dan meminta maaf padanya.


Sementara Delia menyungging senyum kemenangan melihat Amara keluar dari ruangan Fauzan dengan tergesa-gesa dan wajah memerah.


🎶🎶🎶🎶


Fauzan : thor, kamu kok bikin aku sama Amara seperti itu sih ,,,


Othor : biar readers gak monoton bacanya


Fauzan : tapi gak gitu juga kali, kan akunya yang menderita


Othor : 🤣🤣🤣🤣 hanya bisa ketawa jahat


Selamat pagi readers


Sisa beberapa hari lebaran, semoga puasa kalian lancar ya hingga akhir Ramadhan


Jangan lupa VOTE, LIKE dan KOMEN ya


Terima kasih dukungannya hingga hari ini dan seterusnya

__ADS_1


Love you all


__ADS_2