
Kini Olivia telah berada di ruangan pak Saenal kepala HRD. Sang kepala HRD hanya bisa menarik napas panjang dan memijit kepalanya. Bukan lalu ia memecat Bella karena berani menghina menantu baru direktur utama yang sekaligus pemilik perusahaan dan sekarang Olivia yang ia kenal sangat berdedikasi tinggi saat dicanangkan perusahaan.
"Ada apa denganmu, Olivia ,,, mengapa kamu tiba-tiba berubah seperti itu ?? om sangat kecewa." Pak Saenal,dan menatap lurus ke arah ponakannya.
"Wanita itu memancing emosiku om, dia tidak menghormatiku sebagai manajer. Menghilang dan datang ke kantor seenaknya, istirahatpun begitu. " Olivia berusaha membela dirinya. Ia tak ingin pamannya kecewa padanya.
"Hanya ada dua pilihan nak, kamu kembali ke cabang atau di pecat." ucap pak Saenal tegas.
"Om tolong jangan lakukan ini padaku ,,," rengek Olivia. Ia sangat mengenal pamannya yang tak akan tega mendengar rengekannya.
"Kali ini aku tak bisa membantumu, Olivia. Paman sudah berusaha membantumu dengan menarikmu ke pusat tapi kamu menggali lubang sendiri. "
"Lebih baik aku jadi karyawan biasa daripada harus kembali ke cabang, paman." tekad Olivia. Ia tak ingin dipermalukan dengan kembali ke cabang. Akan ditaruh dimana wajahnya jika harus menghadapi mereka mending jika dirinya ditugaskan di cabang lain.
Olivia sangat angkuh dan sombong saat berhasil pindah ke kantor pusat dan menganggap remeh rekan-rekannya di kantor cabang. Suatu pencapaian besar bagi mereka jika kantor pusat menjadikannya karyawan apalagi sebagai manajer yang merupakan sebuah posisi bergengsi.
__ADS_1
Namun nasib berkata lain Olivia kebablasan. Ia ingin menunjukkan kuasanya akan tetapi justru ia terpuruk sendiri.
"Baiklah, om akan meminta pertimbangan pada pak Arya. " ucap pak Saenal pada akhirnya. Olivia bersorak dalam hati mendengar ucapan pamannya.
Sementara itu di ruang kerja Kiano sedang di omeli oleh Chelsea karena menarik seenaknya dan Kiano tak ambil pusing bahkan ia bekerja seolah okelah Chelsea adalah sebuah lagu yang ditangkap oleh ruang dengarnya.
"Mas dengar gak sih ,,," kesal Chelsea tak melihat reaksi suaminya.
"Dengar honey, tapi aku harus ngomong apa nanti salah lagi. " balas Kiano sekenanya.
"Daripada kamu ngomel terus lebih baik kerjakan skripsimu supaya secepatnya bisa diwisuda dan kita memiliki anak yang lucu-lucu. " ucap Kiano dengan wajah serius.
Jantung Chelsea saat ini seperti akan melompat keluar dari tempatnya, wajahnya memucat bukan karena ucapan Kiano yang ingin agar ia segera diwisuda akan tetapi suaminya itu ternyata sangat menginginkan anak. Bagaimana jika ia tak busa hamil karena terus-terusan meminum pil penundaan kehamilan ?? Chelsea bukannya tak ingin memiliki anak hanya saja masih banyak impian yang harus ia wujudkan.
"Kamu kenapa honey ?? wajahmu pucat. " tanya Kiano khawatir.
__ADS_1
"Eh ,,, e ,,, anu ,,, enggak kok mas mungkin kurang tidur aja." jawab Chelsea gugup
"Mas tahu kamu belum siap punya anak tapi gak ada salahnya kan jika kota merencanakannya. Kita tidak selalu muda, ada saatnya nanti kita membutuhkan anak-anak sebagai penerus dan agar ada yang mendoakan kita kelak." ucap Kiano dengan tatapan lembut seraya menghampiri Chelsea
"Maafkan aku mas. " Chelsea memeluk Kiano dengan rasa bersalah.
"Hei ,,, kenapa harus minta maaf ?? mas mengerti dan akan menunggu hingga kamu siap tapi mas mohon jangan pernah mengkonsumsi pil apapun yang nantinya akan membahayakanmu. " ucap Kiano membalas pelukan istrinya.
Perlahan airmata Chelsea membasahi pipinya disertai isak tangis yang tertahan awalnya pelan dan lama kelamaan menjadi sebuah tangisan.
Kiano bingung melihat keadaan Chelsea namun otak cerdasnya segera berpikir dan menghubungkan dengan pembahasan mereka. Kiano mendelik tajam menyadari kata-kata terakhirnya sehingga wanita cantik itu menangis.
'Semoga saja dugaanku meleset.' batin Kiano bertekad akan memperjelas dugaannya.
🎶🎶🎶🎶
__ADS_1
Selamat pagi dunia halu ,,,,
Salam manis dari othor yang tak bisa update setiap hari