
Saat makan malam seperti biasa dirumah pak Kiyai, mereka duduk di lantai dengan berbagai hidangan sederhana namun mengundang selera. Bukan lagi hal baru bagi mereka berempat karena setiap minggu mereka makan seperti ini. Sementara pria muda yang tadi bertemu kini tak menampakkan batang hidungnya.
"Bu, kakak yang tadi kemana ??" tanya Anggita mewakili Amara yang juga ingin menanyakan hal yang sama.
"Ooo ,,, nak Fauzan ? dia hanya berkunjung sebelum sibuk dengan kegiatannya. Nak Fauzan beberapa hari yang lalu kembali ke tanah air. " jawab bu Marwa
"Bicaranya nanti aja, sekarang kita makan dulu kasihan kan makanannya keburu dingin. " suara pak Kiyai yang beribadah namun menenangkan menghentikan pembicaraan mereka.
Mereka kemudian bersantap bersama tanpa ada yang bersuara, rasanya berbeda ketika mereka berempat makan di rumah. Makan dengan menggunakan tangan membuat mereka makan dengan lahap. Hingga mereka menuntaskan makan malamnya di tandai dengan meminum air putih sebagai penutup. Setelah itu seorang gadis mengangkat piring kotor bekas makan mereka. Amara dan Anggita ikut membantunya.
"Gak usah dibantu nona. " ucap Rani yang juga seorang santri
"Jangan panggil kami nona, disini kami juga santri walaupun hanya setiap minggu. " balas Amara tak menghentikan kegiatannya.
Amara dan Anggita memilih menikmati malam ditemani sinar bulan setelah urusan membersihkan piring kotor di dapur. Sedangkan Rani telah kembali ke kamarnya yang tak jauh dari rumah pak Kiyai.
"Kakak belum punya pacar, ya ?" tanya Anggita tiba-tiba.
__ADS_1
"Belum, memangnya kenapa ?" jawab Amara sekaligus bertanya pada Anggita yang tak ada angin dan tak ada hujan tiba-tiba bertanya hal yang tak pernah Amara pikirkan.
"Gak kenapa-kenapa hanya saja Anggi heran, kakak cantik dan cerdas, kaya pula tapi kok masih jomblo aja. " balas Anggita sesuai fakta.
"Belum ada yang cocok. " ucap Amara sekenanya sambil menatap bintang dilangit.
"Kaaakkk ,,, ucapkan doa dalam hati ada bintang jatuh. " teriak Anggita saat melihat bintang jatuh
"Ck, kamu terlalu percaya tahyul. " balas Amara walau sebenarnya ia pun sesaat menutup mata dan berdoa.
"Bukan gitu kak, tapi apa salahnya kita mempercayai sesuatu yang mendatangkan kebaikan apalagi tidak merugikan orang lain juga. " ucap Anggita sok dewasa.
Malam semakin larut, angin pun semakin kencang membawa hawa dingin yang menggigit hingga ke tulang-tulang. Amara mengeratkan pelukannya pada diri sendiri sambil meniup telapak tangannya agar terasa hangat. Udara pesantren memang akan terasa sangat dingin jika makam hari karena terletak di kaki bukit.
"Masuk yuk, kak ,,," ajak Anggita dengan bibir bergetar kedinginan.
"Masuk aja duluan, kakak masih ingin menikmati indahnya sinar bulan. " ucap Amara tak bergeming dari tempat dimana ia duduk sambil menatap bulan purnama.
__ADS_1
"Kalau ada pacar sih, enak duduk dengan romantis dibawah sinar bulan. "celetuk Anggita.
Pletak
"Sekolah yang bener, jangan buru-buru mikirin pacar. " ucap Amara setengah menjitak pelan kepala Anggita.
"Jangan kepala dong, kak ,,, gimana kalau tiba-tiba otakku jadi lemot kan kasihan papa sama mama yang sudah mewariskan harta karunnya. " balas Anggita mengelus kepalanya.
"Lebay ,,, " ledek Amara.
Saat mereka asyik bercanda, kedua saudara mereka yang lainnya ikut bergabung menikmati indahnya bulan purnama, seolah melupakan tujuan utama mereka berkunjung ke pesantren Ulul Albab. Keindahan alam pesantren pak Kiyai Mustofa memang memanjakan mata didalam hari dengam suara-suara bintang malam yang semakin ramai seiring dengan malam yang semakin mencekam. Sungguh suasana yang tak mereka temui di kota.
🎶🎶🎶🎶🎶
Selamat pagi readers.
Selamat menunaikan ibadah puasa ke 2 semoga kita selalu dalam kondisi fit
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya
Salam hangat dari dunia halu