RUSUK SANG BILLIONAIRE

RUSUK SANG BILLIONAIRE
PART 116


__ADS_3

Sejak kepulangan Queen dan Arya, rumah utama kembali ramai oleh anak, cucu dan menantunya walaupun cucu yang ada saat ini hanya Amara dan Kiran namun tak mengurangi kehangatan keluarga mereka.


"Batalkan semua acara weekend kalian, pak Santoso dan istrinya mengundang kita secara pribadi untuk menghadiri peresmian butiknya. " ucap Queen tak ingin dibantah


"Tapi oma, aku janjian sama Kiyai Mustofa untuk mengunjungi pesantrennya." Amara mencoba beralasan karena tak ingin bertemu dengan Fauzan.


"Oma yang akan bicara sama pak Kiyai. " tandas Queen tak menerima alasan.


"Tapi oma, aku gak suka datang ke acara seperti itu, hanya buang-buang waktu aja. Mending ke pesantren belajar lagian sudah lama juga gak ke pesantren. " Amara masih berusaha menolak ajakan sang oma tercinta yang terkadang judes.


"Sayang, mereka mengundang kita sekeluarga alangkah tidak baiknya jika salah satu diantara kita tidak datang, kita terkesan tidak menghargai mereka. " bujuk Queen lembut.


Amara terdiam mendengar kata-kata omanya yang memang benar adanya, selama ini kedua perusahaan mereka terlibat dalam kerjasama dan yang menjadi bintang tamu adalah Kiran jadi wajar jika Nyonya Shinta mengundang mereka secara pribadi akan tetapi haruskah dirinya ikut padahal ia tak begitu tertarik dengan dunia fashion ?


"Tapi oma ,,,"


"Kali ini oma gak terima alasan apapun." Queen memotong ucapan Amara


"Terserah oma sajalah. " balas Amara pasrah.


Tak ada lagi pembahasan mengenai undangan Nyonya Shinta. Amara pun hanya diam sibuk dengan ponselnya entah apa yang menarik perhatiannya sehingga tak lagi ikut terlibat dalam pembicaraan keluarganya.


🌺🌺🌺


Sementara ditempat lain, Fauzan nampak berpikir keras hingga tak fokus saat adiknya dan kedua orang tuanya berbicara. Yah, Ferdy yang baru saja memasuki rumah kedua orang tuanya sedang melepas kangen setelah beberapa tahun tak pernah pulang.

__ADS_1


"Kak ,,, kakak ,,," Ferdy menyentuh lengan Fauzan sedikit keras hingga mengagetkan sang kakak.


"Astaga Fer ,,, bisa gak sih pelan-pelan aja, kakak kan jadi kaget. " ucap Fauzan kesal


"Kakak mikir apa sih, sejak tadi aku ajak bicara tapi di cuekin. Aku kan kangen sama kakak." balas Ferdy tak kalah kesalnya karena merasa diabaikan oleh kakak satu-satunya yang ia miliki.


"Kakakmu sedang jatuh cinta. " bisik Shinta namun masih terdengar di telinga Fauzan.


"Oh ya ? wah sebuah kemajuan nih, tapi ngomong-ngomong siapa wanita itu ? bukannya kakak gak mau pacaran ?" selidik Ferdy sedikit bingung dengan ucapan mamanya.


Ferdy sangat mengenal kakaknya yang sejak kecil belajar di pesantren hingga ke Yaman hanya untuk belajar ilmu agama agar dalam memimpin perusahaan ia memiliki pegangan yang kuat mengingat persaingan bisnis yang sangat kejam hingga mereka bisa menghalalkan segala macam cara. Fauzan dan Ferdy sangat berbeda dalam segala hal walaupun terlahir dari rahim yang sama. Fauzan memiliki pribadi yang pendiam dan tenang mungkin karena sejak kecil ia belajar di pesantren sedangkan Ferdy memiliki pribadi yang lebih terbuka dan easy going.


"Siapa yang bilang kakak mau pacaran ? kakak gak seperti kamu senangnya mengobral cinta. " ucap Fauzan tersenyum tipis


"Dasar kamu, dek ,,, suka membenarkan sendiri kelakuanmu." ucap Fauzan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Shinta dan pak Santoso yang melihat kedua putranya berdebat dengan pemikiran yang berbeda hanya busa tersenyum, mereka memaklumi kedua pria muda itu yang memang selalu berbeda pendapat namun mereka tetap saling menyayangi satu sama lain.


"Gadis yang mana sih yang berhasil menarik perhatian pak ustadz Fauzan ?" Ferdy mulai menggoda kakaknya


"Kakak juga pria normal yang memiliki rasa cinta hanya saja cinta kakak tak sebanyak cintamu sehingga bisa dibagi-bagi pada banyak gadis. " balas Fauzan meledek adik kesayangannya.


"Sedekah kali dibagi-bagi. " ucap Ferdy tertawa lucu mendengar ucapan Fauzan


"Bener kata kakakmu, nak ,,, seriuslah dalam menjalin hubungan ingat umurmu semakin bertambah dan kamipun semakin menua. " timpal mama Shinta yang sejak tadi hanya diam menikmati perdebatan anak-anaknya.

__ADS_1


"Nantilah ma, aku belum tertarik untuk membuat komitmen yang lebih serius. " balas Ferdy.


"Atau kami jodohkan dengan Kiran." ucap Shinta antusias


"Kiran ??!!! gadis mana lagi tuh." Ferdy tak suka jika mamanya mulai menjodoh-jodohkan dirinya.


"Kiran Tarisha yang model Internasional itu, kebetulan mama mengontraknya sebagai binatang tamu peresmian butik mama dan mengundang secara pribadi seluruh anggota keluarganya. "


"NO ma, aku gak tertarik dengan wanita yang berkarier di dunia model, lagipula Kiran itu kekasih sahabatku dan kampung kenal baik. Mau ditaruh dimana wajah tampanku jika kekasih sahabat sendiri diembat. Macam gak ada gadis lain aja. Lagipula ma, aku berkeinginan kelak istriku wanita yang cerdas agar anak-anak kami juga cerdas, memperbaiki keturunan, ma ,,,," balas Ferdy panjang lebar dan terkekeh diakhir kalimatnya.


"Wah, kalian ternyata memiliki keinginan yang sama. Kakakmu juga sedang jatuh cinta pada seorang gadis yang sangat cerdas. " timpal pak Santoso tersenyum.


"Mama peringatkan ya, jangan pernah mencintai gadis yang sama !!" tegas Shinta sedikit khawatir mengingat Ferdy yang memiliki keahlian lebih dalam mendekati gadis-gadis.


"Astaga mama, ketemu sama gadis yang kakak suka pun belum pernah. " balas Ferdy gemes spada wanita satu-satunya dalam keluarga.


Setelah merasa cukup berbincang-bincang dengan asik dan kedua orang tuanya, seperti biasa Fauzan langsung berdiri dan berjalan kearah kamarnya yang terhubung dengan ruang kerjanya. Jika sudah berada dalam kamarnya hingga berjam-jam Fauzan tak akan menampakkan batang hidungnya karena lebih memilih untuk menghabiskan waktu di ruang kerjanya agar di kantor ia bisa sedikit bersantai.


🎶🎶🎶🎶


Selamat pagi readers setia


Terima kasih atas dukungannya selama ini


Salam hangat dari othor

__ADS_1


__ADS_2